Pendanaan Bank Dunia terhadap Peternakan Intensif Dianggap Perparah Krisis Iklim

Despian Nurhidayat
18/4/2026 10:36
Pendanaan Bank Dunia terhadap Peternakan Intensif Dianggap Perparah Krisis Iklim
Aksi protes terhadap kebijakan pendanaan Bank Dunia.(AFFA)

Gelombang protes terhadap pendanaan industri peternakan intensif menguat secara global, dengan aksi serentak yang menyasar lembaga keuangan internasional. Koalisi Act for Farmed Animals (AFFA) bersama Stop Financing Factory Farming (S3F) menggelar aksi di 20 negara, termasuk di depan kantor World Bank di Jakarta.

Aksi ini bertujuan mendesak penghentian pendanaan peternakan intensif serta rencana peningkatan investasi hingga US$9 miliar per tahun pada 2030. Massa aksi juga menampilkan instalasi visual hewan ternak sebagai simbol dampak industri tersebut.

“World Bank tidak menjalankan praktik prinsip keberlanjutan yang melindungi planet Bumi dan makhluk hidup lainnya. Dengan memperluas dan meningkatkan investasi pada industri peternakan intensif, sama saja mendanai percepatan krisis iklim, melanggengkan penderitaan yang kejam pada hewan, hilangnya keanekaragaman hayati dan mengancam kesehatan masyarakat secara global,” ujar Elfha Shavira, pemimpin kampanye AFFA.

Ia menegaskan harapan agar pendanaan dialihkan ke sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan memperhatikan kesejahteraan hewan. Sistem peternakan intensif atau Animal Feeding Operations (AFO) dinilai berkontribusi besar terhadap pencemaran udara, khususnya partikel halus PM2.5, serta berdampak tidak merata pada kelompok rentan seperti masyarakat adat.

Selain itu, sekitar 80% lahan pertanian global saat ini digunakan untuk industri peternakan, baik untuk penggembalaan maupun produksi pakan. Produksi kedelai menjadi salah satu faktor utama, di mana sebagian besar digunakan sebagai pakan ternak.

Menurut Managing Director AFFA, Arie Utami, ekspansi peternakan intensif juga berkaitan erat dengan deforestasi dan krisis iklim.

“Deforestasi adalah salah satu penyebab utama dari krisis iklim. Deforestasi yang masif untuk peternakan intensif dan pakan bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, investasi sektor keuangan seharusnya diarahkan pada sistem pangan berkelanjutan dan berbasis lokal yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Di Indonesia, ketergantungan terhadap impor bungkil kedelai untuk pakan ternak dinilai meningkatkan kerentanan ekonomi, terutama saat terjadi fluktuasi harga global yang berdampak pada harga pangan domestik.

Sebagai tindak lanjut, AFFA berencana menggelar webinar untuk membahas lebih dalam dampak sistemik peternakan intensif terhadap lingkungan, ekonomi, dan masyarakat terdampak, sekaligus menggalang dukungan publik melalui petisi global. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya