Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memastikan seluruh tahapan menuju Muktamar 2026 terus dimatangkan, dengan jadwal pelaksanaan yang mengarah pada akhir Juli atau paling lambat pada awal Agustus.
Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, menyatakan aspirasi Ketua PWNU se-Indonesia terkait waktu pelaksanaan muktamar selaras dengan keputusan internal organisasi.
“Apa yang disuarakan forum Ketua PWNU se-Indonesia pada prinsipnya sejalan dengan hasil rapat pleno dan kebijakan Rais Aam. Karena itu, kami menyambut baik permintaan para Ketua PWNU,” ujar Gus Ipul di Jakarta, Selasa (28/4).
Ia menjelaskan, PBNU kini berfokus pada penyempurnaan aspek teknis dan administrasi agar seluruh rangkaian forum, mulai dari Musyawarah Nasional (Munas), Konferensi Besar (Konbes), hingga Muktamar, berjalan sesuai mekanisme organisasi.
“Panitia kecil sedang bekerja keras menuju Muktamar Agustus. Alhamdulillah, susunan kepanitiaan Munas, Konbes, sekaligus Muktamar sudah dituntaskan,” katanya.
Selain itu, PBNU juga membentuk tim panel khusus untuk menangani persoalan surat keputusan (SK) kepengurusan sebagai bagian dari upaya menjaga akuntabilitas organisasi.
“Untuk masalah SK kepengurusan, saat ini sudah ada tim panel yang diketuai Prof Mohammad Nuh dan sekretaris Amin Said Husni. Tim ini bekerja sesuai mandat organisasi untuk menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan SK kepengurusan,” jelasnya.
Menurut Gus Ipul, seluruh proses persiapan dilakukan dengan prinsip keterbukaan dan ketertiban, agar Muktamar sebagai forum tertinggi organisasi dapat menghasilkan keputusan strategis.
“Kita ingin semua proses berjalan tertib, sesuai mekanisme organisasi, dan membawa kemaslahatan bagi jam’iyah. Muktamar adalah forum besar NU, sehingga persiapannya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya. (Dev/P-3)
Seluruh keputusan dalam muktamar harus berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, bukan kelompok tertentu.
Menurutnya ini bukan sekadar teladan yang tidak hanya berlaku bagi kalangan anak muda NU sebagai generasi penerus.
Arah pemilihan Rais Aam melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) saat ini sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kepentingan para aktor utama di posisi Ketua Umum.
Gus Lilur merasa prihatin jika tradisi besar seperti pesantren dan bahtsul masail terpinggirkan oleh kepentingan elektoral.
Oleh karena itu, penguatan relasi NU dan NKRI membutuhkan agenda strategis yang melampaui retorika. Digitalisasi dakwah moderat ialah kebutuhan mutlak
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved