Krisis Kepercayaan Vaksin Ancam Anak, DPR Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Akmal Fauzi
17/4/2026 19:09
Krisis Kepercayaan Vaksin Ancam Anak, DPR Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina(Humas DPR RI)

ANGGOTA Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, memberikan peringatan keras terkait menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin. Menurutnya, fenomena ini telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan anak-anak Indonesia dan berpotensi memicu ledakan wabah penyakit yang sebelumnya telah terkendali.

Pernyataan ini sejalan dengan peringatan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengenai munculnya kembali penyakit lama (re-emerging disease), seperti campak dan polio, akibat merosotnya cakupan imunisasi nasional.

Data menunjukkan, cakupan imunisasi dasar lengkap yang sempat mencapai lebih dari 94 persen pada 2022 kini mengalami penurunan. Pada 2024, angka tersebut berada di kisaran 87 persen, dan pada 2025 belum mencapai target nasional. Sementara itu, cakupan imunisasi bayi lengkap masih sekitar 68 persen, dan imunisasi lengkap 14 antigen masih jauh dari ambang aman herd immunity sebesar 95 persen.

Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan itu menilai Indonesia masih menghadapi hampir satu juta anak yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali (zero dose). Kelompok ini menjadi yang paling rentan terhadap penularan penyakit.

“Kita sedang dihadapkan bukan hanya pada persoalan teknis, tetapi krisis kepercayaan publik yang nyata," kata Vita dalam keterangan yang diterima, Jumat (17/4).

Vita menegaskan, munculnya kejadian luar biasa (KLB) campak di berbagai daerah pada awal 2026 yang tersebar di puluhan kabupaten/kota lintas provinsi menjadi indikator nyata bahwa sistem imunisasi sedang tidak optimal.

“Vaksinasi adalah faktor kunci yang selama ini terbukti mampu menekan penyakit menular. Ketika cakupannya menurun, maka risiko wabah pasti meningkat," ujarnya.

Dalam konteks ini, ia menilai pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, harus segera mengambil langkah luar biasa dan tidak lagi bekerja secara biasa.

Sejalan dengan rekomendasi IDAI, penguatan layanan kesehatan primer juga menjadi kunci, termasuk optimalisasi peran puskesmas dan posyandu dalam upaya promotif dan preventif.

Vita pun mendorong sejumlah langkah konkret, antara lain kampanye nasional untuk memulihkan kepercayaan terhadap vaksin berbasis sains dan transparansi, respons cepat terhadap hoaks dan disinformasi kesehatan, penguatan layanan kesehatan primer sebagai ujung tombak imunisasi, keterbukaan data vaksin dan kejadian ikutan pascaimunisasi, serta pelibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam edukasi publik.

“Negara tidak boleh kalah oleh hoaks dan narasi yang menyesatkan. Jika kepercayaan tidak segera dipulihkan, maka kita membuka kembali pintu bagi wabah yang seharusnya bisa dicegah," kata dia.

Vita menegaskan, perlindungan anak melalui imunisasi merupakan fondasi penting dalam menjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

(P-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya