Tes Darah Rutin Bisa Prediksi Risiko Alzheimer Bertahun-tahun Lebih Awal

Thalatie K Yani
23/4/2026 13:15
Tes Darah Rutin Bisa Prediksi Risiko Alzheimer Bertahun-tahun Lebih Awal
Ilustrasi(freepik)

PENANDA darah rutin yang biasanya digunakan untuk mendeteksi peradangan ternyata dapat mengungkap risiko penyakit Alzheimer bertahun-tahun sebelum gejala muncul. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar neutrofil yang tinggi, bagian dari garda terdepan sistem kekebalan tubuh, berkaitan erat dengan peluang lebih besar terkena demensia di masa depan.

Para ilmuwan dari NYU Langone Health menggunakan pengukuran sederhana yang disebut Neutrophil to Lymphocyte Ratio (NLR). Angka ini biasanya dihitung dari tes hitung darah lengkap (complete blood count) yang sering digunakan dokter untuk mengecek infeksi umum. Studi ini melibatkan data dari hampir 400.000 pasien di dua sistem layanan kesehatan besar di Amerika Serikat.

Deteksi Dini Sebelum Penurunan Kognitif

Temuan ini menjadi sangat penting karena peningkatan neutrofil terjadi jauh sebelum ada bukti penurunan fungsi kognitif pada pasien. Hal ini membuka peluang bagi tenaga medis untuk memantau individu yang berisiko lebih awal.

"Studi kami adalah investigasi skala besar pertama yang menunjukkan bahwa metrik neutrofil dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia pada manusia," ujar penulis pertama studi, Tianshe (Mark) He, PhD, ilmuwan data di NYU Grossman School of Medicine. "Peningkatan neutrofil terjadi sebelum adanya bukti penurunan kognitif, yang memberikan alasan kuat untuk mempelajari apakah neutrofil secara aktif berkontribusi pada progresi penyakit."

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Alzheimer's & Dementia ini menemukan bahwa tingkat NLR yang tinggi secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan terkena Alzheimer, baik untuk risiko jangka pendek maupun jangka panjang. Analisis tersebut juga mencatat risiko yang lebih tinggi pada pasien wanita dan kelompok etnis Hispanik.

Apakah Sel Imun Menjadi Pemicu Penyakit?

Neutrofil sangat penting untuk melawan infeksi, namun dalam kondisi tertentu, sel ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan jaringan otak. Bukti peradangan yang didorong oleh neutrofil telah diamati pada otak pasien Alzheimer, dan studi pada hewan menunjukkan sel-sel ini dapat mempercepat perkembangan penyakit.

Dr. Jaime Ramos-Cejudo, asisten profesor di NYU Grossman School of Medicine, menjelaskan bahwa meski NLR tinggi mungkin tidak menjadi prediktor tunggal yang pasti, alat ini bisa menjadi "pintu masuk" diagnostik yang krusial.

"Studi ini dan studi masa depan akan menunjukkan apakah neutrofil hanyalah penanda penyakit Alzheimer atau secara aktif menyebabkan progresi demensia, di mana jika benar, mereka bisa menjadi target terapi yang menarik," kata Dr. Ramos-Cejudo. "Sementara itu, kami berharap rasio neutrofil terhadap limfosit dapat berkontribusi pada alat diagnostik pembuka bagi orang yang berisiko terkena Alzheimer dan demensia, sehingga mereka bisa mendapatkan pengujian dan intervensi yang lebih mendalam jauh sebelum mereka mengalami penurunan kognitif."

Saat ini, para peneliti terus menyelidiki hubungan langsung sebab-akibat antara aktivitas neutrofil dengan penurunan kognitif melalui pemindaian otak tingkat lanjut dan penilaian kognitif pasien. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya