Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ISRAEL telah meluncurkan serangan di Gaza, Palestina, yang meluas hingga wilayah Libanon. Ratusan warga Israel telah meninggalkan desa-desa dan kibbutzim di dekat perbatasan dengan Libanon menyusul baku tembak lintas perbatasan.
Meskipun ribuan orang telah tewas di Israel selatan dan Jalur Gaza sejak Sabtu (7/10), kekerasan di wilayah utara Israel juga telah memakan korban jiwa, dua dari Israel dan 11 di Libanon.
Ketegangan membara di wilayah utara Israel menyusul serangkaian pertempuran kecil, serangan roket, dan peningkatan kekuatan militer yang memberikan bayangan gelap bahkan ketika sebagian besar perhatian negara itu tetap terfokus pada Gaza.
Baca juga: Hizbullah Tembaki Posisi Israel yang Duduki Daerah Sengketa
Barisan tank, pengangkut personel lapis baja, dan barisan mobil yang dikemudikan oleh pasukan cadangan berjajar di jalan melintasi perbatasan utara yang berbukit-bukit. Ketika kecemasan meningkat, masyarakat di sepanjang perbatasan utara Israel dengan Libanon dievakuasi pada Senin (16/10).
Tentara Israel mengumumkan implementasi rencana untuk mengevakuasi penduduk Israel utara yang tinggal di daerah hingga dua kilometer dari perbatasan Libanon ke wisma negara.
Kawasan perbatasan Israel-Libanon sebagian besar tetap damai sejak perang dahsyat antara Israel dan Hizbullah pada 2006.
Baca juga: Serangan Israel Tewaskan Jurnalis Reuters dan Lukai Enam Lainnya
Meningkatnya kekerasan baru-baru ini di wilayah utara, dan peringatan Israel bahwa mereka siap menyerang Gaza, telah memicu kekhawatiran akan kembali terjadinya perang habis-habisan dengan Hizbullah.
Hizbullah, yang didukung Iran, satu-satunya milisi Libanon yang tidak dilucuti senjatanya setelah perang saudara periode 1975-1990, berkomitmen menghancurkan Israel.
Penduduk kibbutz Bar'am, yang telah tinggal di sana selama beberapa dekade mengatakan kerusuhan selama bertahun-tahun terjadi secara berulang-ulang, dan mereka terbiasa melihat pos-pos dan bendera Hizbullah dari rumah mereka di sisi lain perbatasan.
Namun, beberapa orang mengatakan rasa aman mereka telah hancur setelah serangan Hamas pada Sabtu (7/10), yang merupakan serangan terburuk dalam sejarah negara tersebut.
“Kami semua trauma, kami semua takut. Saya tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi," kata warga kibbutz, Angela Yantian, 67.
Sementara tiang-tiang baja mekanis berkumpul di dekat Gaza, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan pada Minggu (15/10) bahwa negaranya "tidak tertarik pada perang di utara, kami tidak ingin memperburuk situasi".
“Jika Hizbullah memilih jalur perang, konsekuensinya akan sangat berat. Tetapi jika mereka menahan diri, kami akan menghormati situasi dan menjaga keadaan sebagaimana adanya," paparnya.
Beberapa kibbutznik mengatakan pengorbanan Israel dan perjuangan ke depan tidak sia-sia jika hal itu membawa keamanan yang lebih besar bagi Israel di masa depan.
“Setiap organisasi teror perlu tahu bahwa kami akan menangani mereka pada saat yang tepat. Jika saat yang tepat adalah sekarang, maka kita perlu melakukannya sekarang,” kata Tsachi Shaked, 51 tahun.
Konflik Israel-Palestina telah menewaskan 1.400 warga Israel dan memicu perang Gaza kelima dalam 15 tahun, yang menewaskan sedikitnya 2.750 orang di wilayah kantong tersebut. (AFP/Z-1)
PBB menegaskan rencana Israel memperluas permukiman di Dataran Tinggi Golan ilegal. Suriah upayakan kesepakatan keamanan baru terkait penarikan pasukan.
Wilayah udara Turki saat ini ditutup bagi pejabat Israel dan pesawat yang membawa senjata.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Israel dilaporkan mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke Emirat Arab untuk melindungi infrastruktur kunci dari serangan rudal dan drone Iran di Teluk.
Ia juga mengkritik pelaksanaan dua putaran pembicaraan langsung antara Libanon dan Israel yang berlangsung di Washington beberapa hari lalu.
Militer Israel (IDF) melakukan investigasi atas laporan maraknya penjarahan rumah warga dan perusakan properti sipil oleh tentaranya di Libanon Selatan.
Arab Saudi intensifkan diplomasi di Libanon melalui Perjanjian Taif untuk melucuti senjata Hizbullah di tengah goyahnya gencatan senjata Israel-Hizbullah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk menyerang target Hizbullah secara masif di Libanon meski gencatan senjata baru diperpanjang.
Ketegangan di Libanon Selatan meningkat setelah prajurit UNIFIL asal Prancis kembali gugur. Macron tuding Hizbullah, sementara Presiden Aoun sampaikan duka mendalam.
Ia menegaskan bahwa prioritas Hizbullah bukan sekadar kembali ke situasi sebelumnya, tetapi memastikan penarikan pasukan Israel serta kembalinya warga Libanon ke desa-desa mereka.
Kabinet Netanyahu bergejolak setelah pengumuman gencatan senjata 10 hari di Libanon oleh Donald Trump tanpa melalui proses pemungutan suara resmi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved