Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Pengamat keamanan dan terorisme dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara, menilai kepolisian memiliki kapasitas untuk segera mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus. Ia menyebut kemampuan aparat penegak hukum saat ini semakin kuat, termasuk karena adanya dukungan dari pemerintah.
“Dengan kapasitas yang dimiliki, polisi seharusnya bisa segera mengungkap pelaku kasus ini,” ujar Robi dalam dialog Deep Talk Indonesia.
Menurutnya, penanganan kasus tersebut tidak boleh berlarut-larut tanpa kejelasan. Ia menekankan pentingnya aparat tidak hanya menangkap pelaku di lapangan, tetapi juga mengungkap pihak yang diduga menjadi dalang di balik aksi tersebut.
“Polisi harus menangkap pelaku dan membongkar jaringan di belakangnya, bukan hanya operator lapangan,” katanya.
Robi menilai metode penyiraman air keras dipilih untuk menimbulkan efek teror jangka panjang karena meninggalkan luka permanen pada korban.
“Cara ini menciptakan trauma berkepanjangan karena bekas fisiknya tidak bisa hilang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peristiwa tersebut berpotensi memicu keresahan publik. Menurutnya, masyarakat dapat membangun persepsi bahwa individu yang bersikap kritis terhadap kebijakan tertentu berisiko menjadi target kekerasan. Kondisi itu, lanjutnya, juga bisa berdampak pada persepsi terhadap pemerintah apabila tidak ditangani secara transparan.
Di sisi lain, Robi meminta masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai pihak yang berada di balik serangan tersebut.
“Jangan sampai publik langsung menuduh pihak tertentu tanpa bukti yang jelas,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Robi menyarankan dua langkah yang dapat ditempuh kepolisian. Pertama, memperketat pengawasan terhadap peredaran bahan kimia berbahaya seperti air keras melalui regulasi yang lebih ketat.
Kedua, kepolisian diminta menyampaikan perkembangan penyelidikan secara terbuka dan berkala kepada publik guna mencegah munculnya spekulasi.
“Jika tidak ada informasi resmi, masyarakat bisa berspekulasi sendiri, dan itu berpotensi memperkeruh situasi,” tandasnya. (E-3)
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya mengungkap kondisi kesehatan aktivis KontraS Andrie Yunus yang saat ini tengah menjalani perawatan intensif di RSCM setelah disiram air keras.
Jurnalis senior Asri Hadi menegaskan bahwa penuntasan kasus ini tidak boleh hanya menyentuh pelaku di lapanga
Tantangan penegakan hukum sering kali bukan pada kemampuan teknis, melainkan pada kemauan institusi untuk membuka fakta secara transparan ketika perkara menyentuh ranah internal.
Komnas HAM mendatangi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk memantau langsung kondisi kesehatan Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus (AY), Kamis (26/3/2026).
Ubedilah juga melihat langkah TNI mengumumkan pelaku tidak lepas dari tekanan opini publik yang berkembang di media sosial.
Danpuspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto memastikan pihaknya masih mendalami kemungkinan adanya perintah dari atasan maupun motif di balik penyerangan terhadap aktivis.
Anggota DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo mendesak sidak berkala dan pembentukan gugus tugas lintas instansi guna mengawasi penjualan bebas air keras.
FAKTA baru terungkap dalam sidang perdana kasus penyiraman cairan kimia terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Rabu (29/4/2026).
KETUA Majelis Hakim Kolonel Chk Fredy Ferdian Isnartanto meminta Oditurat Militer II-07 Jakarta untuk mengupayakan kehadiran Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus di persidangan.
Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) ajukan praperadilan ke PN Jaksel terkait mandeknya penyidikan kasus penyiraman air keras aktivis KontraS Andrie Yunus.
Empat personel TNI didakwa melakukan penyiraman air keras ke Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus. Motifnya demi memberi efek jera karena dinilai melecehkan institusi.
Seorang pria di Rawa Buaya, Cengkareng, menjadi korban penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal. Polisi kini tengah melakukan penyelidikan di TKP.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved