Dampak Stunting dan Anemia terhadap Working Memory Anak Sekolah

Basuki Eka Purnama
17/4/2026 17:21
Dampak Stunting dan Anemia terhadap Working Memory Anak Sekolah
Ilustrasi--Pendamping menemani anak balita saat minum susu di Rumah Pelita, Manyaran, Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/4/2026).(ANTARA/Aprillio Akbar)

KUALITAS sumber daya manusia masa depan sangat bergantung pada status gizi anak saat ini. Namun, temuan terbaru dari lembaga Indonesia Health Development Center (IHDC) menunjukkan tantangan serius pada anak usia sekolah di Indonesia. Masalah anemia defisiensi besi, asupan gizi yang rendah, dan stunting terbukti berdampak langsung pada penurunan kemampuan kognitif, khususnya working memory.

Working memory atau memori kerja adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi secara sementara. Fungsi ini sangat krusial dalam proses belajar karena berperan dalam konsentrasi, pemahaman materi, hingga kemampuan anak menyelesaikan tugas sekolah sehari-hari.

Kaitan Gizi Buruk dengan Kemampuan Belajar

Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Jumat (17/4), memaparkan bahwa anak-anak yang mengalami stunting, kekurangan asupan kalori, dan anemia memiliki performa working memory yang jauh lebih rendah dibandingkan anak sehat.

"Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak adalah fondasi utama generasi unggul. Sayangnya, anak usia sekolah kita masih menghadapi tantangan besar berupa kekurangan gizi dan anemia yang berpotensi menurunkan kemampuan belajar mereka," ujar Prof. Nila.

Studi tersebut juga menyoroti bahwa kadar hemoglobin yang rendah berkorelasi linear dengan lemahnya performa memori kerja. Hal ini menegaskan bahwa dampak anemia tidak hanya berhenti pada masalah kesehatan fisik, tetapi juga menghambat potensi akademik anak.

Data dan Risiko Defisit Kognitif

Berdasarkan hasil riset IHDC, angka prevalensi gangguan kesehatan dan kognitif pada anak sekolah cukup mengkhawatirkan. Berikut adalah ringkasan data temuan tersebut:

Indikator Temuan / Statistik
Prevalensi Anemia 19,7% (Sekitar 1 dari 5 anak)
Kesulitan Working Memory 22,1% anak sekolah
Risiko Anak Anemia 2x lebih tinggi mengalami kesulitan proses informasi
Risiko Anak Stunting 3x lebih tinggi mengalami defisit working memory

Urgensi Intervensi Gizi

Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menambahkan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat konsisten antara status gizi dengan fungsi kognitif. Ia menjelaskan bahwa anemia pada anak umumnya dipicu oleh asupan protein dan zat besi yang belum optimal.

"Anak dengan stunting memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory. Ini adalah peringatan bahwa kekurangan gizi tidak hanya soal fisik yang pendek, tapi soal otak yang tidak bisa bekerja maksimal," tegas Ray.

Melalui hasil studi ini, IHDC menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi anak usia sekolah. Intervensi asupan protein dan zat besi menjadi harga mati agar anak-anak Indonesia mampu menyimpan dan mengolah informasi dengan baik, demi masa depan pendidikan yang lebih cerah. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya