Blokade AS Ditembus, Sejumlah Kapal Leluasa Lewati Selat Hormuz

Dhika Kusuma Winata
15/4/2026 12:05
Blokade AS Ditembus, Sejumlah Kapal Leluasa Lewati Selat Hormuz
ilustrasi(Anadolu)

 

Blokade militer yang diberlakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz mulai menunjukkan dinamika di lapangan. Data pelacakan maritim mencatat sejumlah kapal tetap melintasi jalur tersebut dari pelabuhan Iran sedangkan sebagian lainnya memilih berbalik arah di tengah situasi yang belum pasti.

Setidaknya tiga kapal tercatat berhasil melintasi Selat Hormuz setelah blokade resmi diberlakukan. Secara keseluruhan, ada tujuh kapal yang terhubung dengan Iran sempat melintas di jalur tersebut, berdasarkan data penyedia intelijen maritim Kpler.

Salah satu kapal, bulk carrier berbendera Liberia, Christianna, melanjutkan pelayaran usai membongkar muatan jagung di pelabuhan Bandar Imam Khomeini. Kapal itu melewati wilayah sekitar Pulau Larak beberapa jam setelah blokade dimulai. 

Kapal lain, tanker Elpis berbendera Komoro, juga tercatat melintasi selat setelah mengangkut puluhan ribu ton metanol dari pelabuhan Bushehr. Kapal lain yang melintas termasuk Argo Maris yang juga berlayar dari Iran.

Namun, tidak semua perjalanan berjalan mulus. Sejumlah kapal, termasuk tanker yang terkait dengan Tiongkok, terdeteksi berbalik arah setelah memasuki perairan Teluk Oman. Perubahan arah ini diduga dipicu oleh tekanan situasi keamanan serta ketidakpastian akibat blokade.

Di sisi lain, militer AS mengklaim operasinya tetap berjalan efektif. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan tidak ada kapal yang benar-benar lolos tanpa pengawasan.

“Tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade tanpa kendali. Enam kapal niaga memilih berbalik arah sesuai instruksi pasukan AS,” demikian pernyataan resmi mereka.

Washington menegaskan blokade diterapkan tanpa diskriminasi terhadap semua kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran, baik di Teluk Persia maupun Teluk Oman. Langkah ini diambil menyusul kegagalan perundingan damai dengan Teheran.

Meski demikian, situasi di lapangan tidak sepenuhnya jelas. Selama konflik berlangsung diperkirakan sinyal pelacakan kapal kerap mengalami gangguan bahkan manipulasi sehingga menyulitkan pemantauan secara akurat. (AFP/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya