Waspada Child Grooming dalam Relasi Sebaya, IDAI Ungkap Modusnya

Basuki Eka Purnama
06/4/2026 19:14
Waspada Child Grooming dalam Relasi Sebaya, IDAI Ungkap Modusnya
Ilustrasi(Freepik)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan serius terkait ancaman kejahatan child grooming yang kini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi juga merambah ke dalam relasi sebaya di kalangan anak dan remaja. Fenomena ini sering kali luput dari pengawasan orang tua karena dianggap sebagai hubungan pertemanan biasa.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, menjelaskan bahwa child grooming adalah tindakan manipulasi psikologis untuk mengeksploitasi korban secara seksual dengan cara membangun kepercayaan dan ikatan emosional.

“Ini sering terlewat oleh pemantauan orangtua karena dianggap hanya teman biasa. Padahal, aksi ini bisa dilakukan oleh remaja yang usianya sedikit lebih tua, seperti hubungan antara siswa SMP dengan SMA atau SD dengan SMP,” ujar Ariani, dikutip Senin (6/4).

Modus dan Ketimpangan Relasi

Menurut Ariani, inti dari kejahatan ini adalah ketimpangan kekuasaan (power imbalance). Pelaku memanfaatkan dominasi usia, pengalaman, atau kondisi ekonomi untuk membuat korban bergantung secara emosional. Korban yang haus akan pujian dan penghargaan cenderung mudah terperangkap dalam tipu daya pelaku.

Berikut adalah ringkasan karakteristik dan modus child grooming dalam relasi sebaya:

Aspek Keterangan
Rentang Usia Umum Antara 11 hingga 15 tahun, atau usia sebaya yang lebih dominan.
Latar Belakang Pelaku Sering kali pelaku pernah memiliki pengalaman serupa (pernah menjadi korban).
Media Awal Platform digital/media sosial yang berlanjut ke pertemuan langsung.
Tahapan Aksi Pendekatan → Membangun Kepercayaan → Manipulasi → Tekanan/Ancaman.

Ancaman di Era Digital

Di era digital, modus ini semakin berkembang melalui hubungan asmara atau pacaran remaja. Ariani mencontohkan kasus ketika pelaku meminta foto pribadi (vulgar) dengan dalih pembuktian cinta. Setelah mendapatkan foto tersebut, pelaku akan mengancam menyebarkannya untuk menekan korban agar menuruti kemauan pelaku, termasuk kekerasan seksual secara fisik.

“Pelaku bisa laki-laki maupun perempuan. Meskipun dalam banyak kasus pelaku berusia jauh lebih tua, namun tren dalam relasi sebaya ini harus diwaspadai karena prosesnya sangat halus,” tambahnya.

Peran Orangtua dalam Pencegahan

Sebagai langkah preventif, IDAI menekankan pentingnya edukasi mengenai hubungan yang sehat (healthy relationship) kepada anak sejak dini. Orang tua diminta untuk lebih peka terhadap lingkaran pertemanan anak, terutama jika anak mulai berhubungan dekat dengan kakak kelas atau teman daring yang usianya lebih tua.

Pesan untuk Orangtua: Berikan pemahaman kepada anak untuk mengevaluasi hubungannya. Ajarkan mereka mengenali tanda-tanda manipulasi dan eksploitasi, serta pastikan anak merasa aman untuk bercerita jika merasa tertekan dalam sebuah pertemanan.

Dengan pengawasan yang tepat dan komunikasi yang terbuka, diharapkan anak-anak dapat terhindar dari jerat child grooming yang dapat merusak masa depan mereka. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya