Selat Hormuz dan Stabilitas Global Jadi Taruhan dalam Gencatan Senjata Iran-AS

Ferdian Ananda Majni
11/4/2026 10:54
Selat Hormuz dan Stabilitas Global Jadi Taruhan dalam Gencatan Senjata Iran-AS
ilustrasi(Antara)

Sejumlah pemimpin dunia dari kawasan Eropa dan Asia terus menyerukan penyelesaian konflik Timur Tengah melalui jalur diplomasi, menjelang rencana pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan. Seruan ini muncul di tengah upaya internasional untuk menjaga momentum gencatan senjata sementara yang telah dicapai.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin dari Prancis, Italia, Jerman, Inggris, serta sejumlah negara lain seperti Spanyol, Belanda, Jepang, Kanada, dan Australia, bersama pimpinan Komisi Eropa dan Dewan Eropa, menyatakan dukungan terhadap langkah diplomatik guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan. Mereka mengapresiasi peran Pakistan beserta mitra-mitranya dalam memfasilitasi tercapainya gencatan senjata sementara selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. 

Para pemimpin menekankan bahwa langkah berikutnya harus mengarah pada penyelesaian konflik yang cepat, menyeluruh, dan berkelanjutan melalui negosiasi.

"Kami mendukung upaya diplomatik ini. Untuk tujuan ini, kami menjalin kontak erat dengan Amerika Serikat dan mitra lainnya. Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menerapkan gencatan senjata, termasuk di Libanon," demikian bunyi pernyataan tersebut dikutip Anadolu, Sabtu (11/4).

Selain itu, mereka juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap warga sipil di Iran serta menjaga stabilitas kawasan. 

Para pemimpin memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan damai dapat memicu krisis energi global yang serius, mengingat peran strategis kawasan tersebut dalam pasokan energi dunia. Pernyataan itu turut menegaskan komitmen untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak global.

Sebelumnya, Pakistan bersama sejumlah negara seperti Turki, Tiongkok, Arab Saudi, dan Mesir berhasil mendorong tercapainya gencatan senjata sementara antara Washington dan Teheran, sekitar 40 hari setelah konflik bersenjata pecah pada 28 Februari.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat melanjutkan dialog melalui pertemuan di Islamabad guna membahas peluang perdamaian jangka panjang. 

Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Bagher Qalibaf. Pembicaraan yang dikenal sebagai Pembicaraan Islamabad ini digelar setelah hampir 39 hari konflik yang menewaskan lebih dari 3.000 warga Iran serta menyebabkan sedikitnya 13 tentara AS tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. 

Situasi tersebut semakin menegaskan urgensi penyelesaian damai melalui jalur diplomasi internasional. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya