Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RAHASIA hidup lebih lama mungkin bukan terletak pada seberapa lama Anda berlari di atas treadmill, melainkan pada seberapa beragam aktivitas fisik yang Anda lakukan. Sebuah penelitian jangka panjang yang melacak lebih dari 100.000 orang selama tiga dekade menunjukkan melakukan berbagai jenis aktivitas fisik secara signifikan menurunkan risiko kematian dibandingkan hanya berfokus pada satu jenis latihan saja.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Medicine ini mengungkapkan hubungan antara olahraga dan umur panjang tidak sesederhana "lebih banyak lebih baik". Manfaat kesehatan justru cenderung stabil setelah mencapai titik tertentu, yang mengindikasikan adanya "titik optimal" dalam beraktivitas.
Para peneliti menganalisis data dari dua studi besar: Nurses' Health Study (121.700 partisipan perempuan) dan Health Professionals Follow-Up Study (51.529 partisipan laki-laki). Selama lebih dari 30 tahun, gaya hidup dan kebiasaan olahraga mereka dipantau secara ketat melalui kuesioner setiap dua tahun.
Aktivitas yang dilaporkan sangat beragam, mulai dari jalan kaki, lari, bersepeda, berenang, hingga latihan beban, yoga, dan aktivitas luar ruangan seperti berkebun atau memotong rumput.
Temuan paling menarik dari studi ini adalah pengaruh dari variasi aktivitas. Setelah memperhitungkan total volume olahraga, partisipan yang melakukan jenis aktivitas paling beragam memiliki risiko kematian 19% lebih rendah dari semua penyebab.
Selain itu, variasi olahraga juga dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyakit pernapasan sebesar 13% hingga 41% dibandingkan mereka yang hanya melakukan sedikit jenis aktivitas.
Beberapa aktivitas spesifik menunjukkan penurunan risiko yang bervariasi:
Penelitian ini mencatat manfaat total aktivitas fisik mulai mendatar setelah mencapai sekitar 20 MET-jam mingguan (metrik pengukur penggunaan energi). Hal ini menunjukkan setelah mencapai titik tertentu, menambah durasi atau intensitas olahraga tidak lagi memberikan manfaat tambahan yang signifikan bagi umur panjang.
Partisipan dengan tingkat aktivitas tinggi umumnya memiliki profil kesehatan yang lebih baik: tidak merokok, memiliki berat badan ideal (BMI rendah), pola makan sehat, dan ikatan sosial yang kuat.
Meski memberikan data yang kuat, para peneliti memberikan catatan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak. Data aktivitas juga dilaporkan secara mandiri oleh partisipan, yang mungkin memengaruhi akurasi.
"Secara keseluruhan, data ini mendukung gagasan bahwa keterlibatan jangka panjang dalam berbagai jenis aktivitas fisik dapat membantu memperpanjang rentang hidup," simpul para peneliti dalam laporan tersebut.
Dengan kata lain, daripada hanya menambah kilometer saat berlari, cobalah sesekali menggantinya dengan berenang, berlatih yoga, atau bermain tenis untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang maksimal. (Science Daily/Z-2)
BEM UPH Medan sukses gelar Spirit Run 2026 di Urban Community Park. Ajang lari 5K ini diikuti 780 peserta sebagai wujud nyata pendidikan holistis.
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Pasar kebugaran digital Tanah Air diproyeksikan melonjak dari US$ 3,8 miliar (2025) menjadi US$ 12,7 miliar (2031).
Dalam talkshow bertema Gaya Hidup Sehat untuk Keluarga itu, Lisa menekankan pentingnya merawat keluarga dimulai dari menjaga kesehatan diri sendiri.
Ahli estetika dr. Dewita Kamaruddin memperingatkan munculnya tanda penuaan di usia 20-an akibat gaya hidup buruk. Simak tips perawatannya di sini.
Studi Johns Hopkins mengungkap posisi lengan yang tidak ditopang meja saat cek tekanan darah bisa menaikkan angka tensi hingga 7 mmHg.
Menopause meningkatkan risiko osteoporosis dan penyakit jantung pada perempuan. Pelajari cara menjaga kesehatan tulang dan jantung pasca-menopause di sini.
Teknologi AI dalam dunia medis ini mulai terintegrasi dalam berbagai metode pencitraan jantung dan membawa perubahan besar dalam cara dokter mendiagnosis serta menangani pasien.
Studi terbaru mengungkap olahraga intensitas tinggi (vigorous) jauh lebih efektif cegah demensia hingga diabetes dibanding olahraga biasa.
OLAHRAGA dikenal sebagai cara efektif menjaga kesehatan jantung. Namun di sisi lain, aktivitas fisik juga bisa memicu serangan jantung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved