Pentingnya Zat Besi untuk Kognitif dan Kampanye Zat Besi Pas Bekerja Cerdas

Basuki Eka Purnama
15/4/2026 17:39
Pentingnya Zat Besi untuk Kognitif dan Kampanye Zat Besi Pas Bekerja Cerdas
Ilustrasi(Freepik)

KUALITAS sumber daya manusia (SDM) masa depan sangat bergantung pada pemenuhan nutrisi yang tepat sejak dini. Salah satu nutrisi esensial yang sering kali terabaikan namun memiliki dampak sistemik adalah zat besi. Tidak sekadar mencegah anemia, zat besi memegang peranan vital dalam mendukung kemampuan kognitif, konsentrasi, hingga produktivitas seseorang.

Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi, dr. Lucky Yogasatria, Sp.A, menjelaskan bahwa zat besi adalah komponen kunci dalam pembentukan sel darah merah dan pendukung fungsi otak.

"Zat besi berperan dalam pembentukan mielin saraf serta perkembangan otak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan," ujarnya dalam peluncuran kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas yang diinisiasi oleh Maltofer di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Dampak Tersembunyi Kekurangan Zat Besi

MI/HO--Peluncuran kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas yang diinisiasi oleh Maltofer di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Menurut Lucky, kekurangan zat besi tidak selalu muncul dalam bentuk gejala anemia yang nyata. Sering kali, tanda-tandanya bersifat subklinis namun merugikan perkembangan anak. Gejala awal dapat berupa penurunan nafsu makan, tubuh lemas, kurang aktif, hingga gangguan pada perkembangan bicara dan motorik.

Kondisi ini menjadi tantangan serius di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dan data global WHO, angka prevalensi anemia akibat kekurangan zat besi masih menunjukkan angka yang signifikan di berbagai kelompok usia.

Kelompok Populasi Prevalensi Anemia Sumber Data
Anak Usia 0–4 Tahun 23,8% SKI 2023
Anak Usia 5–14 Tahun 16,3% SKI 2023
Perempuan (Umum) 18% SKI 2023
Ibu Hamil (Global) 37% WHO

Strategi Pemenuhan dan Inovasi Suplementasi

Pemenuhan zat besi dapat dilakukan melalui asupan makanan hewani seperti daging merah, hati, dan ikan yang memiliki penyerapan lebih optimal dibandingkan sumber nabati. Namun, pada kelompok rentan seperti bayi berat lahir rendah, remaja putri, dan ibu hamil, suplementasi sering kali diperlukan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Menjawab kebutuhan tersebut, PT Combiphar melalui brand Maltofer memperkenalkan teknologi Iron Polymaltose Complex (IPC). Berbeda dengan suplemen zat besi konvensional, IPC memiliki mekanisme pelepasan terkendali yang diserap sesuai kebutuhan tubuh, sehingga meminimalisir efek samping pada saluran cerna seperti mual atau konstipasi.

Direktur PT Combiphar, Weitarsa Hendarto, menyatakan bahwa kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas adalah wujud komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi kesehatan yang relevan. "Kami ingin mendorong masyarakat untuk lebih memahami pentingnya pemenuhan zat besi secara tepat di setiap tahap kehidupan," tuturnya.

Melalui edukasi berkelanjutan, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya zat besi dapat meningkat, guna menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya