Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN gawai dan media sosial yang berlebihan kini menjadi perhatian serius bagi para pakar psikologi. Algoritma platform digital yang dirancang sedemikian rupa dinilai mampu mengubah perilaku remaja, mulai dari memicu ketergantungan hingga membentuk pola hidup konsumtif.
Psikolog anak, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menjelaskan bahwa algoritma media sosial bekerja dengan cara memapar pengguna pada konten yang relevan dengan minat mereka secara terus-menerus. Hal ini menciptakan fenomena "dunia yang sempit" bagi remaja.
"Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja," ujar Prof. Rose Mini, dikutip Jumat (3/4)
Selain ketergantungan layar, kemudahan transaksi digital di dalam platform media sosial juga menjadi ancaman. Remaja cenderung menjadi impulsif karena proses belanja yang terasa sangat mudah dan tidak terlihat secara fisik.
Menurut Prof. Rose Mini, banyak remaja yang tahu cara membelanjakan uang melalui platform digital, namun belum memahami sulitnya mencari uang. Tanpa edukasi dan pengawasan orangtua, kondisi ini dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak terkendali.
Senada dengan hal tersebut, psikolog anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP, menyoroti sisi neurologis remaja. Ia menyebutkan bahwa sistem kerja otak remaja masih berkembang dan sangat sensitif terhadap stimulasi cepat.
"TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya," jelas Alva.
| Aspek | Dampak/Risiko |
|---|---|
| Algoritma | Paparan konten berulang yang membatasi wawasan dan memicu ketergantungan. |
| Finansial | Munculnya perilaku konsumtif akibat kemudahan transaksi digital. |
| Psikologis | Kebutuhan akan validasi (likes/komentar) sebagai bentuk pencarian identitas. |
| Perkembangan | Keterampilan sosial, berpikir kritis, dan kreatif menjadi tidak optimal. |
Menghadapi tantangan digital ini, Prof. Rose Mini menekankan bahwa peran orangtua sangat krusial. Orangtua harus mampu mengajari anak cara menahan diri dan mengontrol penggunaan gawai agar tetap produktif.
Penggunaan gawai sebaiknya dibatasi untuk keperluan sekolah atau kegiatan yang bermanfaat. Jika remaja menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia maya, aspek penting seperti keterampilan sosial dan kemampuan berpikir kritis mereka berisiko tidak terasah dengan baik.
Di sisi lain, pemerintah juga telah mengambil langkah dengan memberlakukan peraturan pembatasan akses platform digital berisiko tinggi bagi anak di bawah usia 16 tahun. Namun, keberhasilan aturan ini tetap bergantung pada dukungan, pendampingan, dan pengawasan ketat dari orangtua di rumah. (Z-1)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Roblox resmi membuka Teen Council Asia 2026. Remaja Indonesia usia 14-17 tahun diajak berkontribusi dalam keamanan digital. Simak syarat dan cara daftar.
Gagal ginjal kini banyak menyerang usia muda akibat pola hidup tidak sehat. Kenali gejala, penyebab, dan cara mencegahnya sejak dini agar tidak berujung cuci darah.
Roblox ajak remaja Indonesia usia 14-17 tahun gabung Teen Council Asia. Simak syarat, jadwal pendaftaran, dan misi keamanan digital di sini.
PkM melibatkan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SIJB untuk pencegahan dan penanganan segera bagi siswa yang menunjukkan adanya permasalahan.
Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan untuk mencegah penggunaan vape pada remaja di tengah masifnya promosi.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved