Menuju Deadline, AS dan Iran Saling Ancam di Tengah Ketidakpastian

Ferdian Ananda Majni
21/4/2026 17:32
Menuju Deadline, AS dan Iran Saling Ancam di Tengah Ketidakpastian
Petugas darurat memeriksa kerusakan yang ditimbulkan pada sebuah bangunan akibat serangan rudal Iran di Beersheba, Israel selatan, pada 24 Juni 2025. Layanan darurat Israel menyatakan pada 24 Juni bahwa tiga orang tewas dan dua orang luka-luka dalam serang( John Wessels / AFP))

KETUA Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Teheran siap meningkatkan langkah militernya di tengah memanasnya ketegangan dengan Amerika Serikat atau AS menjelang berakhirnya masa gencatan senjata.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan Iran akan menghadapi masalah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya jika tidak tercapai kesepakatan sebelum gencatan senjata dua pekan berakhir pada Rabu (22/4).

Ketegangan kedua negara semakin meningkat seiring ketidakpastian mengenai putaran kedua perundingan damai yang direncanakan berlangsung di Islamabad. 

Situasi diperkeruh oleh penyitaan kapal berbendera Iran oleh AS di dekat Selat Hormuz, yang memicu kemarahan Teheran serta berdampak pada kenaikan harga minyak global.

Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (21/4) disebutkan bahwa belum ada kepastian mengenai keikutsertaan Iran dalam pembicaraan tersebut. 

"Tidak ada konfirmasi resmi apakah Iran akan ikut serta dalam pembicaraan di Islamabad," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai peluang diplomasi masih terbuka. 

"Kita tahu bahwa Iran telah mencoba untuk tetap membuka pintu diplomasi, jadi masih ada kemungkinan," tambahnya.

Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Ghalibaf mengkritik keras langkah Washington. Ia menuduh AS menerapkan pengepungan dan melanggar gencatan senjata.

"Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk mengungkapkan kartu baru di medan perang," tegasnya.

Menurut Asadi, sikap tersebut menunjukkan pesan yang kompleks dari Iran. 

"Ini adalah pesan yang campur aduk, yang mengatakan Iran siap untuk negosiasi tetapi bukan dengan syarat yang dipaksakan oleh AS," jelasnya.

Ia juga menyoroti bahwa proses perundingan tidak akan berjalan mudah karena masih banyak isu yang menjadi perdebatan, mulai dari Selat Hormuz, sanksi, kompensasi perang, program rudal balistik, hingga hubungan regional Iran.

Sementara itu, Trump tetap optimistis Iran akan kembali ke meja perundingan, namun juga menyampaikan ancaman jika hal tersebut tidak terjadi.

"Baiklah, mereka akan bernegosiasi, dan jika tidak, mereka akan menghadapi masalah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," katanya dalam wawancara dengan program radio John Fredericks Show.

Dalam pernyataan lain kepada PBS News, Trump memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu eskalasi militer. Ia bahkan menyebut kemungkinan meningkatnya serangan. 

"Jika gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan, maka banyak bom akan mulai meledak," ujarnya.

Trump juga kembali menegaskan bahwa tujuan utama AS adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.  "Semoga mereka akan membuat kesepakatan yang adil, dan mereka akan membangun kembali negara mereka, tetapi ketika mereka melakukannya, mereka tidak akan memiliki senjata nuklir," katanya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya