Perundingan Gagal, Timur Tengah Bersiap Hadapi Babak Baru Perang

Dhika Kusuma Winata
13/4/2026 21:34
Perundingan Gagal, Timur Tengah Bersiap Hadapi Babak Baru Perang
Foto satelit Pelabuhan Bandar Abbas di Selat Hormuz(Dok AFP/Planet ABS PBC)

KEGAGALAN perundingan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kecemasan luas di Timur Tengah. Di tengah situasi yang sudah tegang, kawasan itu kini bersiap menghadapi kemungkinan konflik lanjutan terlebih setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade laut di Selat Hormuz.

Setelah negosiasi di Islamabad, Wakil Presiden AS JD Vance mengakui perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran belum bisa dijembatani. Kedua delegasi pun meninggalkan Pakistan tanpa kesepakatan. Hal itu juga memunculkan ketidakpastian apakah gencatan senjata dua pekan masih akan bertahan.

Di berbagai penjuru kawasan, rasa cemas semakin terasa. Banyak warga menilai situasi bisa berubah sewaktu-waktu, sehingga mereka hanya bisa menjalani hari demi hari di tengah ketidakpastian.

“Situasi bisa berubah kapan saja. Kami hanya bisa menjalaninya hari per hari,” kata Aishah, seorang konsultan ekonomi di Doha.

Kegagalan perundingan sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi sebagian pihak. Perbedaan kepentingan yang tajam antara kedua negara dinilai menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan.

Di Israel, persepsi publik terhadap perang juga terbelah. Sebuah survei menunjukkan hanya sebagian kecil warga yang menilai konflik melawan Iran sebagai keberhasilan sedangkan lebih banyak yang menganggapnya gagal. Hanya 10% masyarakat Israel yang percaya perang melawan Iran merupakan keberhasilan signifikan sedangkan 32% lainnya menilai perang tersebut sebagai kegagalan.

Harapan damai di Iran pun cepat memudar. Warga mengaku situasi yang berkepanjangan telah memicu tekanan psikologis dan ketidakpastian.

“Saya sangat berharap mereka berdamai. Sudah lebih dari sebulan semua orang hidup dalam tekanan,” ujar Mahsa, pekerja di Teheran.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan di negara lain di kawasan Teluk. Seorang ibu rumah tangga asal Mesir yang tinggal di Abu Dhabi mengaku cemas serangan akan kembali terjadi dan berdampak pada keluarganya.

“Saya khawatir serangan akan kembali dan membuat kami tegang lagi,” katanya.

Ketegangan kian meningkat setelah Trump memerintahkan blokade laut di Selat Hormuz dengan ancaman akan mencegat kapal yang bertransaksi dengan Iran. Langkah itu dinilai dapat mempersempit ruang ekonomi Teheran tetapi juga meningkatkan risiko konfrontasi langsung.

Sementara itu di Libanon, situasi bahkan tidak pernah benar-benar tenang. Seorang dokter gigi di Libanon, Kamal Qutaish, menggambarkan negaranya sebagai arena konflik global. Dia khawatir dampak kegagalan diplomasi tidak hanya dirasakan secara lokal tetapi juga secara internasional.

“Jika negosiasi gagal, dampaknya bukan hanya untuk kami, tapi seluruh dunia. Hanya orang gila yang tidak merasa takut,” ujarnya. (AFP/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya