Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BATASAN antara candaan dan pelecehan seksual sering kali dianggap abu-abu, terutama dalam interaksi di media sosial. Namun, psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina M.Psi, menegaskan bahwa rasa tidak nyaman yang dirasakan seseorang merupakan indikator paling krusial yang harus diwaspadai.
Menurut Phoebe, pelecehan seksual, baik secara verbal maupun daring, sering kali muncul dalam bentuk yang sangat halus dan terselubung. Hal ini membuat tindakan tersebut mudah disalahartikan sebagai sekadar gurauan atau bahkan pujian.
"Indikator paling penting untuk diingat dan perlu diwaspadai sebagai pelecehan seksual adalah rasa tidak nyaman yang dirasakan korban, meskipun perilaku tersebut belum tampak 'jelas' sebagai pelecehan secara kasat mata," ujar Phoebe dalam keterangannya, Kamis (23/4).
Fenomena yang sering terjadi adalah ketika korban mulai menunjukkan ketidaknyamanan, pelaku justru melakukan gaslighting atau meremehkan perasaan tersebut. Kalimat seperti "hanya bercanda" atau "jangan terlalu dibawa perasaan (baper)" sering digunakan untuk memvalidasi perilaku yang sebenarnya melanggar batasan.
Phoebe menekankan bahwa seseorang tidak perlu menunggu situasi menjadi parah untuk menetapkan batasan. Rasa tidak nyaman sudah menjadi alasan yang sangat cukup untuk bersikap tegas.
Untuk menghadapi situasi ini, diperlukan keterampilan asertif, yaitu kemampuan menyuarakan kebutuhan dan batasan diri secara sehat tanpa rasa bersalah. Phoebe menyarankan korban untuk berani menyampaikan ketidaknyamanan secara langsung dan spesifik.
"Penyampaian yang jelas dan tegas, seperti meminta agar komentar tersebut tidak diulangi karena membuat tidak nyaman, sering kali lebih efektif," tambahnya.
Berikut adalah beberapa bentuk perilaku yang perlu diwaspadai sebagai bentuk pelecehan seksual menurut penjelasan Phoebe Ramadina:
| Kategori | Bentuk Tindakan |
|---|---|
| Verbal & Daring | Komentar tubuh bernuansa seksual, candaan seksual berulang, pesan intim tanpa persetujuan. |
| Konten Visual | Mengirim konten seksual tanpa diminta (unsolicited), manipulasi untuk meminta foto pribadi. |
| Objektifikasi | Memberikan komentar yang mengobjektifikasi aktivitas sehari-hari korban. |
Selain bersikap asertif, pengelolaan privasi di media sosial juga menjadi kunci. Membatasi akses informasi pribadi dan interaksi dari orang asing dapat menekan risiko pelecehan. Namun, jika seseorang sudah terlanjur menjadi korban, Phoebe memberikan langkah-langkah darurat yang harus diambil:
Phoebe menutup dengan pesan bahwa kesadaran diri (self-awareness) yang baik akan membuat seseorang merasa berhak atas rasa aman. Dengan begitu, individu akan lebih peka terhadap tanda-tanda perilaku tidak pantas dan lebih mampu melindungi dirinya dalam interaksi sosial. (Ant/Z-1)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved