Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TAK bisa asal hitung, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan setiap statistik resmi yang dirilis ke publik melalui proses panjang dan berlapis. Mulai dari identifikasi kebutuhan data, perancangan metodologi, penyusunan instrumen seperti kuesioner, hingga pengumpulan, pengolahan, analisis, dan diseminasi, seluruh tahapan dilakukan secara sistematis dan mengacu pada standar internasional.
Bahkan setelah data dipublikasikan, proses belum berhenti karena masih ada tahap evaluasi untuk memastikan kualitas dan perbaikan berkelanjutan, sehingga angka yang dihasilkan tidak hanya akurat, tetapi juga dapat dibandingkan secara global.
“Ada delapan tahapan ketika kita ingin menghasilkan satu statistik resmi. Yang pertama harus kita pastikan adalah apa kebutuhannya," ujar Direktur Neraca Produksi BPS Puji Agus Kurniawan dalam Workshop Wartawan Pemanfaatan Data Strategis BPS di Jakarta, Selasa (21/4).
Ia menjelaskan setelah kebutuhan dipastikan, proses dilanjutkan dengan perancangan variabel dan desain statistik, pembangunan instrumen seperti kuesioner dan sistem pendataan, hingga pengumpulan data melalui survei. Tahapan berikutnya mencakup pengolahan, analisis, diseminasi, dan diakhiri dengan evaluasi.
“Jadi, kita mengevaluasi untuk seterus melakukan perbaikan-perbaikan,” kata Puji.
Ia menegaskan, proses tersebut merupakan standar yang harus dijalankan oleh setiap lembaga statistik nasional (National Statistical Office/NSO), termasuk BPS. Dalam penyusunan indikator strategis seperti Produk Domestik Bruto (PDB), BPS juga tidak menetapkan definisi sendiri, melainkan mengacu pada pedoman internasional seperti System of National Accounts (SNA). Saat ini, BPS masih menggunakan SNA 2008, namun tengah mempelajari pembaruan SNA 2025 untuk diimplementasikan dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, kualitas statistik BPS juga diuji melalui Forum Masyarakat Statistik serta evaluasi dari lembaga internasional. Puji mengungkapkan lembaga seperti lembaga moneter atau IMF juga secara berkala melakukan asesmen terhadap metode yang digunakan, termasuk dalam penghitungan PDB dan inflasi.
“Di BPS sesuai undang-undang statistik itu ada yang namanya Forum Masyarakat Statistik,” tuturnya.
Lebih lanjut, Puji menjelaskan PDB merupakan ukuran total nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu wilayah domestik. Dalam praktiknya, penghitungan PDB tidaklah sederhana karena aktivitas ekonomi saling terkait antar pelaku usaha. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah menghitung nilai tambah bruto (NTB) dari seluruh kegiatan produksi.
Dengan jumlah pelaku usaha yang mencapai sekitar 26 juta berdasarkan Sensus Ekonomi 2016, BPS harus melakukan estimasi yang kompleks untuk mendapatkan angka tersebut.
“Nanti 2026 ini kita ada sensus lagi nanti akan terupdate berapa jumlah pelaku usahanya,” imbuhnya.
Dalam penyajiannya, PDB dihitung melalui dua pendekatan utama, yaitu pendekatan produksi dan pengeluaran. Pada pendekatan produksi, PDB merupakan penjumlahan nilai tambah dari seluruh lapangan usaha. Sementara pada pendekatan pengeluaran, PDB dihitung berdasarkan penggunaan akhir barang dan jasa, seperti konsumsi rumah tangga dan investasi. Kedua pendekatan ini harus menghasilkan angka yang sama.
BPS juga menyajikan PDB dalam dua jenis harga, yakni harga berlaku (nominal) dan harga konstan (riil). PDB harga berlaku mencerminkan nilai produksi berdasarkan harga pada tahun berjalan, sehingga dipengaruhi oleh perubahan harga. Sementara itu, PDB harga konstan menghilangkan pengaruh inflasi sehingga mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya.
“Jadi, pertumbuhan ekonomi itu menggambarkan pertumbuhan real,” kata Puji.
Selain PDB nasional, BPS juga menghitung Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Konsep dan metode yang digunakan sama, hanya berbeda pada cakupan wilayahnya. Dalam pengelompokan aktivitas ekonomi, BPS mengacu pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang merupakan adaptasi dari standar International Standard Industrial Classification (ISIC).
Puji menekankan penghitungan statistik resmi, khususnya PDB, membutuhkan data yang sangat kompleks dan parameter yang luas. Oleh karena itu, angka yang dihasilkan BPS tidak bisa dibandingkan dengan perhitungan sederhana di luar lembaga resmi, karena perbedaan metodologi dan kelengkapan data yang digunakan. (Ins/P-3)
Capaian tersebut menunjukkan tren pemulihan pascapandemi yang berkelanjutan. Meski demikian, tingkat kemiskinan Jakarta saat ini masih belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum pandemi.
DATA Badan Pusat Statistik (BPS) belakangan ini dikritik dan menjadi diskursus di ruang publik. Itu karena angka-angka yang dirilis dianggap tidak mencerminkan realitas yang ada. Angka
DATA statistik bukan sekadar angka, melainkan narasi yang membentuk persepsi dan arah kebijakan.
Data berdasarkan cara memperolehnya? Temukan jenis-jenis data primer & sekunder! Pelajari sumber, kelebihan & kekurangan masing-masing. Klik & kuasai pengumpulan data. klik disini!
Pelajari rumus varians untuk mengukur sebaran data! Panduan lengkap, mudah dipahami, dan optimalkan analisis datamu sekarang.
Menghitung persentase adalah keterampilan dasar yang sering dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk menghitung diskon saat berbelanja, hingga memahami data statistik
Arah pengembangan dan target Jakarta menuju Kota Global ini harus diikuti dengan sejumlah langkah strategis, salah satunya penguatan data statistik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved