Israel-Libanon Gencatan Senjata: Netanyahu Dikritik, Warga Merasa Dikhianati

Thalatie K Yani
17/4/2026 07:57
Israel-Libanon Gencatan Senjata: Netanyahu Dikritik, Warga Merasa Dikhianati
Gencatan senjata Israel-Libanon resmi berlaku di tengah hujan roket dan skeptisisme warga. PM Netanyahu dituduh tunduk pada tekanan Donald Trump.(White House)

PENGUMUMAN gencatan senjata antara Israel dan Libanon resmi diberlakukan malam ini. Namun, alih-alih disambut dengan suka cita, kesepakatan ini justru diiringi sirene peringatan roket dan gelombang skeptisisme dari warga Israel yang merasa pemerintah mereka telah "berbohong".

Sesaat sebelum gencatan senjata dimulai, sirene meraung tiga kali di komunitas utara Israel. Sistem pertahanan udara Nahariya bekerja keras mencegat roket-roket kiriman Hizbullah. Tim medis melaporkan setidaknya tiga orang terluka akibat serpihan peluru, dengan dua di antaranya dalam kondisi serius.

Netanyahu di Bawah Tekanan Washington

Banyak pihak di Israel melihat gencatan senjata ini sebagai bentuk ketundukan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap desakan Presiden AS, Donald Trump. Pengumuman ini mengejutkan banyak pihak, bahkan di dalam kabinet keamanan Israel sendiri.

Laporan media menyebutkan Netanyahu memanggil kabinet keamanan hanya lima menit sebelum pengumuman resmi dibuat, tanpa memberikan kesempatan kepada para menteri untuk memberikan suara.

Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf IDF dan pemimpin partai Yashar, melontarkan kritik tajam. "Sebuah pola telah berkembang di mana gencatan senjata dipaksakan kepada kita, di Gaza, di Iran, dan sekarang di Libanon. Netanyahu tidak tahu bagaimana mengubah pencapaian militer menjadi keuntungan diplomatik," tegasnya.

Kekecewaan Warga dan Pemimpin Lokal

Di garis depan utara, warga merasa kesepakatan ini tidak menyelesaikan akar masalah. "Saya merasa pemerintah berbohong kepada kami," ujar Gal, seorang mahasiswa di Nahariya. Sementara itu, Maor, 32, seorang pengemudi truk, menyatakan kekecewaannya karena militer berhenti tepat saat mereka dianggap meraih kemajuan signifikan.

Sentimen senada disampaikan Moshe Davidovich, kepala dewan regional Mateh Asher. "Perjanjian mungkin ditandatangani dengan dasi di Washington, tetapi harganya dibayar dengan darah dan kehancuran rumah di Israel utara. Penduduk utara bukanlah figuran dalam pertunjukan humas internasional," ketusnya kepada media lokal.

Tetap Bertahan di Libanon Selatan

Menanggapi kritik tersebut, Netanyahu menegaskan dirinya tidak memberikan konsesi besar di lapangan. Ia menolak dua syarat utama Hizbullah, penarikan penuh pasukan dan prinsip "ketenangan demi ketenangan".

"Kami tetap berada di Libanon di zona keamanan yang dipertebal. Kami ada di sana, dan kami tidak akan pergi," kata Netanyahu. Ia menegaskan bahwa Israel tetap memegang hak untuk mengambil tindakan membela diri kapan saja terhadap ancaman yang dianggap mendesak.

Manuver Trump dan Harapan Gencatan Senjata

Kesepakatan ini muncul saat negosiasi AS dengan Iran mulai goyah. Presiden Trump sebelumnya menyatakan ingin menciptakan "ruang bernapas" antara Israel dan Libanon. Padahal, jajak pendapat Channel 12 menunjukkan hampir 80% warga Israel justru mendukung serangan lanjutan untuk benar-benar melumpuhkan Hizbullah.

Meskipun kesepakatan tertulis telah berlaku, mayoritas warga Israel melihat gencatan senjata ini bukanlah akhir dari konflik, melainkan bukti nyata bahwa tujuan perang sekutu utama mereka di Washington tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional Israel. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya