Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA nelayan mengkritik perilaku elite politik yang saat ini menduduki jabatan di eksekutif dan legislatif. Pasalnya, ungkap Ketua Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Witjaksono, para elite politik ini cenderung menggunakan nelayan dan juga petani hanya untuk kepentingan pemilihan umum saja.
“Calon presiden, wakil presiden, dan anggota dewan yang ingin mencalonkan diri hampir dipastikan mendatangi petani dan nelayan. Namun setelah mereka menjabat, para pejabat ini lupa terhadap nelayan dan petani,” katanya saat Rapat Kerja Nasional SNNU yang dilakukan secara hybrid, Jumat.
Witjaksono menjelaskan, para nelayan dan petani didekati para politisi ini karena populasinya yang begitu besar. “Namun kenyataannya masih banyak nelayan dan petani yang termarginalkan,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya dan juga PB NU berencana meningkatkan kesejahteraan para nelayan di Indonesia. “Salah satunya dengan menggagas pembentukan badan usaha milik nelayan di 28 provinsi. Setelah berkembang, nelayan bisa menjadi pengusaha yang sukses,” ujarnya.
Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang membuka Rakernas tersebut mengakui tingginya angka kemiskinan di kalangan nelayan tersebut. Dari target penurunan ekstrem di 212 kabupaten/kota di 2022, sebanyak 69,3% atau 147 kabupaten/kota merupakan wilayah pesisir, dengan total jumlah penduduk miskin ekstrem sebanyak 1,3 juta penduduk atau 12,5% dari total penduduk miskin ekstrem di Indonesia yang berjumlah 10,86 juta jiwa.
“Artinya, jika kita fokus membangun daerah pesisir melalui pemberdayaan nelayan, maka akan cukup signifikan mengurangi angka kemiskinan ekstrem,” ujarnya.
Baca juga: PKB Persilahkan PDIP Gabung, Tapi ada Syaratnya
Menurut Ma’ruf, salah satu kesulitan utama yang dihadapi nelayan adalah kesulitan akses BBM subsidi. Sekitar 60% biaya kebutuhan melaut nelayan adalah untuk membeli BBM. Selain itu, nelayan juga mengalami kesulitan mengakses administrasi kenelayanan, mengakses pasar dan pembiayaan, serta terkendala perubahan iklim.
Padahal, ungkap Ma’ruf, potensi kelautan yang sangat besar kepada Indonesia. Luas perairan mencapai 6,4 juta km persegi dengan garis pantai sepanjang 108 ribu km.
“Sementara total estimasi potensi sumber daya ikan sebanyak 12,01 juta ton per tahun, dan jumlah tangkapan ikan yang diperbolehkan mencapai 8,6 juta ton per tahun. Potensi kelautan dan perikanan yang besar sangat disayangkan masih belum diimbangi dengan kesejahteraan nelayan,” ungkapnya.
Karena itu, tambah Ma’ruf, dirinya mendukung strategi pemberdayaan nelayan yang dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, kemitraan usaha, kemudahan akses iptek dan informasi, serta penguatan kelembagaan. “Tentunya partisipasi dan kolaborasi seluruh pihak sangat diperlukan guna mendukung upaya Pemerintah menghapus kemiskinan ekstrem, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan masyarakat di wilayah pesisir,” paparnya.
Karena itu, tambahnya, dirinya mengapresiasi penyelenggaraan Rakernas SNNU yang dinilai dapat mengambil peran strategis untuk memberikan khidmat dalam hal pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir. “SNNU turut bekerja bersama Pemerintah untuk menghapus kemiskinan ekstrem dari Indonesia di 2024,” pungkasnya. (OL-4)
Berdasarkan laporan peristiwa ini terjadi pada Rabu (29/4) sekitar pukul 05.30 Wita. Saat itu korban sedang melaut bersama rekan-rekannya menggunakan kapal nelayan KM Putera.
Anggur laut merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat.
Tujuh nelayan berhasil diselamatkan tim keamanan Pertamina Hulu Mahakam setelah dua hari terombang-ambing di Selat Makassar akibat kapal rusak.
Sejumlah nelayan menarik jaring untuk diperbaiki saat tidak melaut di Dermaga Pelabuhan Ikan Muncar, Banyuwangi.
Sejumlah nelayan mencari kerang hijau di Pantai Satelit, Banyuwangi, Jawa Timur.
Operasi ini merupakan hasil sinergi seluruh unsur SAR yang terlibat.
Seluruh keputusan dalam muktamar harus berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, bukan kelompok tertentu.
Saifullah Yusuf menyatakan aspirasi Ketua PWNU se-Indonesia terkait waktu pelaksanaan muktamar selaras dengan keputusan internal organisasi.
Menurutnya ini bukan sekadar teladan yang tidak hanya berlaku bagi kalangan anak muda NU sebagai generasi penerus.
Arah pemilihan Rais Aam melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) saat ini sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kepentingan para aktor utama di posisi Ketua Umum.
Gus Lilur merasa prihatin jika tradisi besar seperti pesantren dan bahtsul masail terpinggirkan oleh kepentingan elektoral.
Oleh karena itu, penguatan relasi NU dan NKRI membutuhkan agenda strategis yang melampaui retorika. Digitalisasi dakwah moderat ialah kebutuhan mutlak
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved