Waspada Pelecehan Seksual Berkedok Candaan, Rasa Tidak Nyaman Adalah Indikator Utama

Basuki Eka Purnama
24/4/2026 16:35
Waspada Pelecehan Seksual Berkedok Candaan, Rasa Tidak Nyaman Adalah Indikator Utama
Ilustrasi(Freepik)

BATASAN antara candaan dan pelecehan seksual sering kali dianggap abu-abu, terutama dalam interaksi di media sosial. Namun, psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina M.Psi, menegaskan bahwa rasa tidak nyaman yang dirasakan seseorang merupakan indikator paling krusial yang harus diwaspadai.

Menurut Phoebe, pelecehan seksual, baik secara verbal maupun daring, sering kali muncul dalam bentuk yang sangat halus dan terselubung. Hal ini membuat tindakan tersebut mudah disalahartikan sebagai sekadar gurauan atau bahkan pujian.

"Indikator paling penting untuk diingat dan perlu diwaspadai sebagai pelecehan seksual adalah rasa tidak nyaman yang dirasakan korban, meskipun perilaku tersebut belum tampak 'jelas' sebagai pelecehan secara kasat mata," ujar Phoebe dalam keterangannya, Kamis (23/4).

Gaslighting dan Normalisasi Candaan

Fenomena yang sering terjadi adalah ketika korban mulai menunjukkan ketidaknyamanan, pelaku justru melakukan gaslighting atau meremehkan perasaan tersebut. Kalimat seperti "hanya bercanda" atau "jangan terlalu dibawa perasaan (baper)" sering digunakan untuk memvalidasi perilaku yang sebenarnya melanggar batasan.

Phoebe menekankan bahwa seseorang tidak perlu menunggu situasi menjadi parah untuk menetapkan batasan. Rasa tidak nyaman sudah menjadi alasan yang sangat cukup untuk bersikap tegas.

Pentingnya Keterampilan Asertif

Untuk menghadapi situasi ini, diperlukan keterampilan asertif, yaitu kemampuan menyuarakan kebutuhan dan batasan diri secara sehat tanpa rasa bersalah. Phoebe menyarankan korban untuk berani menyampaikan ketidaknyamanan secara langsung dan spesifik.

"Penyampaian yang jelas dan tegas, seperti meminta agar komentar tersebut tidak diulangi karena membuat tidak nyaman, sering kali lebih efektif," tambahnya.

Berikut adalah beberapa bentuk perilaku yang perlu diwaspadai sebagai bentuk pelecehan seksual menurut penjelasan Phoebe Ramadina:

Kategori Bentuk Tindakan
Verbal & Daring Komentar tubuh bernuansa seksual, candaan seksual berulang, pesan intim tanpa persetujuan.
Konten Visual Mengirim konten seksual tanpa diminta (unsolicited), manipulasi untuk meminta foto pribadi.
Objektifikasi Memberikan komentar yang mengobjektifikasi aktivitas sehari-hari korban.

Langkah Perlindungan Diri

Selain bersikap asertif, pengelolaan privasi di media sosial juga menjadi kunci. Membatasi akses informasi pribadi dan interaksi dari orang asing dapat menekan risiko pelecehan. Namun, jika seseorang sudah terlanjur menjadi korban, Phoebe memberikan langkah-langkah darurat yang harus diambil:

  1. Memprioritaskan keamanan diri sendiri.
  2. Menyimpan bukti interaksi (tangkapan layar/rekaman).
  3. Membatasi atau memutus total kontak dengan pelaku.
  4. Mencari bantuan dari pihak terpercaya atau pihak berwenang.

Phoebe menutup dengan pesan bahwa kesadaran diri (self-awareness) yang baik akan membuat seseorang merasa berhak atas rasa aman. Dengan begitu, individu akan lebih peka terhadap tanda-tanda perilaku tidak pantas dan lebih mampu melindungi dirinya dalam interaksi sosial. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya