Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
VAKSIN herpes zoster (shingles) mungkin dapat mencegah atau menunda terjadinya demensia, menurut data baru yang menarik perhatian.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada 23 April di jurnal JAMA, para peneliti menganalisis rekam medis elektronik dari seluruh Australia. Mereka menemukan lansia yang memenuhi syarat untuk menerima vaksin herpes zoster gratis secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk didiagnosis menderita demensia dalam 7,4 tahun berikutnya dibandingkan mereka yang sedikit terlalu tua untuk memenuhi syarat program vaksinasi tersebut.
Temuan ini mendukung hipotesis viral terhadap penyakit Alzheimer, yang menyatakan infeksi virus berkontribusi terhadap perkembangan kondisi ini. Secara khusus, hipotesis ini mengarah pada kelompok virus herpes, termasuk virus varicella-zoster, penyebab cacar air dan herpes zoster.
Jika dikonfirmasi melalui penelitian tambahan, hasil studi ini menunjukkan alat yang efektif dan berbiaya rendah untuk mengurangi risiko demensia mungkin sudah tersedia.
“Sulit membayangkan ada hal lain selain vaksin yang dapat menjelaskan efek perlindungan yang kuat ini,” ujar Dr. Sten Vermund, dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas South Florida, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, kepada Live Science melalui email.
Jika seseorang pernah terkena cacar air, virus varicella-zoster bisa tetap tidak aktif di sistem saraf selama beberapa dekade sebelum aktif kembali sebagai herpes zoster. Kemampuan untuk tetap tersembunyi dan kemudian “terbangun kembali” adalah ciri khas dari virus herpes.
Vaksin herpes zoster membantu membangun kekebalan dan mencegah reaktivasi virus, sehingga sangat efektif dalam mencegah herpes zoster dan komplikasinya, seperti nyeri saraf jangka panjang, kehilangan penglihatan, dan risiko infeksi kulit bakteri.
Studi-studi sebelumnya menunjukkan orang lanjut usia yang telah divaksinasi herpes zoster cenderung memiliki tingkat demensia yang lebih rendah. Namun, studi tersebut memiliki kelemahan utama: orang yang memilih untuk divaksinasi biasanya lebih sadar kesehatan, memiliki pola makan sehat, dan rutin berolahraga. Jadi, meskipun ada korelasi, tidak dapat disimpulkan vaksinasilah penyebabnya.
Uji coba klinis berskala besar secara acak akan menjadi cara terbaik untuk membuktikan apakah vaksin benar-benar melindungi dari demensia, tetapi uji coba semacam itu mahal dan berisiko secara etis karena menahan vaksin dari sebagian peserta.
Dr. Logan DuBose, pendiri Olera.care, mengatakan, “Akan lebih baik jika ada studi acak dan terkontrol yang membandingkan vaksin herpes dengan plasebo, daripada studi observasional retrospektif seperti ini. Namun, karena vaksin terbukti efektif melawan herpes zoster, ada tantangan etis untuk tidak memberikannya kepada sebagian orang.”
Peneliti studi baru ini mengambil pendekatan berbeda. “Yang membuat studi kami istimewa adalah kami memanfaatkan skenario yang sangat mirip dengan uji coba acak,” kata penulis senior Dr. Pascal Geldsetzer dari Universitas Stanford.
Program vaksinasi herpes zoster diluncurkan di Australia pada 1 November 2016. Program ini memberikan vaksin gratis kepada orang berusia 70–79 tahun. Mereka yang berusia tepat 80 tahun sebelum program dimulai tidak memenuhi syarat, sementara yang berusia 80 tahun tepat setelahnya memenuhi syarat.
“Seperti dalam uji coba klinis, kami memiliki kelompok yang memenuhi syarat vaksin dan yang tidak, dan mereka pada dasarnya sangat mirip — satu-satunya perbedaan adalah mereka lahir beberapa hari lebih awal atau lebih lambat,” kata Geldsetzer.
Para peneliti menganalisis data dari lebih dari 101.200 individu di 65 praktik medis umum di Australia, dengan fokus pada mereka yang lahir tepat sebelum dan sesudah 2 November 1936 — tanggal batas kelayakan vaksinasi.
Selama 7,4 tahun masa tindak lanjut, tingkat demensia pada kelompok yang memenuhi syarat vaksinasi lebih rendah 1,8 poin persentase dibandingkan yang tidak memenuhi syarat. Secara keseluruhan, 3,7% dari kelompok yang memenuhi syarat didiagnosis demensia, dibandingkan 5,5% dari kelompok yang tidak.
Efek ini tidak ditemukan pada kondisi kronis lainnya seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, atau diabetes — menunjukkan bahwa vaksin herpes zoster memberikan efek perlindungan khusus terhadap demensia. Tidak ada pula peningkatan dalam layanan pencegahan lain, seperti skrining kanker atau vaksin flu tahunan di antara yang memenuhi syarat vaksin — semakin memperkuat kemungkinan bahwa perbedaan demensia ini disebabkan oleh vaksin itu sendiri.
Geldsetzer dan timnya sebelumnya melakukan analisis serupa di Wales dan menemukan bahwa vaksin herpes zoster dikaitkan dengan penurunan 20% tingkat diagnosis demensia baru pada individu yang divaksinasi.
“Saya awalnya berpikir bahwa perbedaannya hanya sedikit, hanya 1,8% lebih kecil kemungkinannya untuk didiagnosis,” kata DuBose. “Namun, dua studi yang dirancang baik dan menunjukkan hal yang sama membuat temuan ini sangat meyakinkan.”
DuBose mencatat bahwa studi ini bisa diperluas dengan meneliti apakah efek vaksin berbeda tergantung pada latar belakang genetik seseorang. Misalnya, varian gen APOE4 dikenal terkait dengan demensia, dan efek vaksin bisa saja berbeda berdasarkan faktor genetik ini.
Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami mekanisme perlindungan vaksin terhadap demensia. Salah satu teori menyebutkan bahwa reaktivasi virus varicella-zoster dapat menyebabkan kerusakan otak melalui berbagai mekanisme, termasuk penumpukan protein abnormal dan peradangan kronis. Dengan mencegah reaktivasi, vaksin mungkin mencegah kerusakan tersebut.
Hipotesis lain menyatakan bahwa vaksin bekerja bukan dengan menargetkan virus secara langsung, melainkan dengan menyesuaikan sistem kekebalan tubuh sehingga memperlambat atau mengubah jalannya perkembangan demensia.
Kini, Geldsetzer dan timnya sedang mencari dana dari pihak swasta dan filantropis untuk meluncurkan uji klinis resmi guna menguji kemampuan vaksin herpes zoster dalam melindungi dari demensia. (Live Science/Z-2)
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, virus cacar air tetap “tidur” dalam tubuh dan bisa aktif kembali jadi herpes zoster. Kenali risiko dan pencegahannya.
Virus varicella-zoster dapat aktif kembali saat sistem kekebalan tubuh melemah. Ketika aktif, virus ini tidak lagi menyebabkan cacar air, melainkan muncul sebagai herpes zoster
Dokter spesialis Vito A. Damay memperingatkan virus cacar air tetap tinggal di saraf dan bisa memicu cacar api saat imunitas turun.
Kenali cacar api (herpes zoster), penyebab, gejala nyeri hebat, serta cara pengobatan dan pencegahannya agar tidak menimbulkan komplikasi serius.
Kenali gejala cacar api (herpes zoster) yang menyakitkan, penyebab virus aktif kembali, serta cara pengobatan efektif untuk mencegah komplikasi saraf.
Survei global GSK mengungkap risiko cacar api pada lansia dengan penyakit kronis. Di Indonesia, biaya rawat inap mencapai Rp10 juta per kasus.
Peneliti temukan rasio neutrofil dalam darah berkaitan dengan risiko Alzheimer. Simak bagaimana tes darah biasa bisa jadi deteksi dini demensia sebelum gejala muncul.
Temukan bagaimana latihan beban atau resistance training dapat menurunkan risiko demensia dan Alzheimer berdasarkan temuan jurnal penelitian medis terbaru.
Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko demensia seperti Alzheimer.
5 kebiasaan sehari-hari seperti kurang tidur hingga pola makan buruk diam-diam merusak otak dan meningkatkan risiko demensia, menurut studi ilmiah terbaru.
Terminal lucidity adalah lonjakan kesadaran sesaat sebelum meninggal. Ini penjelasan ilmiah, tanda-tanda, dan fakta medisnya.
Terminal lucidity adalah fenomena kejernihan mendadak sebelum kematian pada pasien demensia. Simak penjelasan, ciri, dan fakta ilmiahnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved