Tak Hanya Paru-paru, Rokok Juga Ancam Kesehatan Otak

Abi Rama
17/4/2026 09:23
Tak Hanya Paru-paru, Rokok Juga Ancam Kesehatan Otak
Ilustrasi(freepik)

KEBIASAAN merokok tidak hanya berdampak pada paru-paru dan jantung, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan otak. Sejumlah penelitian menunjukkan merokok dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia, baik jika dilakukan pada usia paruh baya maupun saat lanjut usia.

Bukti ilmiah yang ada mengaitkan rokok dengan meningkatnya risiko gangguan pembuluh darah. Kondisi ini berperan penting dalam munculnya dua jenis demensia yang paling umum, yaitu Alzheimer dan demensia vaskular. Selain itu, zat beracun dalam asap rokok juga dapat memicu peradangan serta stres pada sel-sel tubuh, yang diketahui berkaitan dengan kerusakan otak.

Penelitian yang dikutip dari laman Alzheimer;s Society ini menyebut jumlah konsumsi rokok berpengaruh terhadap risiko demensia. Semakin banyak seseorang merokok, semakin tinggi pula risikonya.

Rokok Elektronik dan Nikotin, Lebih Aman?

Penggunaan rokok elektronik atau e-cigarette dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok tembakau, terutama terkait kanker. Risiko penyakit jantung dan paru juga diperkirakan lebih kecil, meski belum sepenuhnya terbukti.

Jika hal ini benar, beralih ke rokok elektronik kemungkinan dapat membantu menurunkan risiko demensia. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Sementara itu, nikotin sebagai salah satu kandungan dalam rokok sempat dikaitkan dengan kemungkinan efek perlindungan terhadap demensia dalam beberapa studi. Namun, para ahli menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak sebanding dengan dampak buruk dari zat beracun lain dalam rokok. Karena itu, konsumsi nikotin melalui rokok tetap tidak dianjurkan.

Perokok Pasif Juga Terancam

Tidak hanya perokok aktif, paparan asap rokok dari lingkungan sekitar atau perokok pasif juga berisiko. Penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk kemungkinan demensia di kemudian hari. Bahkan, semakin tinggi tingkat paparan terhadap asap rokok, semakin besar pula risiko yang mungkin dihadapi.

Kabar baiknya, berhenti merokok dapat membantu menurunkan risiko demensia. Mantan perokok diketahui tidak memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok, meski belum diketahui secara pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga risiko tersebut benar-benar menurun.

Para ahli menyarankan agar seseorang berhenti merokok sedini mungkin dan mempertahankan kondisi bebas rokok dalam jangka panjang untuk mendapatkan manfaat maksimal. Langkah ini juga terbukti dapat menurunkan risiko penyakit lain seperti penyakit jantung dan kanker.

Berbagai cara bisa dilakukan untuk berhenti merokok, mulai dari konsultasi dengan tenaga medis, menetapkan target waktu, hingga memanfaatkan terapi pengganti nikotin atau layanan pendukung lainnya. (Alzheimer’s Society/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya