Rupiah Tertekan, Bank Indonesia Diyakini Tahan BI-Rate 4,75 Persen

Andhika Prasetyo
22/4/2026 09:37
Rupiah Tertekan, Bank Indonesia Diyakini Tahan BI-Rate 4,75 Persen
ilustrasi(Antara)

Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026. Prediksi tersebut muncul seiring tekanan eksternal yang masih kuat serta meningkatnya risiko inflasi global.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai ruang penurunan suku bunga saat ini semakin terbatas karena ekspektasi inflasi yang meningkat.

“Ruang cut rate sudah habis karena ekspektasi inflasi yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek, sekitar satu hingga tiga bulan ke depan, masih akan berada dalam tekanan dan cenderung bergerak di kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Pandangan serupa disampaikan Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, yang menilai ruang penurunan BI-Rate kian sempit di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Meski demikian, ia melihat sentimen terhadap rupiah mulai membaik. Namun, tekanan musiman pada kuartal II—seperti pembayaran imbal hasil kepada investor nonresiden—masih berpotensi menekan mata uang domestik.

Memasuki semester kedua, rupiah dinilai berpeluang menguat karena saat ini berada pada level yang relatif undervalued. Faisal memperkirakan rupiah berpotensi kembali ke bawah Rp17.000 per dolar AS, bahkan ke kisaran Rp16.800–Rp16.900, dengan catatan fundamental ekonomi tetap kuat.

Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, mencatat inflasi tahunan Indonesia turun menjadi 3,48 persen (yoy) pada Maret 2026, seiring meredanya efek basis rendah dari diskon tarif listrik sebelumnya.

Namun, ia mengingatkan meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran, berpotensi mendorong inflasi impor melalui kenaikan harga energi serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan.

Riefky juga menyoroti arah kebijakan Federal Reserve System yang masih menghadapi dilema antara menahan inflasi dan mengantisipasi perlambatan ekonomi. Perbedaan pandangan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret menunjukkan ruang kebijakan yang semakin terbatas.

“Kombinasi tekanan inflasi dan pelemahan pertumbuhan meningkatkan risiko stagflasi, sehingga The Fed cenderung mengambil pendekatan wait and see,” ujarnya.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi arus keluar modal asing sekitar 1,47 miliar dolar AS dalam periode pertengahan Maret hingga pertengahan April 2026. Hal ini mendorong pelemahan rupiah sebesar 0,88 persen secara bulanan hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Selain itu, intervensi yang dilakukan Bank Indonesia tercermin dari penurunan cadangan devisa sebesar 3,7 miliar dolar AS menjadi 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026. Menurut Riefky, pelonggaran moneter yang terlalu dini berisiko memperburuk tekanan terhadap rupiah melalui arus keluar modal. Sebaliknya, kebijakan yang terlalu ketat juga dapat menekan aktivitas ekonomi domestik.

Karena itu, BI diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen sambil menerapkan strategi wait and see, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya