IDAI Ingatkan Bahaya Reemerging Disease: Imunisasi Campak dan Polio Harus Masif

Basuki Eka Purnama
19/4/2026 09:20
IDAI Ingatkan Bahaya Reemerging Disease: Imunisasi Campak dan Polio Harus Masif
Tenaga medis menyiapkan vaksin campak (Measles Rubella) sebelum disuntikkan kepada balita di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (14/4/2026).(ANTARA/Arnas Padda)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan keras terkait fenomena reemerging disease atau munculnya kembali penyakit menular yang sebelumnya telah terkendali, seperti campak dan polio. Untuk mengentaskan ancaman ini, diperlukan program imunisasi yang gencar, merata, dan konsisten di seluruh wilayah Indonesia.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menjelaskan bahwa sejarah telah membuktikan efektivitas vaksinasi dalam menekan angka penyakit menular. Ia mencontohkan bagaimana polio berhasil ditekan secara signifikan sejak tahun 1960-an berkat pengembangan dan pemberian vaksin secara masif.

"Ini namanya re-emerging disease, artinya satu penyakit yang sudah pernah dalam satu periode dikendalikan. Dari catatan sejarah, dikendalikannya penyakit menular itu karena ditemukannya imunisasi atau vaksinasi. Itu tidak bisa dipungkiri," ujar Piprim dalam temu media di Jakarta, dikutip Minggu (19/4).

Ancaman Campak dan Target Herd Immunity

Piprim menyoroti penurunan cakupan vaksinasi campak yang memicu terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah. Campak dikenal sebagai penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Untuk menghentikan transmisinya, dibutuhkan cakupan imunisasi yang sangat tinggi guna mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Indikator Penyakit Data / Target
Angka Reproduksi Dasar (R0) Campak 12 hingga 18
Target Cakupan Imunisasi untuk Herd Immunity Di atas 95%
Status Saat Ini Terjadi kenaikan kasus signifikan (KLB)

"Ketika KLB itu muncul, artinya cakupan imunisasi jeblok. Semakin menular suatu penyakit seperti campak, cakupan imunisasinya harus di atas 95 persen," tegasnya.

Tantangan Edukasi dan Penguatan Layanan Primer

Selain masalah teknis distribusi vaksin, IDAI juga menyoroti tantangan sosial berupa gerakan anti-vaksin di media sosial. Banyak pihak yang mengunggah informasi menyesatkan yang menghasut masyarakat untuk meragukan kebijakan imunisasi pemerintah.

Di sisi lain, Piprim mengkritik fokus pemerintah yang saat ini dinilai lebih condong ke layanan kesehatan tersier, seperti pembangunan rumah sakit besar, dibandingkan memperkuat layanan primer. Ia menyarankan agar pemerintah melakukan langkah-langkah berikut:

  • Revitalisasi Posyandu: Memperkuat peran kader dengan fasilitas dan insentif yang memadai.
  • Optimalisasi Puskesmas: Mengembalikan fungsi Puskesmas pada upaya promotif-preventif, bukan sekadar sibuk dengan urusan kuratif dan laporan administrasi.
  • Pengawasan Ketat: Memperketat laporan administrasi imunisasi agar data di lapangan sesuai dengan realita dan tidak ada kesenjangan.

Sebagai penutup, Piprim mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk menjadikan situasi ini sebagai wake up call.

"Ayo sama-sama kita fokuskan ke promotif-preventif. Supaya jangan lagi ada anak yang mati karena campak. Jika layanan primernya bagus, insya Allah itu terdeteksi dari awal," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya