Blokade AS di Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Rantai Pasok Global

Andhika Prasetyo
16/4/2026 07:04
Blokade AS di Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Rantai Pasok Global
ilustrasi(Anadolu)

Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan kekhawatiran serius terhadap gangguan rantai pasokan global akibat terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menegaskan bahwa dampak gangguan tersebut sudah mulai terasa, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Teluk.

“Tidak hanya minyak dan gas, tetapi juga komoditas seperti nafta dan helium mulai mengalami kekurangan,” ujarnya.

Georgieva menyebut bahwa situasi pada April berpotensi lebih buruk dibandingkan Maret. Hal ini disebabkan tidak adanya pengiriman baru setelah kapal tanker yang berangkat sebelum akhir Februari telah tiba di tujuan.

Artinya, dalam beberapa pekan ke depan, pasar global bisa mengalami tekanan pasokan yang lebih serius, terutama untuk bahan bakar dan energi.

Gangguan ini tidak lepas dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia.

Bahkan, Angkatan Laut AS dilaporkan telah memblokade lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran, meski kapal non-Iran masih diperbolehkan melintas dengan syarat tertentu.

Blokade AS ini berpotensi mengganggu aktivitas produksi dan ekspor energi dari kawasan tersebut, yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan energi global.

Sebagai langkah mitigasi, IMF mendorong negara-negara untuk mulai mengadopsi kebijakan penghematan energi. Beberapa opsi yang disarankan antara lain:

  • Menggratiskan transportasi umum
  • Mendorong kerja jarak jauh (remote working)
  • Mengurangi konsumsi energi berbasis fosil

Langkah-langkah ini dinilai penting untuk meredam dampak krisis pasokan energi yang berpotensi meluas dalam waktu dekat.

Jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga pada rantai pasokan global secara keseluruhan—termasuk industri manufaktur, logistik, hingga harga komoditas dunia.

Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya sistem ekonomi global terhadap gangguan geopolitik di jalur-jalur strategis energi. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya