Israel Tersinggung, Gencatan Senjata Iran-AS di Ujung Tanduk

Ferdian Ananda Majni
09/4/2026 20:43
Israel Tersinggung, Gencatan Senjata Iran-AS di Ujung Tanduk
Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran (UNPAD), Teuku Rezasyah, menyatakan peluang gencatan senjata Iran-AS dan Israel terancam gagal.(Dok. BBC)

PELUANG gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bersama Israel dinilai berisiko besar gagal sejak awal, terutama jika operasi militer terus berlangsung di luar cakupan kesepakatan.

Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran (UNPAD), Teuku Rezasyah, menyatakan peluang gencatan senjata layu sebelum berkembang cukup besar.

"Peluang untuk layu sebelum berkembang cukup besar. Mengingat Israel merasa dirinya tak diajak bicara, dan tiba-tiba Presiden Donald Trump mengakomodir 10 tuntutan Iran," kata Rezasyah dihubungi Media Indonesia, Kamis (9/4).

Menurutnya, kondisi tersebut memicu ketersinggungan di pihak Israel yang kemudian merespons dengan tindakan militer.

"Karena itulah Israel tersinggung dan menyerang Libanon Selatan secara membabi buta," sebutnya.

Rezasyah juga menyoroti potensi eskalasi konflik yang lebih luas apabila situasi terus memburuk, terutama jika Libanon tetap menjadi target serangan.

Ia menilai Iran tidak sekadar melontarkan ancaman, melainkan siap mengambil langkah nyata.

"Iran tidak main-main dengan ancamannya," ucapnya.

Menurutnya, Iran saat ini berada dalam posisi militer yang relatif lebih unggul dibandingkan Israel, sementara dukungan militer negara-negara Timur Tengah terhadap Israel juga dinilai semakin menurun.

"Selain sudah unggul secara militer atas Israel, mayoritas negara di Timur Tengah tak berani lagi mendukung Israel secara militer," sebutnya.

Rezasyah menambahkan bahwa keterbatasan penggunaan basis militer Amerika Serikat di kawasan turut mempersempit ruang gerak Washington.

"Juga banyak basis militer AS tak bisa digunakan lagi," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, ia memperingatkan bahwa eskalasi dapat meningkat drastis jika serangan terhadap Libanon terus berlanjut.

"Karena itu, jika Libanon terus diserang, maka pembalasan Iran atas Israel akan semakin dahsyat," paparnya

Lebih lanjut, Rezasyah menjelaskan perbedaan mendasar dalam memaknai gencatan senjata antara Iran dan Israel. Bagi Iran, kesepakatan damai mencakup wilayah konflik yang lebih luas.

"Bagi Iran, sebuah gencatan senjata adalah mencakup Libanon, Gaza, dan Tepi Barat," lanjutnya.

Sementara itu, Israel memiliki pendekatan berbeda dengan fokus pada kontrol wilayah yang telah dikuasai.

"Bagi Israel, walaupun perbatasan Israel-Libanon tidak panjang, namun tiap jengkal tanah yang telah direbut tersebut, harus dipertahankan secara militer dengan kekuatan penuh," pungkasnya.

Perbedaan persepsi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama yang membuat masa depan gencatan senjata semakin tidak pasti, sekaligus meningkatkan risiko konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya