Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIASAAN merokok tidak hanya berdampak pada paru-paru dan jantung, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan otak. Sejumlah penelitian menunjukkan merokok dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia, baik jika dilakukan pada usia paruh baya maupun saat lanjut usia.
Bukti ilmiah yang ada mengaitkan rokok dengan meningkatnya risiko gangguan pembuluh darah. Kondisi ini berperan penting dalam munculnya dua jenis demensia yang paling umum, yaitu Alzheimer dan demensia vaskular. Selain itu, zat beracun dalam asap rokok juga dapat memicu peradangan serta stres pada sel-sel tubuh, yang diketahui berkaitan dengan kerusakan otak.
Penelitian yang dikutip dari laman Alzheimer;s Society ini menyebut jumlah konsumsi rokok berpengaruh terhadap risiko demensia. Semakin banyak seseorang merokok, semakin tinggi pula risikonya.
Penggunaan rokok elektronik atau e-cigarette dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok tembakau, terutama terkait kanker. Risiko penyakit jantung dan paru juga diperkirakan lebih kecil, meski belum sepenuhnya terbukti.
Jika hal ini benar, beralih ke rokok elektronik kemungkinan dapat membantu menurunkan risiko demensia. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Sementara itu, nikotin sebagai salah satu kandungan dalam rokok sempat dikaitkan dengan kemungkinan efek perlindungan terhadap demensia dalam beberapa studi. Namun, para ahli menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak sebanding dengan dampak buruk dari zat beracun lain dalam rokok. Karena itu, konsumsi nikotin melalui rokok tetap tidak dianjurkan.
Tidak hanya perokok aktif, paparan asap rokok dari lingkungan sekitar atau perokok pasif juga berisiko. Penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk kemungkinan demensia di kemudian hari. Bahkan, semakin tinggi tingkat paparan terhadap asap rokok, semakin besar pula risiko yang mungkin dihadapi.
Kabar baiknya, berhenti merokok dapat membantu menurunkan risiko demensia. Mantan perokok diketahui tidak memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok, meski belum diketahui secara pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga risiko tersebut benar-benar menurun.
Para ahli menyarankan agar seseorang berhenti merokok sedini mungkin dan mempertahankan kondisi bebas rokok dalam jangka panjang untuk mendapatkan manfaat maksimal. Langkah ini juga terbukti dapat menurunkan risiko penyakit lain seperti penyakit jantung dan kanker.
Berbagai cara bisa dilakukan untuk berhenti merokok, mulai dari konsultasi dengan tenaga medis, menetapkan target waktu, hingga memanfaatkan terapi pengganti nikotin atau layanan pendukung lainnya. (Alzheimer’s Society/Z-2)
Peneliti temukan rasio neutrofil dalam darah berkaitan dengan risiko Alzheimer. Simak bagaimana tes darah biasa bisa jadi deteksi dini demensia sebelum gejala muncul.
Temukan bagaimana latihan beban atau resistance training dapat menurunkan risiko demensia dan Alzheimer berdasarkan temuan jurnal penelitian medis terbaru.
5 kebiasaan sehari-hari seperti kurang tidur hingga pola makan buruk diam-diam merusak otak dan meningkatkan risiko demensia, menurut studi ilmiah terbaru.
Terminal lucidity adalah lonjakan kesadaran sesaat sebelum meninggal. Ini penjelasan ilmiah, tanda-tanda, dan fakta medisnya.
Terminal lucidity adalah fenomena kejernihan mendadak sebelum kematian pada pasien demensia. Simak penjelasan, ciri, dan fakta ilmiahnya.
Jalan kaki, berkebun, hingga pekerjaan rumah tangga dapat membantu menurunkan risiko demensia. Aktivitas fisik ringan pun bermanfaat bagi otak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved