Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KUALITAS sumber daya manusia masa depan sangat bergantung pada status gizi anak saat ini. Namun, temuan terbaru dari lembaga Indonesia Health Development Center (IHDC) menunjukkan tantangan serius pada anak usia sekolah di Indonesia. Masalah anemia defisiensi besi, asupan gizi yang rendah, dan stunting terbukti berdampak langsung pada penurunan kemampuan kognitif, khususnya working memory.
Working memory atau memori kerja adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi secara sementara. Fungsi ini sangat krusial dalam proses belajar karena berperan dalam konsentrasi, pemahaman materi, hingga kemampuan anak menyelesaikan tugas sekolah sehari-hari.
Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Jumat (17/4), memaparkan bahwa anak-anak yang mengalami stunting, kekurangan asupan kalori, dan anemia memiliki performa working memory yang jauh lebih rendah dibandingkan anak sehat.
"Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak adalah fondasi utama generasi unggul. Sayangnya, anak usia sekolah kita masih menghadapi tantangan besar berupa kekurangan gizi dan anemia yang berpotensi menurunkan kemampuan belajar mereka," ujar Prof. Nila.
Studi tersebut juga menyoroti bahwa kadar hemoglobin yang rendah berkorelasi linear dengan lemahnya performa memori kerja. Hal ini menegaskan bahwa dampak anemia tidak hanya berhenti pada masalah kesehatan fisik, tetapi juga menghambat potensi akademik anak.
Berdasarkan hasil riset IHDC, angka prevalensi gangguan kesehatan dan kognitif pada anak sekolah cukup mengkhawatirkan. Berikut adalah ringkasan data temuan tersebut:
| Indikator | Temuan / Statistik |
|---|---|
| Prevalensi Anemia | 19,7% (Sekitar 1 dari 5 anak) |
| Kesulitan Working Memory | 22,1% anak sekolah |
| Risiko Anak Anemia | 2x lebih tinggi mengalami kesulitan proses informasi |
| Risiko Anak Stunting | 3x lebih tinggi mengalami defisit working memory |
Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menambahkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat konsisten antara status gizi dengan fungsi kognitif. Ia menjelaskan bahwa anemia pada anak umumnya dipicu oleh asupan protein dan zat besi yang belum optimal.
"Anak dengan stunting memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory. Ini adalah peringatan bahwa kekurangan gizi tidak hanya soal fisik yang pendek, tapi soal otak yang tidak bisa bekerja maksimal," tegas Ray.
Melalui hasil studi ini, IHDC menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi anak usia sekolah. Intervensi asupan protein dan zat besi menjadi harga mati agar anak-anak Indonesia mampu menyimpan dan mengolah informasi dengan baik, demi masa depan pendidikan yang lebih cerah. (Ant/Z-1)
Kemenkes RI luncurkan Konsorsium 1000 HPK bersama Rabu Biru Foundation untuk mengintegrasikan intervensi kesehatan ibu dan anak demi target Indonesia Emas 2045.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat prevalensi stunting di wilayah tersebut berada di kisaran 26,1 persen dan ditargetkan turun sebesar lima persen pada 2026.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan targetkan angka stunting turun ke 7% pada 2026 melalui kolaborasi stakeholder dan penguatan peran SPPG.
IDAI ingatkan orangtua mengenai pentingnya kurva pertumbuhan untuk pantau tumbuh kembang anak secara akurat dan cegah salah diagnosis stunting.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria memperingatkan risiko konsumsi susu berlebih yang dapat mengganggu penyerapan zat besi dan memicu anemia pada anak.
Kekurangan zat besi berdampak pada kecerdasan anak.
Memahami perbedaan antara pucat biasa dan pucat akibat gagal ginjal dapat menjadi langkah penyelamatan nyawa yang krusial bagi Anda dan keluarga.
Anemia renal adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah normal akibat penurunan fungsi ginjal, berbeda dengan anemia biasa.
Menu ini diharapkan bisa menjadi contoh bagaimana pangan lokal dan bahan tradisional dapat diolah menjadi makanan bergizi yang fungsional dan mudah diterima masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved