Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PELUANG gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bersama Israel dinilai berisiko besar gagal sejak awal, terutama jika operasi militer terus berlangsung di luar cakupan kesepakatan.
Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran (UNPAD), Teuku Rezasyah, menyatakan peluang gencatan senjata layu sebelum berkembang cukup besar.
"Peluang untuk layu sebelum berkembang cukup besar. Mengingat Israel merasa dirinya tak diajak bicara, dan tiba-tiba Presiden Donald Trump mengakomodir 10 tuntutan Iran," kata Rezasyah dihubungi Media Indonesia, Kamis (9/4).
Menurutnya, kondisi tersebut memicu ketersinggungan di pihak Israel yang kemudian merespons dengan tindakan militer.
"Karena itulah Israel tersinggung dan menyerang Libanon Selatan secara membabi buta," sebutnya.
Rezasyah juga menyoroti potensi eskalasi konflik yang lebih luas apabila situasi terus memburuk, terutama jika Libanon tetap menjadi target serangan.
Ia menilai Iran tidak sekadar melontarkan ancaman, melainkan siap mengambil langkah nyata.
"Iran tidak main-main dengan ancamannya," ucapnya.
Menurutnya, Iran saat ini berada dalam posisi militer yang relatif lebih unggul dibandingkan Israel, sementara dukungan militer negara-negara Timur Tengah terhadap Israel juga dinilai semakin menurun.
"Selain sudah unggul secara militer atas Israel, mayoritas negara di Timur Tengah tak berani lagi mendukung Israel secara militer," sebutnya.
Rezasyah menambahkan bahwa keterbatasan penggunaan basis militer Amerika Serikat di kawasan turut mempersempit ruang gerak Washington.
"Juga banyak basis militer AS tak bisa digunakan lagi," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, ia memperingatkan bahwa eskalasi dapat meningkat drastis jika serangan terhadap Libanon terus berlanjut.
"Karena itu, jika Libanon terus diserang, maka pembalasan Iran atas Israel akan semakin dahsyat," paparnya
Lebih lanjut, Rezasyah menjelaskan perbedaan mendasar dalam memaknai gencatan senjata antara Iran dan Israel. Bagi Iran, kesepakatan damai mencakup wilayah konflik yang lebih luas.
"Bagi Iran, sebuah gencatan senjata adalah mencakup Libanon, Gaza, dan Tepi Barat," lanjutnya.
Sementara itu, Israel memiliki pendekatan berbeda dengan fokus pada kontrol wilayah yang telah dikuasai.
"Bagi Israel, walaupun perbatasan Israel-Libanon tidak panjang, namun tiap jengkal tanah yang telah direbut tersebut, harus dipertahankan secara militer dengan kekuatan penuh," pungkasnya.
Perbedaan persepsi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama yang membuat masa depan gencatan senjata semakin tidak pasti, sekaligus meningkatkan risiko konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas. (Z-10)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Pemerintahan Trump mengusulkan Visa Kartu Emas US$5 juta dan tarif untuk tekan utang AS senilai US$39 triliun. Simak analisis kelayakan dan dampaknya.
PERANG AS-Israel melawan Iran telah membuka aib rezim Donald Trump yang sesungguhnya.
Gedung Putih telah menyetujui setiap pertemuan antara Raja Charles III dan Trump akan berlangsung tanpa kamera, demikian dilaporkan surat kabar tersebut pada Senin (27/4).
Presiden AS Donald Trump merespons insiden penyerangan di Washington Hilton. Ia membantah isi manifesto pelaku dan meminta acara segera dijadwalkan ulang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved