Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRAKTIK pelecehan seksual secara verbal hingga kini masih sering dianggap sepele oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, mengungkapkan bahwa normalisasi terhadap kebiasaan-kebiasaan tertentu menjadi pemicu utama terus berulangnya kekerasan seksual dalam bentuk kata-kata.
Menurut Kasandra, banyak perilaku yang sebenarnya masuk dalam kategori pelecehan namun dianggap wajar karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Salah satu yang paling menonjol adalah komentar terhadap bentuk tubuh atau penampilan seseorang.
"Masih banyak kebiasaan yang dinormalisasi di masyarakat yang sebenarnya termasuk membuka diri secara verbal. Salah satunya adalah menganggap komentar terhadap tubuh atau penampilan sebagai hal yang wajar, padahal sering kali mengandung objektifikasi," ujar Kasandra, dikutip Kamis (16/4).
Kasandra merinci beberapa tindakan yang sering kali dianggap sebagai "lelucon" atau hal biasa, padahal merupakan bagian dari spektrum kekerasan seksual. Berikut adalah rincian perilaku tersebut:
| Jenis Perilaku | Contoh Tindakan |
|---|---|
| Objektifikasi Tubuh | Memberikan komentar seksual terhadap penampilan atau fisik seseorang. |
| Lelucon Seksual | Candaan bernuansa seksual yang membuat orang lain merasa tidak nyaman. |
| Pelecehan Digital | Membahas fantasi seksual tentang seseorang di ruang digital seperti grup chat. |
| Catcalling | Godaan verbal atau siulan di ruang publik yang bersifat melecehkan. |
Ia menegaskan bahwa perilaku ini terus berlangsung karena dianggap tidak berdampak serius. Padahal, selama masyarakat menganggap hal ini normal, pelaku tidak akan merasa bersalah, dan korban akan terus merasa enggan untuk melapor.
"Sayangnya pemahaman ini masih banyak terjadi bahkan dilakukan pihak-pihak yang memegang peran penting dalam penegakan hukum," tambahnya.
Meski tidak melibatkan kontak fisik, pelecehan verbal memberikan dampak psikologis dan sosial yang sangat nyata. Kasandra menjelaskan bahwa korban sering kali mengalami rasa malu, marah, cemas, hingga kehilangan rasa aman. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan membuat korban menarik diri dari lingkungan sosial.
Terkait fenomena korban yang memilih diam, Kasandra mengutip kajian tahun 1992 dari psikiater asal Amerika Serikat, Judith Herman. Kajian tersebut menjelaskan bahwa korban kekerasan sering mengalami tekanan psikologis hebat yang memaksa mereka memilih diam sebagai bentuk perlindungan diri (self-protection).
Di lingkungan sosial seperti kampus atau pertemanan, ketakutan akan stigma dan dikucilkan menjadi penghalang utama korban untuk bersuara. Normalisasi yang kuat di masyarakat membuat korban sering meragukan diri sendiri, apakah pengalaman pahit yang mereka alami cukup serius untuk dilaporkan atau tidak. (Ant/Z-1)
Psikolog Phoebe Ramadina mengingatkan bahwa rasa tidak nyaman adalah indikator utama pelecehan seksual, meski dibungkus candaan atau pujian di media sosial.
Psikolog klinis Phoebe Ramadina menegaskan rasa tidak nyaman adalah indikator utama pelecehan seksual, baik verbal maupun daring. Simak cara menghadapinya.
PERKULIAHAN di Universitas Indonesia (UI) berjalan normal setelah 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) terduga pelecehan seksual secara verbal dinonaktifkan.
DIREKTORAT Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Jabar akan melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oknum guru besar Universitas Padjajaran Bandung.
Universitas Indonesia (UI) harus memberikan sanksi tegas terhadap mahasiswa yang diduga terlibat dalam percakapan bermuatan pelecehan seksual di lingkungan Fakultas Hukum (FH).
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog klinis Teresa Indira Andani menjelaskan perbedaan mendasar antara emosi dan stres serta cara tepat mendampingi orang yang sedang tertekan.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Psikolog Rose Mini ingatkan orang tua untuk jadi contoh kurangi gawai. Tanpa keteladanan, aturan pembatasan akses digital anak tidak akan efektif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved