Menkeu Purbaya: Pelemahan Rupiah ke Rp17.300 Bukan Tanda Ekonomi Domestik Memburuk

Media Indonesia
25/4/2026 18:47
Menkeu Purbaya: Pelemahan Rupiah ke Rp17.300 Bukan Tanda Ekonomi Domestik Memburuk
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) berbincang dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian periode 2015–2019 Darmin Nasution (kiri) dan Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) Reynaldi Hermansjah (kanan) saat menghadiri Simp(ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/kye)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan tegas terkait fluktuasi nilai tukar Mata Uang Rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4). Menurutnya, kondisi tersebut bukan merupakan refleksi dari memburuknya fundamental ekonomi domestik.

Purbaya menekankan bahwa tekanan terhadap nilai tukar saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor global dan kebisingan (noise) pasar yang menciptakan ekspektasi negatif yang tidak berdasar.

 "Dibanding negara lain, kita tetap kuat apalagi dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain tetap kuat, hanya aktivitas nilai tukarnya beda," ujar Purbaya di Jakarta, Jumat (24/4).

Melawan Sentimen Negatif

Menkeu menjelaskan bahwa saat ini terbentuk opini seolah-olah ekonomi Indonesia akan menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan, khususnya pada periode Juni dan Juli. Namun, ia membantah prediksi tersebut dengan menyatakan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap stabil.

"Ini kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan. Mereka bilang kan tiga bulan waktu itu, berarti dua bulan lagi, Juni, Juli, tetapi keadaannya tidak seperti itu," jelas Purbaya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus memperbaiki hambatan struktural guna mempercepat penguatan ekonomi, sehingga fondasi ekonomi tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang lebih cepat.

Otoritas Moneter dan Stabilisasi

Terkait langkah stabilisasi, Menkeu Purbaya menyerahkan sepenuhnya mekanisme pengendalian nilai tukar kepada Bank Indonesia (BI). Sebagai otoritas moneter, BI dianggap memiliki instrumen yang mumpuni untuk meredam gejolak jangka pendek di pasar valuta asing.

Aspek Ekonomi Status Menurut Menkeu
Fundamental Ekonomi Tetap Kuat & Stabil
Penyebab Pelemahan Faktor Global & Sentimen Pasar
Posisi Regional Lebih Tangguh dari Malaysia/Thailand

Menkeu juga membantah keras spekulasi yang menyebutkan bahwa pelemahan Mata Uang Rupiah dilakukan secara sengaja untuk kepentingan tertentu. Ia menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar berjalan sesuai dengan fundamental yang ada, meskipun dalam jangka pendek terdapat tekanan dari ekspektasi negatif pasar.

"Kita jalankan sesuai dengan fundamental yang ada. Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak yang bilang kita akan jatuh, rupiah akan menuju level yang lebih lemah lagi. Saya bilang tidak begitu," pungkasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya