Tiongkok Hentikan Impor Produk Pertanian AS

Tesa Oktiana Surbakti
06/8/2019 14:28
Tiongkok Hentikan Impor Produk Pertanian AS
Petani tengah mengolah lahannya di Tulare, California, Amerika Serikat. Tiongkok akan menghentikan impor produk pertanian dari AS.(AS/MARK RALSTON )

Sejumlah Perusahaan Tiongkok menghentikan untuk membeli produk pertanian Amerika Serikat (AS). Langkah yang memukul sektor pertanian 'Negeri Paman Sam' tersebut diumumkan Kementerian Perdagangan Tiongkok pada Selasa (6/8).

Para petani AS mengalami penurunan ekspor tajam akibat perang dagang, yang berlangsung dalam setahun terakhir. Tiongkok juga memberlakukan tarif tambahan pada komoditas pertanian AS. Tindakan itu turut menargetkan masa depan negara-negara pertanian yang mendukung Presiden AS, Donald Trump, dalam pemilihan umum (pemilu) 2016 lalu.

Pada Kamis (1/8), Trump menyatakan Tiongkok belum memenuhi komitmen pembelian sejumlah produk pertanian AS. Dia pun menjatuhkan tarif baru terhadap komoditas Tiongkok senilai US$ 300 miliar. Langkah Trump meredupkan prospek kesepakatan perdagangan.

Tiongkok, Senin (5/8), terpantau membiarkan nilai tukar yuan melemah hingga level 7 per dolar AS, untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir. Pemerintah AS merespons dengan menyebut Tiongkok sebagai manipulator mata uang.

Presiden Federasi Biro Pertanian AS, Zippy Duvall, menilai kebijakan Tiongkok menjadi pukulan besar bagi ribuan petani dan peternak AS, yang berjuang bertahan hidup.

Tarif yang dikenakan Tiongkok terhadap komoditas kedelai AS, menurunkan ekspor pertanian yang berkontribusi pada ekonomi domestik. Kebijakan itu memaksa pemerintahan Trump untuk memberikan kompensasi kepada petani selama dua tahun, dengan anggaran tambahan sebesar US$ 28 miliar.

Tiongkok mengimpor produk pertanian AS senilai US$ 9,1 miliar pada 2018. Khususnya, kedelai, susu, sorgum dan daging babi. Namun, capaian itu lebih rendah dibandingkan periode 2017 sebesar US$ 19,5 miliar.

Dalam pesan elektronik, Dewan Produsen Daging Babi Nasional AS menyatakan urgensi untuk mengakhiri perang dagang. Produsen daging babi dapat meningkatkan penjualan mereka.

Wabah demam babi Afrika yang menyebar ke Tiongkok, menyebabkan kematian jutaan ekor babi. Eksportir daging AS berharap meraih keuntungan dari peristiwa tersebut, dengan mengekspor lebih banyak daging babi ke 'Negeri Tirai Bambu'. Akan tetapi, pemberlakukan tarif pembalasan dari Tiongkok sebesar 63%, menghambat penjualan dari AS.

Kementerian Perdagangan Tiongkok berhadap otoritas AS segera menepati janji, sekaligus membuat syarat yang tepat dalam kerja sama bilateral.

Sebelumnya, stasiun lokal Tiongkok, CCTV, melaporkan seorang pejabat Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) Tiongkok menepis tuduhan Trump, yang dianggap tidak berdasar. Tiongkok disebut tidak membeli komoditas pertanian AS sesuai perjanjian volume.(AFP/OL-09)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Deri Dahuri
Berita Lainnya