Jeffrey Sachs: Negosiasi AS-Iran Lelucon, Akar Konflik Timteng Palestina

Wisnu Arto Subari
15/4/2026 07:00
Jeffrey Sachs: Negosiasi AS-Iran Lelucon, Akar Konflik Timteng Palestina
Jeffrey Sachs.(Youtube Judging Freedom)

PROFESOR Jeffrey Sachs, ekonom terkemuka dan pakar kebijakan publik dari Amerika Serikat, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancara terbaru di podcast Judging Freedom bersama Hakim Andrew Napolitano pada Senin, 13 April 2026.

Sachs menyebut sesi negosiasi maraton selama 21 jam yang berlangsung di Islamabad akhir pekan lalu antara Amerika Serikat dan Iran bukan sebagai upaya diplomasi yang serius, melainkan lelucon (farce). Menurutnya, pendekatan Trump yang menuntut kendali 100% tanpa kompromi telah menutup pintu bagi solusi damai.

Kegagalan Diplomasi di Islamabad

Dalam wawancara tersebut, Sachs menyoroti peran Wakil Presiden JD Vance yang dikirim ke Islamabad untuk menyampaikan daftar tuntutan sepihak kepada Iran. Sachs menilai tindakan ini sangat tidak rasional, mengingat Iran baru saja mengalami serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel yang menelan ribuan korban jiwa.

"Ini bukan negosiasi. Ini fantasi Donald Trump untuk memiliki kendali total atas dunia. Bahkan gencatan senjata dua minggu pun berada di luar kapasitas presiden yang paling tidak kompeten dalam sejarah Amerika ini," tegas Sachs.

Ambisi Netanyahu dan Sejarah Konflik

Sachs juga membedah akar konflik di Timur Tengah yang menurutnya berpusat pada penolakan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Ia merujuk pada strategi Clean Break yang diusung Netanyahu sejak 1996 yang bertujuan mengakhiri prinsip land for peace (tanah untuk perdamaian) dan menggantinya dengan upaya penggulingan pemerintahan di kawasan yang mendukung perjuangan Palestina.

Menurut Sachs, perang yang terjadi di Libia, Sudan, Suriah, hingga ketegangan dengan Iran saat ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan dominasi militer Israel di Timur Tengah. Ia menuduh AS menjadi kaki tangan dalam agenda tersebut selama puluhan tahun.

Krisis Kepemimpinan dan Delusi Messianik

Selain masalah geopolitik, Sachs menyoroti stabilitas mental Donald Trump. Ia mengomentari unggahan gambar AI yang menampilkan Trump sebagai sosok ilahi serta serangan verbal Trump terhadap Paus Leo yang sedang berkunjung ke Roma. Sachs menyebut perilaku ini sebagai bentuk narsisme malignan dan delusi mesianik yang sangat berbahaya bagi keamanan global.

Sachs memperingatkan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam krisis ekonomi dan energi terdalam akibat penutupan Selat Hormuz dan kegagalan diplomasi. Tanpa proses pemerintahan yang rasional dan akuntabel di Washington, ia memprediksi eskalasi konflik akan terus berlanjut.

Baca juga: Mengapa Dialog Iran-AS di Islamabad Gagal Ini Dua Penyebab Utamanya

Poin Utama Kritik Jeffrey Sachs
Negosiasi Islamabad dianggap sebagai tuntutan sepihak (diktat), bukan diplomasi.
Kebijakan luar negeri AS dianggap telah dibajak oleh kepentingan hegemonik Israel.
Ketiadaan proses interagensi dan konsultasi Kongres dalam pengambilan keputusan perang.
Kekhawatiran atas stabilitas mental presiden dalam menghadapi krisis nuklir dan energi.

Wawancara ini menutup rangkaian diskusi yang juga menghadirkan perspektif dari tokoh-tokoh seperti John Mearsheimer dan Chaz Freeman mengenai runtuhnya tatanan internasional di bawah kepemimpinan saat ini. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya