Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NILAI ukar Petani (NTP) pada Juli 2021 tercatat di level 103,48, turun 0,11% dari posisi Juni 2021 di angka 103,59. Penurunan terjadi lantaran indeks yang dibayar petani hanya mengalami kenaikan 0,03%, lebih kecil dari kenaikan indeks yang dibayarkan petani yakni 0,14%.
Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono mengatakan, komoditas yang dominan mempengaruhi NTP pada Juli 2021 ialah sapi potong, bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan wortel. Sedangkan komoditas yang menghambat peningkatan NTP yakni gabah, daging ayam ras, kelapa sawit, dan kentang.
"Kalau dilihat menurut subsektor, terdapat dua subsektor yang mengalami penurunan, pertama adalah sub sektor tanaman pangan, pada Juli turun 0,98%, demikian juga subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 0,13%. Sementara hortikultura, peternakan, dan perikanan mengalami peningkatan," kata Margo saat menyampaikan rilis secara virtual, Senin(2/8).
BPS mencatat terjadi penurunan NTP pada subsektor tanaman pangan sebesar 0,98%, dari 97,27 pada Juni 2021 menjadi 96,31 di Juli. Sebabnya, kata Margo yakni terjadinya penurunan indeks yang diterima petani pada komoditas gabah dan ketela rambat.
Subsektor lain yang juga mengalami penurunan ialah tanaman perkebunan. BPS mencatat terjadi penurunan 0,13% pada subsektor tersebut. Hal itu terjadi karena indeks yang diterima petani hanya aik 0,05%, lebih kecil dari kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 0,17%.
Adapun Komoditas yang dominan mempengaruhi indeks yang diterima petani adalah karet, cengkeh, lada atau merica, biji jambu mete, pala biji, bakau. Sedangkan komoditas yang dominan menghambat kenaikan indeks diterima petani, kelapa sawit, kemiri, kakao.
Lebih lanjut, BPS mencatatkan adanya kenaikan NTP pada subsektor hortikultura sebesar 2,49% dari 98,98 di Juni 2021 menjadi 101,45 pada Juli 2021. Kenaikan terjadi lantaran indeks yang diterima petani meningkat 2,55%, lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayar petani yakni 0,05%.
Baca juga : Inflasi Juli 2021 Tercatat 0,08%, Obat Penyumbang Utama
Komoditas yang dominan mempengaruhi indeks yang diterima petani ialah cabai merah, bawang daun, tomat, kol, wortel, kacang panjang, ketimun dan buncis. Sedangkan komoditas yang domiinan menghambat indeks diterima petani adalah mangga, salak, pisang, jahe, rambutan, melon, dan jeruk.
Peningkatan NTP juga terjadi pada subsektor peternakan. BPS mencatat terjadi kenaikan 0,84%, dari 100,16 di Juni 2021 menjadi 101,00 pada Juli 2021. Margo bilang, peningkatan terjadi karena kenaikan indeks yang diterima petani meningkat 1,05%, lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayar petani yang hanya meningkat 0,21%.
Beberapa komoditas yang dominan berpengaruh pada kenaikan indeks yang diterima petani adalah sapi potong, kambing, kerbau, biri-biri, babi, dan sapi perah. Sedangkan komoditas yang menghambat kenaikan indeks yang diterima petani diantaranya adalah ayam ras, telur ayam ras, ayam kampung dan itik.
Peningkatan juga terjadi pada subsektor perikanan yang terdiri dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPI). Keduanya tercatat mengalami peningkatan 0,24% dan 0,19%.
Beberapa komoditas dominan yang berpengaruh pada kenaikan indeks yang diterima petani adlaah rajungan, rumput laut, layang, tenggiri, nilai tangkal, tongkol, kepiting laut, layur, dan ikan tuna. Di sisi lain, komoditas yang menghambat indeks diterima petani adalah teri dan ketapang.
Margo mengungkapkan, posisi NTP Juli 2021 juga diikuti dengan penurunan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP). Tercatat NTUP mengalami penurunan 0,10% dari 103,88 di Juni 2021 menjadi 103,77 pada Juli 2021.
"Turunnya NTUP sebesar 0,10% disebabkan kenaikan indeks yang diterima petani lebih kecil dari kenaikan indeks pada biaya produksi dan penambahan barang modal. Di mana yang diterima naik 0,03%, sementara indeks yang dibayar naik 0,13%," jelas Margo.
Diketahui, NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani dengan indeks yang dibayarkan petani. Sedangkan NTUP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks yang dibayar petani untuk produksi dan penambahan barang modal. (OL-2)
Nilai tukar rupiah melemah pada Rabu pagi ke level Rp17.275 per dolar AS. Dipicu kebuntuan negosiasi AS-Iran dan keluarnya UAE dari OPEC+.
Nilai tukar Mata Uang Rupiah dibuka melemah 32 poin ke level Rp17.275 per dolar AS pada Rabu (29/4) pagi akibat tekanan sentimen global.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah 12 poin ke level Rp17.223 pada Selasa (28/4). Simak analisis pergerakan mata uang rupiah di sini.
Mata Uang Rupiah Senin (27/4) pagi menguat 18 poin ke level Rp17.211 per dolar AS. Simak analisis pergerakan kurs dan sentimen pasar selengkapnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan fundamental ekonomi RI tetap kuat meski Rupiah tembus Rp17.300 per Dolar AS. Simak analisis dan strategi stabilisasinya.
Di Batam, pergerakan nilai tukar berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, mengingat tingginya ketergantungan pada barang impor dan transaksi lintas negara, khususnya Singapura.
KOTA Bandung kembali mencatatkan peran strategis di tingkat nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) RI resmi meluncurkan dan mensosialisasikan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Kota Bandung.
BPS menerapkan klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) sebagai upaya dalam menyelaraskan sistem perizinan usaha
Bahkan setelah data dipublikasikan, proses belum berhenti karena masih ada tahap evaluasi untuk memastikan kualitas dan perbaikan.
INFLASI yang terjaga dalam rentang toleransi dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
BPS mencatat produksi gula 2025 naik jadi 2,67 juta ton, konsumsi rumah tangga turun, namun Indonesia masih bergantung pada impor 3,93 juta ton.
BADAN Pusat Statistik (BPS) Provinsi DI Yogyakarta tengah mematangkan persiapan untuk melaksanakan Sensus Ekonomi (SE) 2026, untuk menangkap pergeseran struktur ekonomi DIY.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved