Suku Bunga Ditahan di 4,75%, Beban Dunia Usaha kian Berlapis

Insi Nantika Jelita
22/4/2026 20:10
Suku Bunga Ditahan di 4,75%, Beban Dunia Usaha kian Berlapis
Ilustrasi(Antara)

KEPUTUSAN Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% di tengah tekanan global membawa konsekuensi berlapis bagi dunia usaha. Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani.

Di satu sisi, kebijakan ini menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar, namun di sisi lain pelaku usaha harus menghadapi tekanan biaya yang meningkat akibat pelemahan rupiah. 

Kenaikan harga bahan baku impor, yang masih mendominasi struktur industri nasional, turut menggerus margin usaha, sehingga menambah beban di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

"Dari perspektif dunia usaha, tekanan yang dirasakan saat ini bersifat berlapis," ujarnya kepada Media Indonesia, Rabu (22/4).

Dari sisi produksi, lanjut Shinta, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya bahan baku, mengingat struktur industri Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Saat ini sekitar 70% bahan baku manufaktur berasal dari luar negeri dan 71% impor nasional merupakan komponen bahan baku dan barang penolong. Dalam kondisi tersebut, depresiasi rupiah otomatis akan meningkatkan biaya input dalam rupiah.

"Sehingga, menciptakan tekanan signifikan terhadap margin usaha, khususnya di sektor-sektor dengan ketergantungan impor yang tinggi," terang Shinta.

Tekanan juga dapat dilihat dari sisi keuangan korporasi. Penguatan dolar AS meningkatkan beban kewajiban dalam valuta asing, baik dari sisi pembayaran bunga maupun pokok utang. Hal ini, ungkap Shinta, berdampak pada arus kas, serta peningkatan profil risiko perusahaan. 

Di saat yang sama, ruang untuk melakukan pass-through ke harga jual relatif terbatas karena daya beli domestik belum sepenuhnya pulih, sehingga sebagian besar tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Kombinasi faktor ini membuat tekanan terhadap margin saat ini menjadi cukup signifikan dan tidak hanya berdampak pada profitabilitas, tetapi juga pada kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Shinta mengatakan, dalam kondisi global yang tidak menentu seperti sekarang, dunia usaha cenderung lebih berhati-hati dan mempertimbangkan risiko dalam setiap keputusan.

Perusahaan tetap berusaha berkembang, tetapi dengan cara yang lebih selektif dan terukur. Mereka hanya memilih sektor atau proyek yang permintaannya jelas, biaya operasionalnya efisien, dan potensi keuntungannya sudah terlihat pasti.

"Sementara itu, investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda," imbuhnya.

Sebagai respons terhadap tekanan tersebut, dunia usaha saat ini memperkuat strategi manajemen risiko secara komprehensif. Dari sisi finansial, perusahaan semakin aktif melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi eksposur terhadap fluktuasi kurs, serta melakukan penataan struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing. 

Dari sisi operasional, fokus diarahkan pada efisiensi biaya melalui capex rationalization, optimalisasi working capital, dan peningkatan produktivitas. Selain itu, diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor mulai dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku luar negeri. Penguatan pengelolaan arus kas juga menjadi prioritas utama, mengingat likuiditas menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan usaha di tengah siklus suku bunga yang belum sepenuhnya longgar.

Shinta menegaskan, ke depannya dalam kondisi di mana tekanan eksternal masih cukup kuat dan ruang pelonggaran moneter terbatas, kesinambungan kebijakan antara moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat krusial. Stabilitas yang dijaga melalui kebijakan suku bunga perlu diikuti dengan langkah-langkah yang mendorong efisiensi biaya, memperkuat daya saing industri, serta memastikan bahwa transmisi kebijakan dapat berjalan efektif ke sektor riil. 

"Dalam konteks ini, dunia usaha pada dasarnya menjaga resiliensi sambil tetap menangkap peluang secara selektif di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," pungkasnya. (E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya