Bahaya Normalisasi Pelecehan Seksual Verbal Menurut Psikolog

Basuki Eka Purnama
16/4/2026 20:33
Bahaya Normalisasi Pelecehan Seksual Verbal Menurut Psikolog
Ilustrasi(alodokter.com)

PRAKTIK pelecehan seksual secara verbal hingga kini masih sering dianggap sepele oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, mengungkapkan bahwa normalisasi terhadap kebiasaan-kebiasaan tertentu menjadi pemicu utama terus berulangnya kekerasan seksual dalam bentuk kata-kata.

Menurut Kasandra, banyak perilaku yang sebenarnya masuk dalam kategori pelecehan namun dianggap wajar karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Salah satu yang paling menonjol adalah komentar terhadap bentuk tubuh atau penampilan seseorang.

"Masih banyak kebiasaan yang dinormalisasi di masyarakat yang sebenarnya termasuk membuka diri secara verbal. Salah satunya adalah menganggap komentar terhadap tubuh atau penampilan sebagai hal yang wajar, padahal sering kali mengandung objektifikasi," ujar Kasandra, dikutip Kamis (16/4).

Jenis Perilaku yang Sering Dinormalisasi

Kasandra merinci beberapa tindakan yang sering kali dianggap sebagai "lelucon" atau hal biasa, padahal merupakan bagian dari spektrum kekerasan seksual. Berikut adalah rincian perilaku tersebut:

Jenis Perilaku Contoh Tindakan
Objektifikasi Tubuh Memberikan komentar seksual terhadap penampilan atau fisik seseorang.
Lelucon Seksual Candaan bernuansa seksual yang membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Pelecehan Digital Membahas fantasi seksual tentang seseorang di ruang digital seperti grup chat.
Catcalling Godaan verbal atau siulan di ruang publik yang bersifat melecehkan.

Ia menegaskan bahwa perilaku ini terus berlangsung karena dianggap tidak berdampak serius. Padahal, selama masyarakat menganggap hal ini normal, pelaku tidak akan merasa bersalah, dan korban akan terus merasa enggan untuk melapor.

"Sayangnya pemahaman ini masih banyak terjadi bahkan dilakukan pihak-pihak yang memegang peran penting dalam penegakan hukum," tambahnya.

Dampak Nyata bagi Korban

Meski tidak melibatkan kontak fisik, pelecehan verbal memberikan dampak psikologis dan sosial yang sangat nyata. Kasandra menjelaskan bahwa korban sering kali mengalami rasa malu, marah, cemas, hingga kehilangan rasa aman. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan membuat korban menarik diri dari lingkungan sosial.

Terkait fenomena korban yang memilih diam, Kasandra mengutip kajian tahun 1992 dari psikiater asal Amerika Serikat, Judith Herman. Kajian tersebut menjelaskan bahwa korban kekerasan sering mengalami tekanan psikologis hebat yang memaksa mereka memilih diam sebagai bentuk perlindungan diri (self-protection).

Di lingkungan sosial seperti kampus atau pertemanan, ketakutan akan stigma dan dikucilkan menjadi penghalang utama korban untuk bersuara. Normalisasi yang kuat di masyarakat membuat korban sering meragukan diri sendiri, apakah pengalaman pahit yang mereka alami cukup serius untuk dilaporkan atau tidak. (Ant/Z-1)

Pelecehan seksual verbal adalah langkah awal menuju kekerasan yang lebih serius. Berhenti menormalisasi candaan seksual dan mulailah menghargai ruang aman setiap individu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya