Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Membuat video pendek yang rata-rata berdurasi 60 detik di platform asal Tiongkok, Tiktok menjadi strategi baru yang digencarkan Nurfaidah, 35.
Berprofesi sebagai guru kelas 5 di SDN 131 Kota Jambi, ia rela terjun menjadi tiktoker agar anak muridnya lebih paham akan pelajaran yang ia berikan.
Ya, menurutnya, Tiktok yang kini digandrungi oleh anak muda bukan hanya untuk konten hiburan, namun bisa juga digunakan sebagai menyebarkan konten edukasi. Terlebih selama pandemi Covid-19 pengguna internet meningkat karena proses pembelajaran siswa harus dilakukan jarak jauh.
"Dengan mendekatkan apa yang mereka sukai seperti Tiktok, saya yakin ini akan berbuah positif, misalnya ketika awal diberi tayangan edukasi ini mereka asyik sendiri karena ada musiknya juga jadi diulang-ulang terus," kata perempuan yang akrab disapa Nufa kepada Media Indonesia, Minggu (28/3).
Baca juga: Belum ada, Ketentuan Final Pelaksanaan Vaksin Gotong Royong
Nufa mengaku membuat video pendek ini merupakan selingan dari pembelajaran jarak jauh yang umumnya diberikan berupa slide show pada aplikasi zoom maupun Youtube. Link tayangan ini bisanya juga di bagikan melalui Whatapps Group. Konten yang ia buat seputar pelajaran Bahasa Indonesia tentang cara mudah membuat peta pikiran.
Namun, materi di Youtube yang memiliki durasi minimal 9 menit itu rupanya cukup membuat para murid bosan sehingga tak jarang pesannya pun tak tersampaikan. "Kadang murid bertanya tugasnya dimana, padahal ada di akhir video. Berarti kan mereka tidak menontonnya sampai selesai," kata Nufa.
Video Tiktok yang singkat menjadi solusi baginya untuk memberikan pembelajaran kepada anak tanpa merasa bosan karena diiringi dngan musik bahkan visual yang beragam.
Ia selalu memposisikan dirinya sebagai murid agar pesannya samapai kepada murid. Lantaran berdurasi pendek, sebelum membuat video ia akan membuat ringkasan materi yang akan disampailan. "Ini menjadi salah satu tantangannya sih, kita harus memilih yang penting agar durasi yang pendek bisa memuat semuanya," kata Nufa.
Nufa yang baru menginstal dan memulai membagikan video Tiktok sejak 3 bulan lalu ini beradapasi cepat dengan teknologi media sosial, bahan tak jarang ia yang memiliki 4 orang anak ini sering berdiskusi kepada anaknya mengatur video, seperti durasi, background, musik dan sebagainya.
Di SDN 131 Kota Jambi ia menjadi pelopor dalam hal konten edukasi pada pembelajaran. Apresiasi pun ia dapatkan dari Kepala Sekolahnya, yang kemudian akan dicanangkan beberapa guru melakukan hal serupa.
Memiliki niat yang sama agar masyarakat tercerahkan oleh konten edukasi, akun Tiktok Amanda Syafitri @amandasyf pun membagikan hal serupa. Bedanya ia merefleksikan pengalaman anaknya yang mengalami perundungan untuk membuat konten positif.
"Nangis banget liat ini, anakku jadi korban bullying. Anakku menggunting rambutnya sendiri di kamar dengan gunting belajarnya," tulisnya dalam video yang diunggah Senin (15/3) yang juga telah ditonton 552 ribu orang itu.
Video tersebut memperlihatkan rambut anaknya yang telah terpotong. Anaknya menjadi korban perundungan teman-temannya yang mana mengatakan rambut anaknya tersebut jelak. Ia mengatakan, perundungan bukan lagi disebut bercanda.
"Jangan katakan bercanda, sebab pem-bully lahir dari mereka yang menganggap perkataan negatif anaknya tentang anak lain adalah bercanda," tulisnya.
Konten mengenai edukasi bully ini pun terus berkembang, ia bahkan menjawb komentar-komentar nya lwat video sembari dirinya menata hati agar dirinya tak berlarut dalam kesedian itu.
Sementara itu, Youtuber cilik bernama Adinda Zahra Leony, 6, meskipun dirinya berkecimpung dalam dunia ineternet, bahkan ia tetap membatasai diri pada penggunaan gadget.
"Aku punya Ipad buat main game dan nonton Youtube tapi itu boleh dipakai weekend atau libur itu juga kalau tugas sekolah sudah selesai," kata Adinda.
Adinda memang tak perneh menargetkan membuat video ataupun jumlah subscibers. Youtube-nya dibuat sebagai wadah menyimpan momen tertentu sehingga tak ada paksaan untuk selalu mengakses internet.
Tak hanya itu, ibunda Adinda, Novita, 42 membentengi dirinya dari konten negatif dengan menanamkan internet sehat. Jika ia menginginkan satu gim atau tongtonan, ia akan meminta izin kepada orangtuanya, yang kemudian dicek apakah game atau tontonan baik buat dirinya atau tidak.
"Mami papi sudah cek gim mana yang boleh aku mainin. Kalau ada game baru, aku tanya dulu, kalau enggak boleh aku nurut, artinya itu enggak bagus buat aku," ucap Adinda.
Novita mengaku literasi digital perlu ditanamkan sejak dini karena ineternet memuat segala konten, termasuk yang negatif. Namun ia juga tak memungkiri sebagian kecerdasn juga datang dari internet sehinbgga ia pun harus pintar-pintar membentengi anaknya dari konten negatif.
"Zaman sekarang kita enggak bisa menutup diri soal itu, apalagi di era sekarang yang serba online. Kalau kita memutuskan anak kita memang harus melek teknologi tapi dengan batasan," kata Novita.
Cara Novita untuk menanamkan hal ini adalah dengan menumbuhkan literasi digital dalam diri anaknys. Ia bahkan selalu mendiskusikan sesuatu agar jelas dan tahu apa sebabnya dilarang. Ia tidak ingin anaknya menelan mentah-mentah suatu pernyataan tanpa argumen dalam semua hal misalnya bahaya narkoba. Novita mengakui anaknya telah mengetahui kenapa barang ini dilarag dikonsumsi lengkap dengan penjelasan efeknya.
"Apapun kita selalu bicarakan seperti orang dewasa, ga pernah ngangge anak-anak, malah anggap teman, partner. jadi apapun kita pasti selalu bicara dengan caranya dia," kata Novita.
Dengan hal ini menurutnya akan timbul rasa saling percaya bahkan sang anak akan mengetahui dan menjalankan aturan yang telah disepakati menegani waktu penggunaan gadget hinga konten yang ditonton. (H-3)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Psikolog Sani B. Hermawan mendukung PP Tunas (PP No 17 Tahun 2025) sebagai langkah darurat melindungi anak di bawah 16 tahun dari kejahatan digital.
PAPDI mengungkapkan misinformasi di media sosial menyebabkan cakupan vaksinasi campak 2025 turun drastis, menjauh dari target WHO 95%.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved