Muktamar NU Diharapkan Steril dari Kepentingan Politik Praktis

Rahmatul Fajri
15/4/2026 18:00
Muktamar NU Diharapkan Steril dari Kepentingan Politik Praktis
Ilustrasi(Dok Istimewa)

TOKOH Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur buka suara terkait pelaksanaan Muktamar NU. Ia menegaskan bahwa muktamar kali ini harus menjadi momentum pemurnian organisasi agar kembali ke jalur keulamaan dan tidak menjadi alat kepentingan politik kekuasaan.

Gus Lilur menilai, saat ini batas antara organisasi keagamaan dan politik di tubuh NU semakin kabur. Ia secara terbuka menyinggung nama-nama tokoh seperti Nusron Wahid, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), hingga kepemimpinan Yahya Cholil Staquf sebagai bagian dari dinamika yang perlu dievaluasi secara terbuka demi menjaga marwah jam’iyah.

“NU ini didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan. Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).

Gus Lilur menyayangkan munculnya fenomena "gus-gus nanggung" yang menurutnya kerap menggunakan NU sebagai alat legitimasi pribadi untuk membangun jejaring kekuasaan. Ia merasa prihatin jika tradisi besar seperti pesantren dan bahtsul masail terpinggirkan oleh kepentingan elektoral.

“Kenapa justru yang tampil sering kali bukan yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan. Ini bukan soal pribadi, tapi soal marwah. Kalau dibiarkan, lama-lama kepercayaan umat bisa terkikis,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Lilur menekankan bahwa NU memiliki segudang tokoh dengan kapasitas keulamaan dan intelektualitas tinggi yang lebih layak memimpin arah organisasi ke depan tanpa dibayang-bayangi kepentingan politik praktis.

Ia menyebutkan sejumlah nama yang dianggap memiliki kredibilitas keilmuan yang jelas, di antaranya Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim (Gus Baha).

“Mereka jelas kapasitas keulamaannya dan intelektualitasnya. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” paparnya.

Muktamar kali ini dipandang Gus Lilur sebagai ujian sejarah bagi NU untuk membuktikan independensinya sebagai penjaga moral bangsa. Ia mendorong agar para peserta muktamar memiliki keberanian moral untuk memilih pemimpin yang berangkat dari tradisi keilmuan.

“NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan menjadi bagian dari kepentingan tertentu. Jika NU sibuk di politik, lama-lama hanya akan diperalat. Ini soal masa depan umat, apakah kita mau kembali ke jalan ulama atau terus terseret arus kekuasaan,” pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya