Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa memantau tumbuh kembang anak tidak cukup hanya dengan mengukur tinggi badan. Penggunaan kurva pertumbuhan menjadi instrumen krusial sebagai alat utama untuk memantau perkembangan sekaligus mendeteksi dini berbagai gangguan kesehatan pada anak.
Dokter spesialis dari Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, Prof. dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A, Subsp.Endo(K), Ph.D, menjelaskan bahwa kurva pertumbuhan bukan sekadar grafik angka. Kurva tersebut merupakan gambaran pola pertumbuhan anak yang harus dibaca secara berkesinambungan.
“Kalau sudah diukur tingginya, kita belum bisa interpretasi. Harus diplot dulu ke kurva pertumbuhan. Di sinilah pentingnya kurva pertumbuhan,” ujar Prof. Jose dalam webinar bertajuk “Mengenal dan Memahami Kurva Pertumbuhan pada Anak”, dikutip Jumat (17/4).
Prof. Jose menggarisbawahi bahwa pemantauan pertumbuhan harus dilakukan secara akurat dengan teknik pengukuran yang benar. Kesalahan posisi tubuh saat pengukuran dapat menghasilkan data yang tidak akurat, yang berisiko memicu kesalahan diagnosis oleh tenaga kesehatan.
Selain teknik yang benar, frekuensi pengukuran juga menjadi kunci. Menurutnya, pemantauan tidak boleh hanya dilakukan satu kali karena tidak akan memperlihatkan tren pertumbuhan yang sebenarnya.
| Aspek Pemantauan | Ketentuan / Penjelasan |
|---|---|
| Frekuensi Minimal | Dua kali pengukuran |
| Jarak Pengukuran | 3 hingga 6 bulan sekali |
| Tujuan Plotting | Menilai tren pertumbuhan (normal, pendek, atau berlebih) |
| Usia Kritis Kanalisasi | Di bawah 2-3 tahun (masih bisa berubah jalur pertumbuhan) |
| Stabilitas Jalur | Setelah usia 3 tahun (pertumbuhan harus stabil di jalurnya) |
Salah satu poin krusial yang disampaikan IDAI adalah pemilihan kurva yang sesuai dengan populasi. Prof. Jose memperingatkan bahwa penggunaan kurva internasional tanpa penyesuaian dapat menyebabkan salah interpretasi, termasuk risiko overdiagnosis stunting.
“Kalau kita pakai kurva yang tidak sesuai, anak bisa terlihat pendek padahal sebenarnya normal,” tegasnya. Dengan kurva yang tepat, tenaga kesehatan dapat lebih akurat mendeteksi penyakit kronis atau gangguan hormonal, seperti kekurangan hormon pertumbuhan.
Melalui edukasi ini, IDAI berharap para orangtua dapat lebih proaktif dan memahami cara membaca kurva pertumbuhan. Keterlibatan aktif orang tua dalam memantau grafik pertumbuhan di buku kesehatan anak sangat penting agar intervensi medis dapat dilakukan lebih cepat jika ditemukan adanya penyimpangan pola pertumbuhan. (Ant/Z-1)
IDAI mendorong daycare mematuhi regulasi PAUD dan standar nasional untuk mencegah kekerasan anak serta memastikan tumbuh kembang yang optimal.
Setiap lembaga pengasuhan anak wajib menyediakan fasilitas yang dapat dipantau langsung, seperti CCTV, agar orang tua memiliki akses terhadap apa yang terjadi pada anaknya.
Guru daycare diharapkan memiliki kompetensi pemenuhan kesehatan anak, termasuk apabila terjadi kecelakaan seperti tersedak, tersetrum, dan sebagainya.
IDAI menegaskan bahwa daycare atau Taman Penitipan Anak (TPA) seharusnya dipahami sebagai tempat pengasuhan, bukan sekadar tempat menitipkan anak.
Campak kembali mengancam anak-anak di Indonesia. IDAI ungkap satu penderita bisa menulari hingga 18 orang, risiko pneumonia hingga kematian meningkat.
IDAI menyatakan vaksin influenza trivalen aman bagi balita mulai usia 6 bulan, ibu menyusui, dan komorbid. Simak dosis dan rekomendasi WHO terbaru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved