Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERIKSAAN tekanan darah sering dianggap sebagai prosedur medis yang sederhana dan rutin. Namun, penelitian terbaru dari Johns Hopkins University mengungkap prosedur ini ternyata sangat sensitif terhadap perubahan kecil. Melencengkan posisi lengan hanya sejauh lima sentimeter saja sudah cukup untuk mendorong angka tensi ke zona berbahaya.
Dalam sebuah uji coba yang diterbitkan di jurnal JAMA Internal Medicine, tim peneliti menunjukkan pasien yang membiarkan lengannya tergantung saat diperiksa bisa mendapatkan hasil tekanan sistolik hingga 7 mmHg lebih tinggi dibandingkan mereka yang lengannya bersandar di meja.
Selisih angka ini cukup signifikan untuk mengubah status seseorang dari kategori "meningkat" menjadi "hipertensi stadium 2" yang berbahaya.
Hampir separuh orang dewasa di dunia hidup dengan hipertensi, peningkatan tekanan arteri yang membebani jantung dan pembuluh darah. Dokter sering kali hanya mengandalkan satu "potret" hasil pemeriksaan cepat untuk memutuskan apakah seorang pasien perlu mengonsumsi obat seumur hidup atau tidak.
Studi yang melibatkan 133 sukarelawan di Baltimore ini menguji tiga posisi lengan yang umum ditemukan di klinik, bersandar di meja (standar), diletakkan di pangkuan, dan dibiarkan tergantung di samping tubuh.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten:
"Jika Anda secara konsisten mengukur tekanan darah dengan lengan yang tidak ditopang, dan itu memberikan estimasi berlebih sebesar 6,5 mmHg, itu adalah potensi perbedaan antara tekanan sistolik 123 dan 130," peringat Sherry Liu, peneliti senior dalam studi ini. Dalam standar klinis, angka tersebut adalah lonjakan dari kategori "meningkat" ke "hipertensi stadium 1".
Secara teknis, penyangga setinggi meja menjaga titik tengah manset (cuff) sejajar dengan jantung. Hal ini menyeimbangkan tekanan hidrostatik di sepanjang arteri. Jika lengan diturunkan atau dibiarkan tergantung, gravitasi menuntut kekuatan yang lebih besar untuk mendorong darah ke atas, sehingga alat pencatat akan merekam tekanan ekstra.
American Heart Association (AHA) sebenarnya telah menginstruksikan petugas medis untuk mendudukkan pasien di kursi dengan sandaran punggung, kaki menapak rata di lantai, dan lengan bersandar pada permukaan kokoh yang sejajar dengan atrium kanan jantung. Namun, di klinik yang sibuk, detail kecil seperti tinggi lengan sering kali terabaikan demi kecepatan pelayanan.
Jutaan orang kini melakukan pemantauan tensi di rumah. Namun, banyak meja makan yang terlalu rendah untuk meniru standar meja klinik. Berikut beberapa tips untuk mendapatkan hasil yang akurat:
Dr. Tammy Brady, pemimpin penelitian dari Johns Hopkins University School of Medicine, menekankan bahwa akurasi posisi bukan sekadar soal kualitas data, melainkan tentang mencegah kesalahan diagnosis yang berujung pada pemberian resep obat yang tidak perlu atau kecemasan yang tidak beralasan bagi pasien. (Earth/Z-2)
Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua kondisi jantung berdebar itu berbahaya.
Meskipun gangguan metabolisme kerap terjadi pada usia lanjut, tetapi masalah metabolisme juga dapat terjadi di usia muda.
Laporan terbaru AHA mengungkap penyakit jantung masih jadi penyebab kematian tertinggi. Faktor risiko seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes terus meningkat.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
Perawat PMI Cabang Jakarta Timur, Ahmad Zulfikar, menjelaskan bahwa pemudik yang memeriksakan diri rata-rata mengeluhkan sakit kepala hebat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved