BPBD Kota Sukabumi Antisipasi Kemarau, Sejumlah Wilayah Terpetakan Rawan Kekeringan

Benny Bastiandy
28/4/2026 18:19
BPBD Kota Sukabumi Antisipasi Kemarau, Sejumlah Wilayah Terpetakan Rawan Kekeringan
MITIGASI: Personel BPBD Kota Sukabumi memitigasi bencana, salah satunya dengan membersihkan aliran-aliran sungai yang bisa memicu banjir luapan saat cuaca ekstrem.(Dok Satgas BPBD Kota Sukabumi)

BERBAGAI langkah antisipatif dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi menghadapi ancaman potensi kekeringan dampak kemarau. Langkah awal dilakukan dengan memetakan wilayah rawan kekeringan.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Suhendar, mengatakan secara umum sebetulnya belum ada pembahasan menghadapi potensi kekeringan. Sebab, saat ini masih terkonsentrasi menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi karena intensitas curah masih cukup tinggi.

"Untuk pembahasan khusus (menghadapi kemarau) belum kami lakukan. Tapi sebagai tindak lanjut terhadap kondisi cuaca yang masih cukup ekstrem serta indikasi peralihan musim, kami telah melakukan langkah-langkah antisipatif menghadapi potensi bencana kekeringan," kata Suhendar, Selasa (28/4). 

Suhendar menuturkan, berdasarkan data rekapitulasi distribusi air bersih pada 2023 serta hasil analisis kinerja di lapangan, sebaran wilayah rawan kekeringan di Kota Sukabumi terkonsentrasi di beberapa kecamatan. Hasil pendataan, intensitas tertinggi berada di Kelurahan Cikundul Kecamatan Lembursitu dan Kecamatan Baros.

"Wilayah-wilayah ini menjadi kantong kekeringan paling kritis di Kota Sukabumi," tuturnya.

Di Kelurahan Cikundul misalnya, kata Suhendar, saat kekeringan satu hari penyaluran air bersih bisa mencapai 13 ribu liter lebih. Kondisi ini menunjukkan adanya keterbatasan sumber air alternatif dan tingginya jumlah masyarakat terdampak. 

Sementara di Kelurahan Karangtengah Kecamatan Gunungpuyuh, distribusi air juga menjangkau hingga 1.300 jiwa satu kali penyaluran yang mempertegas luasnya cakupan dampak kekeringan.

"Kami bersinergi dan berkolaborasi melibatkan berbagai pihak (Pentaheliks), seperti PMI, Perumdam serta dukungan dari instansi pemerintah, lembaga sosial, dan relawan kebencanaan," jelas Suhendar. 

Kolaborasi ini menjadi faktor kunci dalam memastikan distribusi air bersih dapat berjalan efektif dan menjangkau masyarakat terdampak secara merata. (BB)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner