Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PNEUMONIA pada anak merupakan salah satu kondisi serius yang perlu diwaspadai oleh orangtua karena dapat menimbulkan komplikasi berbahaya bahkan kematian apabila tidak segera ditangani.
Sayangnya, gejala awal pneumonia pada anak sering disalahartikan sebagai batuk pilek biasa, sehingga tidak jarang kondisi ini disepelekan begitu saja.
Dilansir dari laman RS Sumber Hurip Cirebon, pneumonia adalah salah satu masalah kesehatan pada sistem pernapasan. Pneumonia pada anak terjadi ketika paru-paru anak mengalami peradangan atau infeksi.
Kondisi ini biasanya diawali dengan infeksi pada saluran pernapasan atas, seperti hidung dan tenggorokan. Infeksi tersebut kemudian menuju paru-paru dan menyebabkan penumpukan cairan, sehingga mengakibatkan aliran udara di dalam paru-paru tersumbat.
Pada kondisi ini, napas anak akan menjadi semakin berat hingga mengalami kesulitan dalam bernapas.
Sebagian besar kasus pneumonia pada anak dapat sembuh dalam waktu satu sampai dua minggu dengan penanganan yang tepat. Namun, kondisi anak bisa saja memburuk jika pneumonia disertai dengan penyakit lain.
Mengutip dari IDAI, pneumonia yang menyerang anak dapat disebabkan oleh berbagai macam virus, bakteri, atau jamur. Bakteri yang paling banyak ditemukan pada kasus pneumonia adalah pneumokokus (Streptococcus pneumonia), stafilokokus (Staphylococcus aureus), dan HiB (Haemophilus influenzae type).
Sementara itu, beberapa virus yang dapat menyebabkan pneumonia pada si kecil adalah rhinovirus, virus influenza, dan respiratory syncytial virus (RSV). Selain itu, virus campak (morbili) juga dapat menyebabkan komplikasi berupa pneumonia pada kondisi tertentu.
Salah satu alasan mengapa anak lebih rentan terkena pneumonia adalah karena sistem imun tubuh anak yang masih lemah dan belum terbentuk sempurna.
Selain itu, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko anak terkena pneumonia adalah mengalami kelahiran prematur, kurang gizi (malnutrisi), menderita infeksi tertentu, seperti campak atau HIV, belum memperoleh vaksin pneumonia, tidak mendapatkan ASI eksklusif ketika bayi, terdapat kelainan bawaan pada organ paru-paru dan pernapasan, serta faktor lingkungan, seperti paparan asap rokok, debu, polusi udara, atau tinggal di daerah pemukiman padat penduduk.
Gejala pneumonia sering kali diawali dengan infeksi saluran pernapasan atas (hidung dan tenggorokan) yang biasanya muncul 2–3 hari setelah tubuh terinfeksi. Namun, berbeda dengan pneumonia pada umumnya, beberapa gejala pneumonia yang menyerang anak dapat disertai peningkatan laju pernapasan (takipnea) dan tarikan dinding dada saat bernapas.
Gejala yang ditunjukkan oleh setiap anak penderita pneumonia juga bisa berbeda-beda, tergantung dari penyebabnya. Apabila penyebabnya bakteri, maka beberapa gejala yang biasanya muncul yaitu demam, tampak sesak napas, muntah atau diare, batuk kering atau berdahak disertai lendir, kelelahan, kehilangan nafsu makan, pada kondisi lebih parah, terjadi perubahan warna bibir dan kuku membiru (sianosis).
Gejala pneumonia yang disebabkan oleh virus sebenarnya hampir mirip dengan pneumonia akibat bakteri. Namun, kemunculannya terjadi secara perlahan.
Cara mengatasi pneumonia pada anak akan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Perawatan untuk pasien pneumonia yang disebabkan oleh bakteri tentu akan berbeda dengan pasien pneumonia yang disebabkan oleh virus.
Dokter biasanya akan meresepkan obat antibiotik untuk mengobati pneumonia yang terjadi akibat infeksi bakteri. Pada kondisi ringan, umumnya kondisi anak akan membaik setelah 48 jam mengonsumsi antibiotik. Penting untuk diingat bahwa obat antibiotik harus dihabiskan meskipun kondisi anak sudah membaik. Anak mungkin akan mengalami batuk selama tiga minggu setelah perawatan selesai, namun kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan karena akan berangsur sembuh dengan sendirinya.
Dokter juga dapat memberi obat-obatan untuk meredakan gejala yang dialami oleh si kecil. Perlu diketahui, pneumonia akibat virus biasanya tidak menimbulkan gejala berat seperti pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Meski begitu, masa pemulihan pneumonia akibat virus biasanya membutuhkan waktu lebih lama yaitu sekitar empat minggu.
Pneumonia merupakan penyakit menular yang dapat menyebar melalui droplet (percikan air liur). Untuk mencegah penularannya, usahakan agar anak tidak melakukan kontak langsung dengan penderita pneumonia.
Selain itu, pneumonia pada anak juga dapat dicegah melalui beberapa upaya seperti mencukupi kebutuhan gizi anak. Berikan ASI kepada anak/bayi setidaknya selama 6 bulan pertama, dan juga cukupi kebutuhan nutrisinya selama MPASI dengan memberikan asupan buah, sayur, dan makanan bergizi lainnya.
Kemudian melengkapi imunisasi anak. Pastikan anak sudah mendapatkan vaksin pneumonia. Tak lupa juga menerapkan perilaku hidup sehat sejak dini. Biasakan anak untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum/sesudah makan, pastikan juga kebersihan rumah dan makanan yang dikonsumsi anak terjaga dengan baik. (Z-1)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Pendekatan life-course immunization menjadi fokus utama di IVAXCON 2026 untuk memperkuat perlindungan kesehatan dari bayi hingga lansia dan melawan misinformasi.
Bertambahnya suhu bumi membuat kuman maupun virus bisa bertumbuh dengan lebih subur sehigga cukup berbahaya pada anak yang belum terproteksi dengan imunisasi rutin.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Andi Kurniawan Sp.KO ingatkan jemaah haji waspadai risiko diabetes, hipertensi, hingga jantung akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved