Inggris Serukan Libanon Masuk Kesepakatan Gencatan Senjata Timur Tengah

Media Indonesia
14/4/2026 14:01
Inggris Serukan Libanon Masuk Kesepakatan Gencatan Senjata Timur Tengah
Kondisi di Libanon usai serangan Israel.(Al Jazeera)

PERDANA Menteri Inggris, Keir Starmer, secara tegas menyerukan penghentian segera serangan militer Israel terhadap Libanon. Starmer mendesak agar Libanon dimasukkan sebagai poin krusial dalam kesepakatan gencatan senjata di kawasan Timur Tengah guna menghindari krisis kemanusiaan yang lebih dalam.

Dalam pernyataannya di hadapan Parlemen Inggris, Starmer menekankan bahwa meskipun pelucutan senjata Hizbullah merupakan keharusan, tindakan militer Israel saat ini dianggap tidak tepat secara kemanusiaan.

"Kami menyerukan agar Libanon segera dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata," ujar Starmer kepada Dewan. "Hizbullah harus melucuti senjatanya, tetapi saya juga yakin bahwa serangan Israel salah. Serangan tersebut memiliki konsekuensi kemanusiaan yang menghancurkan dan mendorong Libanon ke dalam krisis. Pengeboman harus dihentikan sekarang."

Kritik terhadap Pernyataan Donald Trump

Selain menyoroti situasi di Libanon, Starmer juga memberikan respons keras terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait ancaman terhadap Iran. Starmer menilai retorika yang menyinggung penghancuran peradaban adalah tindakan yang keliru.

"Sehubungan dengan pernyataan tentang menghancurkan peradaban, dapatkah saya benar-benar menjelaskan kepada Dewan ini? Itu salah. Ancaman terhadap warga sipil Iran dengan cara itu salah," tegasnya.

Kronologi Eskalasi di Libanon

Ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah mengalami eskalasi signifikan sejak awal Maret 2026. Berikut lini masa singkat perkembangan konflik tersebut:

Tanggal Peristiwa
2 Maret Hizbullah melanjutkan serangan rudal ke wilayah Israel di tengah memburuknya situasi regional.
Pasca 2 Maret Israel melancarkan serangan udara skala besar ke wilayah Libanon.
16 Maret Israel secara resmi mengumumkan dimulainya operasi darat di Libanon selatan.

Polemik Status Libanon dalam Gencatan Senjata

Situasi diplomatik saat ini masih diliputi ketidakpastian. Meskipun sempat ada laporan mengenai gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat yang membuat Hizbullah menangguhkan operasinya, serangan besar-besaran Israel ke Libanon memicu kembalinya kontak senjata.

Iran dan Pakistan, yang bertindak sebagai mediator dalam proses perdamaian, menyatakan bahwa serangan Israel ke Libanon merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata. Namun, Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa Libanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Kondisi ini menempatkan Libanon dalam posisi rentan. Tekanan internasional kini mengarah pada upaya memasukkan negara tersebut ke dalam kerangka perdamaian permanen guna menghentikan pertumpahan darah lebih lanjut. (Sputnik/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya