Inflasi dalam Rentang Toleransi, Kunci Stabilitas Menuju Indonesia Emas 2045

Insi Nantika Jelita
21/4/2026 18:43
Inflasi dalam Rentang Toleransi, Kunci Stabilitas Menuju Indonesia Emas 2045
Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Sarpono (kiri)(MI/Insi Nantika Jelita)

INFLASI yang terjaga dalam rentang toleransi dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045. Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Sarpono menjelaskan, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, inflasi ditargetkan berada di level 2,5% dengan toleransi plus minus 1%. Artinya, inflasi pada kisaran 1,5% hingga 3,5% masih tergolong wajar dan mencerminkan stabilitas harga yang mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. 

“Ini ada baseline yang sudah ditetapkan bahwa inflasi dianggap masih dalam tahap toleransi ketika nilainya adalah 2,5 plus minus 1,” ujarnya dalam Workshop Wartawan Pemanfaatan Data Strategis BPS di Jakarta, Selasa (21/4).

Sarpono menekankan inflasi pada dasarnya merupakan indikator perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat, sehingga menjadi tolok ukur penting dalam menilai kinerja pembangunan ekonomi, khususnya dari sisi stabilitas harga. Ia menambahkan, kemampuan pemerintah dalam menjaga kestabilan harga sangat menentukan tingkat inflasi yang terjadi. 

“Inflasi ada kaitannya dengan visi Indonesia Emas, yakni supremasi dengan stabilitas ekonomi makro,” tegasnya.

Dalam pengukurannya, BPS menggunakan standar global agar data inflasi Indonesia dapat dibandingkan secara internasional, meskipun tetap disesuaikan dengan pola konsumsi masyarakat domestik. Inflasi dihitung sebagai perubahan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga, dengan pengumpulan data dilakukan secara rutin, baik mingguan, bulanan, hingga triwulanan.

Secara teknis, BPS merilis beberapa indikator inflasi, antara lain inflasi bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tahunan (year-on-year/yoy), dan inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd). Inflasi mtm mencerminkan persentase perubahan indeks harga konsumen (IHK) antarbulan, sementara inflasi yoy membandingkan tingkat harga pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, inflasi juga dibagi ke dalam tiga komponen utama, yakni inflasi inti (core), inflasi bergejolak (volatile food), dan inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices). Inflasi inti dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti interaksi permintaan dan penawaran, nilai tukar, harga komoditas global, serta ekspektasi inflasi. 

Sementara itu, komponen volatile food umumnya berasal dari bahan pangan yang harganya mudah berfluktuasi, dan administered prices berkaitan dengan kebijakan pemerintah seperti harga bahan bakar minyak (BBM).

Sarpono juga mengingatkan inflasi dihitung berdasarkan harga rata-rata yang diterima konsumen, bukan harga di satu lokasi tertentu. 

“Maka di sini yang penting adalah harga rata-rata,” tegasnya. 

BPS sendiri mengumpulkan data dari sekitar 847 komoditas yang merepresentasikan konsumsi masyarakat secara nasional, meskipun jumlahnya dapat berbeda di tiap daerah sesuai pola konsumsi masing-masing.

Ia mencontohkan, tingginya harga suatu komoditas tidak selalu berbanding lurus dengan inflasi yang tinggi. Jika harga sudah tinggi sejak sebelumnya, maka kenaikannya relatif kecil sehingga inflasi tetap rendah. Hal ini terlihat pada pergerakan harga bawang putih dan emas perhiasan, di mana harga tetap tinggi, tetapi laju inflasinya dapat melambat. 

Ia menyebut pada komoditas perhiasan memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai dinamika inflasi. Dalam satu tahun terakhir, tren harga perhiasan emas tercatat terus mengalami kenaikan dari bulan ke bulan. Kondisi ini turut dirasakan oleh masyarakat, terutama mereka yang berinvestasi atau menabung emas, seiring persepsi bahwa harga emas cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Namun demikian, pada Maret lalu terjadi perubahan yang cukup mencolok. Tingkat inflasi untuk komoditas ini mengalami penurunan tajam, dari sebelumnya 8,42% menjadi 1,17%. Meski harga emas secara umum masih berada pada level yang tinggi, perlambatan laju kenaikan harga tersebut menunjukkan adanya penurunan tekanan inflasi yang signifikan.

"Hal ini menegaskan inflasi tidak semata ditentukan oleh tingginya harga suatu komoditas, tetapi lebih pada kecepatan atau laju kenaikan harga itu sendiri," tuturnya.

Dengan kata lain, meskipun harga emas tetap tinggi, ketika kenaikannya melambat bahkan cenderung menurun, maka inflasi pun ikut mereda. Secara lebih luas, kondisi ini juga mencerminkan inflasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, tidak hanya dari satu komoditas saja. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya