Perundingan AS-Iran di Islamabad Gagal, Krisis Energi Global Terancam Berlanjut

Khoerun Nadif Rahmat
12/4/2026 20:03
Perundingan AS-Iran di Islamabad Gagal, Krisis Energi Global Terancam Berlanjut
Area terdampak konflik Timur Tengah, perang AS-Israel vs Iran.(Dok. Brittanica)

PERUNDINGAN maraton selama 21 jam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah. Fakta itu membuat krisis energi global semakin terancam berlanjut.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Broto Wardoyo, menilai kebuntuan itu menunjukkan bahwa kedua belah pihak belum melihat keuntungan nyata dari kesepakatan damai. Ia juga menggarisbawahi kelemahan fundamental dalam negosiasi di Islamabad yang tidak melibatkan aktor-aktor kunci lainnya di kawasan.

Broto berpendapat bahwa keterlibatan pihak-pihak seperti Israel, negara-negara Arab Teluk yang menjadi sasaran serangan Iran, hingga proksi Iran seperti Hizbullah, sangat krusial karena mereka termasuk dalam poin-poin tuntutan Iran.

Jika pihak-pihak tersebut tetap diabaikan, Broto melihat Iran dan AS harus segera memoderasi kembali tuntutan mereka agar perundingan di masa depan memiliki peluang. 

Ia memperingatkan bahwa tanpa pelibatan menyeluruh, dampak yang muncul akan sangat berisiko bagi kawasan dan dunia.

"Artinya sebenarnya kedua pihak belum melihat keuntungan dari kesepakatan damai. Meski harus dicatat juga bahwa negosiasi seharusnya melibatkan seluruh pihak yang terlibat," kata Broto.

Lebih lanjut, Broto memaparkan dua dampak utama dari kegagalan diplomasi ini. Pertama, setiap gencatan senjata yang ada akan menjadi sangat rapuh dan rentan kolaps sewaktu-waktu.

"Kedua, konsekuensi yang mengikutinya, penggunaan kekerasan atau tekanan diplomatik seperti penutupan Selat Hormuz oleh Iran dapat berlanjut. Dan jika hal tersebut terjadi maka krisis harga energi global akan berlanjut," sebutnya.

Jika skenario terburuk itu terjadi, stabilitas ekonomi dunia akan terganggu karena krisis harga energi global dipastikan bakal berlanjut.

Kegagalan itu dipicu oleh aksi saling tuding, di mana Teheran menilai Washington tidak dapat dipercaya, sementara AS bersikukuh menuntut komitmen tegas terkait penghentian program nuklir Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan bahwa delegasi Teheran sebenarnya telah mengajukan sejumlah inisiatif konstruktif selama proses negosiasi.

Namun, ia menyayangkan sikap delegasi Amerika Serikat yang dianggap gagal membangun kepercayaan dalam putaran negosiasi tersebut.

"Rekan-rekan saya dalam delegasi Iran mengajukan inisiatif konstruktif tetapi pada akhirnya pihak lain tidak mampu mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini," tegas Ghalibaf melalui akun resminya.

Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, memilih meninggalkan Islamabad setelah menyampaikan posisi terakhir Washington. Vance menegaskan bahwa AS memerlukan jaminan konkret dari Iran mengenai aktivitas nuklirnya.

"Fakta sederhananya adalah kami perlu melihat komitmen yang jelas bahwa mereka tidak akan mengupayakan senjata nuklir dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya," ujar Vance. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya