Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik dinilai berpotensi menekan ketahanan energi dan fiskal Indonesia. Hal itu mengemuka dalam Focus GREAT Discussion (FGD) bertajuk Tantangan Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Turbulensi Geopolitik yang digelar GREAT Institute di Jakarta, Rabu (1/4).
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, mengatakan forum tersebut merupakan kontribusi pemikiran untuk menjawab tantangan global yang kian kompleks. “Tak bisa dimungkiri, saat ini dunia tengah menghadapi persoalan energi seiring perang di Timur Tengah. Kita lihat, negara-negara tetangga sudah mulai mengalami kenaikan harga BBM sebagai dampak langsung dari perang Israel-Amerika Serikat melawan Iran,” ujarnya.
Tim Ekonomi GREAT Institute memaparkan harga minyak dunia sempat melonjak mendekati US$120 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang sebesar US$70 per barel. Peneliti GREAT Institute, Yossi Martino, menegaskan dampaknya akan langsung terasa. “Indonesia pasti terimbas perang ini. Turbulensi global akibat kenaikan harga minyak dengan nyata berpengaruh pada ekonomi kita,” katanya.
Dalam skenario terburuk yang dipresentasikan, defisit anggaran berpotensi melebar hingga 3,80% hingga 4,30% terhadap PDB jika harga minyak bertahan di kisaran US$105–120 per barel. Setiap kenaikan US$1 harga minyak juga disebut menambah beban subsidi energi hingga triliunan rupiah.
Anggota Dewan Energi Nasional, Mohamad Fadhil Hasan, menyatakan pemerintah masih berada pada tahap mitigasi dan adaptasi. “Berdasarkan identifikasi, cadangan BBM kita masih aman menurut Pertamina. Jadi langkah-langkah yang diambil masih mitigasi dan adaptasi,” ujarnya.
Anggota Komisi XII DPR RI Sartono Hutomo mengingatkan tekanan fiskal sulit dihindari. “Asumsi APBN kita US$70 per barel, sementara realitas jauh di atas itu. DPR mengapresiasi belum adanya kenaikan harga BBM, tapi ini hanya menggeser beban,” katanya.
Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat menilai pemerintah perlu bersikap realistis terhadap tekanan harga energi. “Menurut saya, tak soal harga BBM naik dulu, toh setelah perang bisa turun lagi, dibanding defisit yang makin besar,” ujarnya. Ia juga melihat krisis sebagai peluang bagi tenaga kerja teknis dalam negeri. “Para pekerja teknis justru mendapat kesempatan, karena mereka dibutuhkan untuk memitigasi krisis energi,” katanya.
Dari perspektif pertahanan, Mayjen TNI Priyanto menilai Indonesia sebagai negara net importir menghadapi risiko berlapis. “Karena kita net importir, ketika distribusi terganggu, dampaknya bukan hanya ekonomi, tapi juga stabilitas sosial dan pertahanan,” kata Priyanto.
Diskusi menyepakati pentingnya percepatan diversifikasi energi, penguatan cadangan nasional, serta reformasi struktural sektor energi guna memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi gejolak global. (e-3)
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Donald Trump mengklaim fasilitas minyak Iran akan meledak dalam tiga hari karena blokade laut AS. Namun, para pakar membantah teori tersebut.
Upaya damai Iran-AS di ambang kegagalan setelah Trump membatalkan utusan ke Pakistan. Menlu Iran Abbas Araghchi kini menuju Rusia untuk bertemu Putin.
Harga bensin di AS tetap lebih rendah dibanding Eropa meski ada perang Iran. Simak faktor pajak dan produksi minyak yang mempengaruhinya.
Presiden Donald Trump menolak perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Ketegangan di Selat Hormuz memicu krisis energi global dan ancaman perang terbuka.
Saat ini, pemerintah menjalankan kebijakan yang berfokus pada pengendalian mobilitas guna menekan permintaan bahan bakar minyak
Pengembangan energi nuklir tidak hanya merupakan persoalan teknologi, tetapi juga kesiapan tata kelola, komunikasi publik, dan mitigasi risiko.
Bahlil Lahadalia menegaskan hilirisasi menjadi kunci utama untuk menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap ekspor bahan mentah untuk mendorong ketahanan energi nasional.
penilaian lembaga internasional JP Morgan yang menempatkan Indonesia pada posisi atas dalam ketahanan energi mencerminkan bahwa fondasi kebijakan yang dibangun pemerintah sudah tepat.
PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) menjajaki kerja sama pengembangan bioetanol melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Pertamina Group dan Medco Group.
Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, kolaborasi antara dunia pendidikan, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci untuk mendorong hilirisasi sawit.
Menurutnya, kondisi global yang tidak menentu menuntut semua pihak untuk bersiap dan berperan aktif membantu masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved