Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak Meta Hanindita mengatakan miskonsepsi mengenai stunting masih terjadi di antara para orangtua sehingga pemberian nutrisi pada balita menjadi kurang optimal.
Menurut Meta, orangtua kerap mengaitkan stunting dengan faktor keturunan, misalnya apabila orangtua memiliki tinggi badan yang tidak ideal maka anaknya pun demikian. Padahal, kata Meta, hal tersebut justru keliru.
Selain itu, ia mengatakan masih banyak orangtua yang belum menerapkan praktik pemberian makanan pada balita dengan tepat.
Baca juga: Dirjen Yankes Abdul Kadir : Cegah Stunting Tanggung Jawab Bersama
"Sebagai contoh, saat memberikan MPASI (makanan pendamping ASI) masih ada yang memakai menu tunggal untuk anak di atas dua tahun. Mereka berpikir, 'Oh di atas 2 tahun ini makannya lebih bebas', tapi kemudian sebebas-bebasnya itu tidak memperhitungkan seberapa banyak protein hewaninya, seberapa banyak sumber lemak, dan sebagainya," kata Meta saat bincang-bincang virtual, Rabu (22/12).
Ia mengatakan para orangtua kerap menganggap enteng menu makanan balita di atas dua tahun. Padahal, tambah Meta, periode setelah 1.000 hari pertama pada pertumbuhan anak juga termasuk periode yang penting.
"Walaupun memang 1.000 hari pertama termasuk periode kritis, tapi periode setelahnya, 2 hingga 5 tahun masih periode pertumbuhan dan perkembangan anak yang pesat," tutur dokter yang menjadi anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.
Oleh sebab itu, kemungkinan stunting masih dapat terjadi pada balita hingga usia 5 tahun, meski angka persentase kasus stunting pada periode tersebut tidak setinggi bila dibandingkan dengan periode 1.000 hari pertama.
Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka stunting di Indonesia masih berada pada kisaran 30,8%, artinya 1 dari 3 balita di Indonesia masih mengalami stunting.
"Itu adalah angka yang cukup tinggi. Makanya, Pak Presiden Jokowi juga memerintahkan percepatan penurunan angka stunting hingga 14%," ungkap Meta.
Stunting merupakan salah satu kondisi kekurangan nutrisi berkepanjangan sehingga menyebabkan balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang.
Kondisi stunting diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO.
"Stunting dampaknya banyak, mulai dari menurunnya daya tahan tubuh, menurunnya IQ, menurunnya kapasitas pendidikan dan pekerjaan, sampai dengan meningkatkan berbagai risiko penyakit saat dewasa," kata Meta.
Kekurangan nutrisi berkepanjangan biasanya berhubungan dengan faktor sosial ekonomi yang rendah.
Menurut Meta, faktor stunting tidak berhenti pada sosial ekonomi saja, melainkan juga faktor edukasi praktik pemberian makanan yang benar juga masih rendah di kalangan masyarakat.
Terkait faktor sosial ekonomi, Meta menegaskan pemberian makanan yang ideal pada balita tidak harus terpaku pada menu-menu yang mahal dan tidak terjangkau, seperti ikan salmon, extra virgin oil, dan lainnya.
"Gunakan saja apa yang ada. Sebagai contoh, ada penelitian yang menunjukkan konsumsi 1 butir telur 1 hari secara rutin, itu bisa menurunkan risiko stunting. Tidak perlu mahal. WHO sendiri bilang prinsipnya adalah locally available and affordable, yang tersedia secara lokal dengan harga terjangkau," pungkasnya. (Ant/OL-1)
Kemenkes RI luncurkan Konsorsium 1000 HPK bersama Rabu Biru Foundation untuk mengintegrasikan intervensi kesehatan ibu dan anak demi target Indonesia Emas 2045.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat prevalensi stunting di wilayah tersebut berada di kisaran 26,1 persen dan ditargetkan turun sebesar lima persen pada 2026.
Studi IHDC mengungkap hubungan signifikan antara stunting, anemia, dan rendahnya kemampuan working memory pada anak usia sekolah di Indonesia.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan targetkan angka stunting turun ke 7% pada 2026 melalui kolaborasi stakeholder dan penguatan peran SPPG.
IDAI ingatkan orangtua mengenai pentingnya kurva pertumbuhan untuk pantau tumbuh kembang anak secara akurat dan cegah salah diagnosis stunting.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
IU kembali mencuri perhatian usai mengungkap pola makan ringannya di YouTube. Penyanyi dan aktris itu mengaku hanya makan apel dan blueberry.
Tinggi badan anak dipengaruhi banyak faktor selain genetik, seperti gizi, tidur cukup, dan olahraga. Pelajari cara mendukung pertumbuhannya dengan tepat!
Calon haji disarankan menyiapkan fisik satu bulan sebelum berangkat. Simak tips latihan stamina dan pola makan sehat dari pakar kesehatan.
Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis menyarankan calon jamaah haji menjaga pola makan dan hidrasi sejak sebulan sebelum berangkat demi stamina optimal.
Lansia yang paling disiplin menjalankan diet MIND mengalami perubahan otak yang setara dengan penundaan penuaan selama 2,5 tahun dibandingkan mereka yang tidak.
Studi terbaru ungkap diet MIND bisa memperlambat penuaan otak hingga 2,5 tahun. Tapi benarkah efeknya sebesar itu? Simak faktanya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved