IDAI Tekankan Pentingnya Kurva Pertumbuhan Anak untuk Deteksi Dini Gangguan Kesehatan

Basuki Eka Purnama
17/4/2026 14:49
IDAI Tekankan Pentingnya Kurva Pertumbuhan Anak untuk Deteksi Dini Gangguan Kesehatan
Ilustrasi--Kader posyandu mengukur tinggi badan anak balita saat layanan pemeriksaan kesehatan gratis di Posyandu Dahlia, Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/12/2025).(ANTARA/Makna Zaezar)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa memantau tumbuh kembang anak tidak cukup hanya dengan mengukur tinggi badan. Penggunaan kurva pertumbuhan menjadi instrumen krusial sebagai alat utama untuk memantau perkembangan sekaligus mendeteksi dini berbagai gangguan kesehatan pada anak.

Dokter spesialis dari Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, Prof. dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A, Subsp.Endo(K), Ph.D, menjelaskan bahwa kurva pertumbuhan bukan sekadar grafik angka. Kurva tersebut merupakan gambaran pola pertumbuhan anak yang harus dibaca secara berkesinambungan.

“Kalau sudah diukur tingginya, kita belum bisa interpretasi. Harus diplot dulu ke kurva pertumbuhan. Di sinilah pentingnya kurva pertumbuhan,” ujar Prof. Jose dalam webinar bertajuk “Mengenal dan Memahami Kurva Pertumbuhan pada Anak”, dikutip Jumat (17/4).

Pentingnya Akurasi dan Pengukuran Berkala

Prof. Jose menggarisbawahi bahwa pemantauan pertumbuhan harus dilakukan secara akurat dengan teknik pengukuran yang benar. Kesalahan posisi tubuh saat pengukuran dapat menghasilkan data yang tidak akurat, yang berisiko memicu kesalahan diagnosis oleh tenaga kesehatan.

Selain teknik yang benar, frekuensi pengukuran juga menjadi kunci. Menurutnya, pemantauan tidak boleh hanya dilakukan satu kali karena tidak akan memperlihatkan tren pertumbuhan yang sebenarnya.

Aspek Pemantauan Ketentuan / Penjelasan
Frekuensi Minimal Dua kali pengukuran
Jarak Pengukuran 3 hingga 6 bulan sekali
Tujuan Plotting Menilai tren pertumbuhan (normal, pendek, atau berlebih)
Usia Kritis Kanalisasi Di bawah 2-3 tahun (masih bisa berubah jalur pertumbuhan)
Stabilitas Jalur Setelah usia 3 tahun (pertumbuhan harus stabil di jalurnya)

Mencegah Salah Diagnosis Stunting

Salah satu poin krusial yang disampaikan IDAI adalah pemilihan kurva yang sesuai dengan populasi. Prof. Jose memperingatkan bahwa penggunaan kurva internasional tanpa penyesuaian dapat menyebabkan salah interpretasi, termasuk risiko overdiagnosis stunting.

“Kalau kita pakai kurva yang tidak sesuai, anak bisa terlihat pendek padahal sebenarnya normal,” tegasnya. Dengan kurva yang tepat, tenaga kesehatan dapat lebih akurat mendeteksi penyakit kronis atau gangguan hormonal, seperti kekurangan hormon pertumbuhan.

Melalui edukasi ini, IDAI berharap para orangtua dapat lebih proaktif dan memahami cara membaca kurva pertumbuhan. Keterlibatan aktif orang tua dalam memantau grafik pertumbuhan di buku kesehatan anak sangat penting agar intervensi medis dapat dilakukan lebih cepat jika ditemukan adanya penyimpangan pola pertumbuhan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya