Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah ancaman kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan air laut, warga Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menghidupkan tradisi tutur sebagai cara memahami sekaligus beradaptasi dengan perubahan serta krisis iklim.
Upaya tersebut diwujudkan melalui festival dan pameran seni bertajuk Bhineka Iklim dalam Tutur: Seni dalam Adaptasi Iklim yang digelar Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) selama dua hari, 15-16 April 2026
Spesialis Ketahanan Pesisir YKAN, I Gusti Ngurah Paulus, Jumat (17/4) mengatakan, kegiatan melibatkan ratusan pelajar SD dan SMP serta seniman lokal, dengan tujuan menghidupkan kembali pengetahuan adat dan budaya tutur sebagai media kampanye iklim yang berakar pada kearifan lokal.
Budaya tutur yang dihidupkan kembali dalam kegiatan ini antara lain berupa dongeng dan cerita sejarah yang ditampilkan dalam lomba tutur, kisah tentang kondisi alam dan kekeringan, serta pengetahuan lokal mengenai pengelolaan sumber air dan pemanfaatan tanaman seperti lontar sebagai sumber pangan.
Selain itu, kalender adat juga diperkenalkan kembali sebagai penanda musim yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, tradisi dan seni merupakan kunci untuk menghubungkan kearifan lokal dengan sains modern. “Tradisi dan kesenian menjadi jembatan agar strategi adaptasi iklim lebih kuat dan relevan,” ujarnya.
Festival ini menegaskan bahwa masyarakat Sabu Raijua memiliki modal sosial yang kuat dalam menghadapi krisis iklim. Pengetahuan yang hidup dalam tradisi, ritual, dan budaya tutur menjadi fondasi penting untuk membangun ketahanan lingkungan yang berkelanjutan di masa depan
Bupati Sabu Raijua, Krisman Bernard Riwu Kore, menilai kearifan lokal menjadi kunci masyarakat mampu bertahan di tengah kondisi alam Pulau Sabu yang keras. “Saya bertanya-tanya bagaimana orang bisa bertahan di Pulau Sabu yang kering ini, namun leluhur kita memiliki kearifan lokal. Saat kekeringan, kita bergantung pada tanaman seperti lontar untuk gula sabu,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini Pulau Sabu menghadapi berbagai risiko krisis iklim. Mulai dari kekeringan ekstrem, bencana siklon, hingga kenaikan permukaan air laut. Namun, kesadaran masyarakat terhadap isu ini masih menjadi tantangan karena kerap dipahami sebagai persoalan ilmiah yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan budaya, YKAN mendorong adaptasi iklim yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dipilih karena dinilai mampu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal agar lebih mudah dipahami.
Selama festival, lebih dari 150 pelajar terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti lomba tutur sejarah dan dongeng, pameran budaya, hingga pertunjukan musik tradisional Ketadu Hab’a yang kini mulai jarang ditampilkan.
Kepala Dinas Pendidikan Sabu Raijua, Yoel Riwu, menyebut budaya tutur sebagai “perpustakaan hidup” yang menyimpan pengetahuan penting tentang lingkungan.
“Budaya tutur menyimpan pengetahuan tentang tanaman lokal, cara menjaga sumber air, serta hubungan manusia dengan alam. Dalam setiap cerita, ada pesan bagaimana menghadapi kekeringan dan menjaga lingkungan,” jelasnya.
Para pelajar juga merefleksikan kondisi iklim yang mereka alami. Giftyne Nicelly Hana Kale Lena, siswa SMP Negeri 2 Sabu Timur, menggambarkan sulitnya akses air di wilayahnya. “Tanah Sabu terkenal kering. Air lebih berharga dari emas. Jika hujan tidak turun, tanah retak dan pohon meranggas,” ungkapnya.
Sementara itu, Rambu Resa Amelia Uli dari SDN 1 Seba menilai perubahan musim sebagai bagian dari pembelajaran hidup. “Perubahan musim bukan musuh, tetapi guru kehidupan. Selama manusia menghormati alam, alam akan memberi kehidupan,” ujarnya.
Memasuki hari kedua, kegiatan diisi dengan penampilan Tari Ledo dari siswa SMPN Sabu Barat, talkshow konservasi bertajuk “Bhineka Iklim dalam Tutur”, serta diskusi tentang pentingnya menghidupkan kembali kalender adat sebagai penanda musim. Festival ditutup dengan Tari Padoa massal yang melambangkan persatuan masyarakat dalam menjaga alam. (H-3)
Bagi Suku Akit, sumpit menjadi simbol identitas dan kebanggaan mereka. Setiap detail sumpit, mulai dari bahan baku hingga ornamennya, memiliki arti simbolis.
Upacara mangkeng juga dimaksudkan untuk nyumpel atau menyumbat, maksudnya ialah menyumbat nafsu makan tamu undangan yang datang.
Penyebutan jekdong didasarkan pada bunyi kecrek 'jek' disusul dengan suara tepukan kendang dan bunyi gong.
Andi Rumbrar menunjukkan arti keadilan sosial dengan mengabdi untuk kesetaraan pendidikan anak-anak suku Wano di pedalaman Papua.
Anak putu Bonokeling di pesisir selatan Jawa Tengah merupakan komunitas Islam abangan yang mengamini proses dialogis antara Islam dan tradisi Jawa.
Raja Charles III sampaikan pidato krusial di depan Kongres AS. Tekankan pentingnya aliansi NATO, krisis iklim, hingga dukungan untuk Ukraina di tengah tensi politik.
Aksi Hari Bumi ke-56 mengingatkan kondisi bumi kian kritis dengan kenaikan suhu bumi.
Kenaikan suhu global membuat banyak orang kesulitan melakukan aktivitas fisik sederhana seperti pekerjaan rumah tangga atau naik tangga pada siang hari.
Gelombang protes terhadap pendanaan industri peternakan intensif menguat secara global, dengan aksi serentak yang menyasar lembaga keuangan internasional.
Ia menambahkan, meskipun El Nino memiliki tingkatan dari lemah hingga sangat kuat, seluruh level tetap memberikan dampak signifikan bagi Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved