AS-Israel Serang Iran: Bukan hanya Harga BBM, Deretan Produk Terdampak

Wisnu Arto Subari
24/4/2026 07:05
AS-Israel Serang Iran: Bukan hanya Harga BBM, Deretan Produk Terdampak
Ilustrasi.(Freepik)

MUNGKIN sulit membayangkan perang di Timur Tengah dapat membebani harga mainan boneka lucu seperti Snuggle Glove atau Bizzikins. Namun, realitas ekonomi global menunjukkan bahwa bahkan barang-barang lunak pun tidak kebal ketika pengiriman minyak bumi dari Timur Tengah terganggu.

Boneka-boneka yang dikembangkan oleh produsen Aleni Brands di Florida, misalnya, terbuat dari poliester dan akrilik sebagai serat sintetis yang merupakan turunan langsung dari minyak bumi. CEO Aleni Brands, Ricardo Venegas, mengungkapkan bahwa hanya dalam tiga minggu sejak perang pecah, biaya bahan baku dari pemasok di Tiongkok telah melonjak 10% hingga 15%.

"Situasi ini menunjukkan betapa minyak meresap ke dalam sistem kita. Siapa yang menyangka harga mainan memiliki hubungan langsung dengan minyak?" ujar Venegas.

Lebih dari Sekadar Bahan Bakar: 6.000 Produk Terdampak

Dampak perang Iran tidak hanya dirasakan di pompa bensin. Menurut Departemen Energi AS, petrokimia yang berasal dari minyak dan gas alam digunakan untuk memproduksi lebih dari 6.000 produk konsumen. Minyak mentah diolah menjadi bahan kimia, lilin, dan plastik yang menjadi komponen utama barang sehari-hari.

Daftar Barang Terdampak Kenaikan Harga Petrokimia:
  • Elektronik & Hobi: Keyboard komputer, raket tenis, senar gitar nilon.
  • Kesehatan: Aspirin, lensa kontak lunak, gigi palsu, perban medis.
  • Kebutuhan Rumah Tangga: Deterjen, bantal, payung, lipstik, krayon.
  • Industri Strategis: Cip semikonduktor dan peralatan medis (akibat ancaman pasokan helium dan aluminium).

Baca juga: Harga Emas Menguat Dipicu Gencatan Senjata AS-Iran dan Hormuz Memanas

Sains di Balik Kenaikan Harga

Minyak mentah adalah campuran kompleks hidrokarbon. Kilang memecahnya menjadi blok bangunan kimia yang disebut petrokimia. Enam komponen utama--etilena, propilena, butilena, benzena, toluena, dan xilena--ialah fondasi nilon dan poliester.

Andrew Walberer dari konsultan Kearney menjelaskan bahwa material menyumbang sekitar 27% hingga 30% dari total biaya pembuatan satu kemeja. Jika harga minyak bertahan di atas US$90 per barel selama beberapa bulan ke depan, tekanan biaya akan merambat ke seluruh jaringan pasokan global.

Sektor Industri Ketergantungan Minyak/Petrokimia Estimasi Kenaikan Harga Konsumen
Alas Kaki (Sepatu) 70% material berbasis petrokimia 1,5% - 3%
Pakaian (Tekstil) Bahan poliester naik dari US$0,90 ke US$1,33/kg 10-15 sen per pakaian
Alat Medis (Perban) Perekat dan serat sintetis Hingga 15%

Baca juga: Media Asing Sorot Wacana Indonesia-ASEAN tentang Tol Selat Malaka

Strategi Bertahan Pelaku Usaha

Menghadapi lonjakan biaya produksi yang kini memasuki minggu kedelapan, beberapa perusahaan mulai mengambil langkah ekstrem. Lisa Lane, pendiri Rinseroo, memilih untuk melipatgandakan stok komponen polivinil klorida (PVC) sebelum harga naik lebih tinggi lagi.

Sementara itu, David Navazio, CEO Gentell yang memproduksi alat perawatan luka, memperkirakan biaya perusahaannya akan naik 20%. Karena produk medis ialah kebutuhan pokok, ia berencana menaikkan harga jual sebesar 15% dalam waktu dekat.

Kekhawatiran terbesar para pelaku usaha bukanlah sekadar kenaikan harga saat ini, melainkan sifat harga bahan baku yang sulit turun kembali. "Di masa lalu, saya pernah melihat biaya transportasi turun, tetapi saya belum pernah melihat harga bahan baku turun meskipun perang berakhir," pungkas Navazio. (CBS/I-2)

Baca juga: Ekonomi Iran kian Hancur Lebur Inflasi Meroket dan Ekspor Anjlok



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya