Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBATASI penggunaan media sosial pada anak sering kali menjadi pemicu konflik di rumah. Psikolog Klinis Dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, M.Psi., Psikolog, menyarankan orangtua untuk menerapkan prinsip SMART guna menciptakan aturan yang efektif dan minim penolakan.
Menurut Teresa, pendekatan yang terlalu keras atau sepihak justru berisiko membuat anak memberontak.
“Anak sekarang sangat sensitif terhadap kontrol yang terasa sepihak. Kalau hanya dilarang tanpa diajak bicara, mereka cenderung melawan atau melakukannya diam-diam,” ujar Teresa, dikutip Senin (30/3).
Teresa merinci akronim SMART sebagai panduan praktis bagi orangtua:
Senada dengan Teresa, Guru Besar Fakultas Psikologi UI, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, turut menekankan pentingnya peran orangtua sebagai role model.
“Orangtua adalah contoh bagi anak. Jangan minta anak tidak banyak menggunakan gadget kalau orang tuanya sendiri tidak bisa lepas dari handphone,” tegas Prof. Rose Mini.
Ia juga mengingatkan bahwa pembatasan gawai tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan alternatif kegiatan yang menarik.
Jika penggunaan media sosial dikurangi, orangtua harus kreatif menciptakan program atau aktivitas lain di rumah yang mampu menyaingi daya tarik konten digital.
Kesimpulannya, pengaturan media sosial pada anak akan jauh lebih berhasil jika dibangun melalui komunikasi dua arah, keteladanan nyata, dan keterlibatan aktif orang tua dalam keseharian anak. (Ant/Z-1)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Psikolog Sani B. Hermawan mendukung PP Tunas (PP No 17 Tahun 2025) sebagai langkah darurat melindungi anak di bawah 16 tahun dari kejahatan digital.
PAPDI mengungkapkan misinformasi di media sosial menyebabkan cakupan vaksinasi campak 2025 turun drastis, menjauh dari target WHO 95%.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved