Studi Ungkap Dampak Panas Ekstrem, Lansia Paling Rentan

Ferdian Ananda Majni
21/4/2026 21:23
Studi Ungkap Dampak Panas Ekstrem, Lansia Paling Rentan
ilustrasi.(dok.MI)

CUACA panas ekstrem akibat krisis iklim kian membatasi aktivitas harian manusia, terutama lansia, dengan durasi paparan panas yang terus meningkat dan mempersempit ruang hidup yang aman di banyak wilayah dunia.

Kenaikan suhu global membuat banyak orang kesulitan melakukan aktivitas fisik sederhana seperti pekerjaan rumah tangga atau naik tangga pada siang hari.

Dampak ini dinilai jauh lebih serius bagi kelompok lanjut usia. Lansia memiliki kemampuan berkeringat yang menurun, sehingga tubuh mereka lebih sulit mengatur suhu saat terpapar panas ekstrem.

Penelitian ini merupakan studi komprehensif yang menggabungkan data fisiologis terkait ambang batas panas dengan data populasi serta perkembangan iklim global dan regional selama sekitar tujuh dekade terakhir. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam durasi paparan panas ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Laporan tersebut mencatat bahwa rata-rata lansia berusia di atas 65 tahun kini menghadapi sekitar 900 jam panas ekstrem setiap tahun yang membatasi aktivitas luar ruangan. Angka ini meningkat dari sekitar 600 jam pada 1950, setara dengan hilangnya lebih dari 30 hari waktu siang dalam setahun.

Studi juga menyoroti ketimpangan global, di mana negara-negara berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak, meskipun kontribusi mereka terhadap krisis iklim relatif kecil dibandingkan negara maju.

Di kawasan tropis dan subtropis, panas ekstrem bahkan dapat membatasi aktivitas lansia di luar ruangan hingga seperempat hingga sepertiga waktu dalam setahun.

Wilayah dengan tantangan terbesar meliputi Asia Barat Daya, Asia Selatan, dan sebagian Afrika Barat. Tingkat dampak bervariasi tergantung kondisi geografis, tingkat pendapatan, serta jenis pekerjaan.

Di beberapa negara kaya di kawasan Teluk, penggunaan pendingin udara membantu mengurangi risiko, sementara pekerja migran berpenghasilan rendah tetap terpapar panas tinggi, terutama di sektor luar ruangan.

Studi yang dipimpin oleh The Nature Conservancy dan diterbitkan dalam jurnal Environmental Research ini juga menganalisis kemampuan manusia beradaptasi terhadap panas dari sisi sosial dan fisiologis.

Para peneliti menggunakan satuan Metabolic Equivalent (MET) untuk mengukur tingkat aktivitas yang masih aman dilakukan pada berbagai kondisi suhu.

Aktivitas ringan hingga sedang, seperti menyapu atau berjalan santai, masih dinilai aman bagi individu di bawah 65 tahun. Namun dalam kondisi panas ekstrem, aktivitas manusia bisa terbatas pada tingkat sangat rendah, seperti duduk atau berbaring.

Untuk menilai kerentanan berbagai kelompok usia, peneliti mengukur produksi keringat dan kelembapan kulit individu dalam kondisi panas terkontrol. Hasil perbandingan antara periode 1950-1979 dan 1995-2024 menunjukkan bahwa wilayah dengan kondisi panas yang membatasi kelayakan hidup terus meluas, dengan dampak paling parah tercatat pada 2024.

Penulis utama studi, Luke Parsons, menekankan bahwa kondisi ini membutuhkan respons segera. "Ratusan juta orang tidak lagi dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan aman di luar ruangan selama periode terpanas dalam setahun," ujarnya dilansir The Guardian, Selasa (21/4).

Ia juga menyoroti ketimpangan dampak krisis iklim. "Sebagian besar dari mereka berada di negara-negara yang justru paling sedikit berkontribusi terhadap masalah ini," tambahnya.

Menurut Parsons, setiap kenaikan suhu, sekecil apa pun, akan memperluas dampak tersebut. Tahun 2024 disebut sebagai gambaran nyata dunia dengan pemanasan sekitar 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Ia menegaskan pentingnya langkah cepat, baik dalam jangka pendek maupun panjang. "Dalam jangka pendek, investasi pada sistem peringatan dini panas, infrastruktur pendinginan, serta perlindungan bagi lansia dan pekerja lapangan sangatlah mendesak," sebutnya.

"Namun, investasi lokal ini tidak bisa menggantikan kebutuhan mendasar untuk membatasi pemanasan global," pungkasnya. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya