Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Gelombang protes terhadap pendanaan industri peternakan intensif menguat secara global, dengan aksi serentak yang menyasar lembaga keuangan internasional. Koalisi Act for Farmed Animals (AFFA) bersama Stop Financing Factory Farming (S3F) menggelar aksi di 20 negara, termasuk di depan kantor World Bank di Jakarta.
Aksi ini bertujuan mendesak penghentian pendanaan peternakan intensif serta rencana peningkatan investasi hingga US$9 miliar per tahun pada 2030. Massa aksi juga menampilkan instalasi visual hewan ternak sebagai simbol dampak industri tersebut.
“World Bank tidak menjalankan praktik prinsip keberlanjutan yang melindungi planet Bumi dan makhluk hidup lainnya. Dengan memperluas dan meningkatkan investasi pada industri peternakan intensif, sama saja mendanai percepatan krisis iklim, melanggengkan penderitaan yang kejam pada hewan, hilangnya keanekaragaman hayati dan mengancam kesehatan masyarakat secara global,” ujar Elfha Shavira, pemimpin kampanye AFFA.
Ia menegaskan harapan agar pendanaan dialihkan ke sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan memperhatikan kesejahteraan hewan. Sistem peternakan intensif atau Animal Feeding Operations (AFO) dinilai berkontribusi besar terhadap pencemaran udara, khususnya partikel halus PM2.5, serta berdampak tidak merata pada kelompok rentan seperti masyarakat adat.
Selain itu, sekitar 80% lahan pertanian global saat ini digunakan untuk industri peternakan, baik untuk penggembalaan maupun produksi pakan. Produksi kedelai menjadi salah satu faktor utama, di mana sebagian besar digunakan sebagai pakan ternak.
Menurut Managing Director AFFA, Arie Utami, ekspansi peternakan intensif juga berkaitan erat dengan deforestasi dan krisis iklim.
“Deforestasi adalah salah satu penyebab utama dari krisis iklim. Deforestasi yang masif untuk peternakan intensif dan pakan bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan, investasi sektor keuangan seharusnya diarahkan pada sistem pangan berkelanjutan dan berbasis lokal yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Di Indonesia, ketergantungan terhadap impor bungkil kedelai untuk pakan ternak dinilai meningkatkan kerentanan ekonomi, terutama saat terjadi fluktuasi harga global yang berdampak pada harga pangan domestik.
Sebagai tindak lanjut, AFFA berencana menggelar webinar untuk membahas lebih dalam dampak sistemik peternakan intensif terhadap lingkungan, ekonomi, dan masyarakat terdampak, sekaligus menggalang dukungan publik melalui petisi global. (E-3)
Kepala BPS RI Amalia Widyasanti ditetapkan sebagai Chair Governing Board ICP dalam Sidang Tahunan Komisi Statistik PBB di New York.
JURNALIS Senior Bambang Harymurti mengungkapkan riset dan dokumen lama Bank Dunia yang menjadi dasar kebijakan global anti-tembakau.
Harga komoditas global diproyeksikan turun ke level terendah dalam enam tahun pada 2026.
Pemerintah diminta menggunakan standar World Bank untuk lower middle income country untuk poverty rate sebesar US$3,65 per hari atau Rp61 ribu per hari untuk mengategorikan garis kemiskinan.
Indonesia diproyeksikan hanya memiliki pertumbuan ekonomi rata-rata 4,8% hingga 2027. Adapun, rinciannya adalah 4,7% pada 2025, 4,8% pada 2026, dan 5% pada 2027.
Gejolak harga bahan baku pakan kerap menjadi tantangan utama bagi keberlangsungan usaha peternakan di Indonesia.
Kolin merupakan nutrisi esensial yang berperan langsung dalam pengaturan suasana hati, daya pikir, dan emosi.
PEMERINTAH dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga sapi hidup di tingkat peternak tetap terkendali menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) memperkuat pengembangan lahan pertanian di dataran tinggi indonesia yang memiliki potensi mencapai 5,51 juta hektar.
Kementan menegaskan fokus utamanya saat ini yaitu membenahi sektor hulu atau perbibitan (breeding) sebagai langkah strategis untuk menekan ketergantungan impor daging.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved