Krisis Iklim Percepat Siklus El Nino, Indonesia Terancam Kekeringan

Ficky Ramadhan
08/4/2026 16:55
Krisis Iklim Percepat Siklus El Nino, Indonesia Terancam Kekeringan
Grafis El Nino(AFP)

WILAYAH Indonesia kembali dihadapkan pada potensi kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu fenomena El Nino. Jika sebelumnya El Nino kuat terjadi dengan pola empat tahunan, tren terbaru menunjukkan siklus yang semakin pendek, memperbesar risiko krisis iklim di dalam negeri.

Sejak 2015 yang merupakan tahun El Nino sangat kuat, pola empat tahunan terlihat dengan kejadian serupa pada 2019 dan 2023 yang memicu kekeringan ekstrem serta karhutla masif. Berdasarkan pola tersebut, El Nino berikutnya diperkirakan baru akan terjadi pada 2027. Namun kenyataannya, fenomena ini kembali muncul hanya dalam rentang tiga tahun.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa dampak krisis iklim turut memengaruhi perubahan siklus El Nino, yang berpotensi mempercepat datangnya musim kering ekstrem di Indonesia. Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace, Kiki Taufik menegaskan bahwa fenomena ini harus diantisipasi secara serius.

"Siklus El Nino yang semakin pendek harus dimitigasi dengan serius karena akan memicu kekeringan dan karhutla yang lebih sering dan luas," kata Kiki, Rabu (8/4).

Ia menambahkan, meskipun El Nino memiliki tingkatan dari lemah hingga sangat kuat, seluruh level tetap memberikan dampak signifikan bagi Indonesia.

Pada periode El Nino, hampir seluruh wilayah Indonesia terdampak kekeringan ekstrem dan berkepanjangan. Hal ini tercermin pada peristiwa 2015, 2019, dan 2023. Salah satu dampak paling signifikan adalah meningkatnya kebakaran di lanskap gambut di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Karhutla di lahan gambut memiliki karakteristik khas, yakni penyebaran luas, durasi panjang, serta menghasilkan kabut asap tebal yang dapat menjangkau wilayah yang sangat luas. Wilayah pesisir timur Sumatra dari Riau hingga Sumatra Selatan, pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Papua Selatan menjadi daerah yang sangat rawan terdampak.

Menurut Kiki, upaya pencegahan jangka panjang harus segera diperkuat, terutama melalui restorasi gambut yang rusak dan kering. "Restorasi gambut yang dilakukan secara masif dan benar sangat penting untuk meminimalisir karhutla gambut yang terus berulang," ujarnya.

Selain itu, rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) dan hutan alam juga dinilai krusial untuk menjaga cadangan air selama musim kemarau. "Memperbaiki DAS dan merehabilitasi hutan alam juga merupakan langkah penting untuk menjaga ketersediaan air di tengah ancaman kekeringan," tambahnya.

Meski upaya pencegahan telah diidentifikasi sejak karhutla besar 2015, implementasinya dinilai masih jauh dari optimal. Dengan potensi El Nino yang datang lebih cepat, penguatan mitigasi dan pengelolaan ekosistem menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang. (Fik/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya