Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal usai Serangan Israel

Ferdian Ananda Majni
09/4/2026 09:18
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal usai Serangan Israel
Ilustrasi.(Al Jazeera)

GENCATAN senjata sementara selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat berada dalam situasi genting pada Rabu (8/4), setelah Teheran mengisyaratkan kemungkinan kembali ke konflik di tengah serangan besar-besaran Israel ke wilayah Libanon.

Baik Washington maupun Teheran sebelumnya sama-sama mengeklaim keberhasilan setelah menyepakati penghentian sementara permusuhan dan memulai jalur negosiasi guna mengakhiri konflik yang telah menewaskan ribuan orang di Timur Tengah serta mengguncang ekonomi global.

Namun, ketegangan kembali meningkat ketika Israel melancarkan salah satu serangan paling intens ke Libanon, termasuk di kawasan padat penduduk di ibu kota Beirut. Serangan ini terjadi sejak kelompok yang didukung Iran, Hizbullah, terlibat dalam konflik pada awal Maret.

Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan sedikitnya 182 orang tewas dan hampir 900 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan pada hari tersebut.

Israel menegaskan bahwa operasinya terhadap Hizbullah tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata antara AS dan Iran. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Wakil Presiden AS JD Vance, yang dijadwalkan memimpin pembicaraan dengan Teheran di Pakistan dalam waktu dekat.

"Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal karena Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka, dan yang tidak pernah sekali pun dikatakan Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka," katanya dikutip Al Jazeera, Kamis (9/4).

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengisyaratkan ancaman terhadap kelangsungan kesepakatan. Ia menulis di platform X bahwa dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi telah dilanggar, sehingga pembicaraan lanjutan menjadi tidak masuk akal.

Seorang pejabat senior AS juga menyebut bahwa rencana 10 poin yang diajukan Iran tidak sepenuhnya sejalan dengan kerangka yang disetujui Gedung Putih, menambah ketidakpastian terhadap masa depan gencatan senjata.

Di Libanon, situasi kemanusiaan memburuk. Kepala HAM PBB Volker Turk menyebut skala kekerasan sebagai mengerikan. Serangan tanpa peringatan di berbagai wilayah Beirut memicu kepanikan warga.

"Orang-orang mulai berlari ke kiri dan ke kanan, dan asap mengepul," kata Ali Younes, seorang warga yang berada di dekat Corniche al-Mazraa saat serangan terjadi.

Sejak eskalasi konflik bulan lalu, lebih dari 1.700 orang dilaporkan tewas di Libanon akibat serangan udara dan operasi darat Israel.

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan akan memenuhi tugas mereka dan memberikan tanggapan jika serangan Israel tidak dihentikan. Hezbollah juga menegaskan memiliki hak untuk melakukan pembalasan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya tetap siap menghadapi Iran dan menegaskan masih ada tujuan yang harus diselesaikan, termasuk upaya melucuti senjata Hizbullah.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pasukan Amerika tetap dalam kondisi siaga jika konflik kembali meningkat.

Pembicaraan Berisiko Tinggi

Ketegangan meningkat menjelang pembicaraan penting yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Jumat. 

Sebelumnya, Iran sempat menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah tekanan dari Presiden AS Donald Trump, memungkinkan kapal-kapal melintas pada Rabu.

Namun, laporan terbaru menyebut jalur strategis tersebut kembali ditutup pada hari yang sama, memicu reaksi keras dari Gedung Putih.

"Penutupan apa pun sama sekali tidak dapat diterima," tegas Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator, mendesak semua pihak untuk menahan diri. Ia menyerukan melalui X agar semua pihak menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua minggu demi memberi ruang bagi diplomasi.

Di tengah situasi tersebut, media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan rudal dan drone baru ke negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS sebagai respons atas serangan terhadap fasilitas energinya.

Kuwait melaporkan kerusakan pada fasilitas minyak, pembangkit listrik, dan instalasi desalinasi akibat gelombang serangan intensif. 

Uni Emirat Arab menyebut telah menjadi target 17 rudal dan 35 drone, sementara Arab Saudi mengaku berhasil mencegat sembilan drone. Bahrain juga melaporkan serangan di ibu kota Manama.

Harapan Nyata

Sejumlah pemimpin Eropa, bersama Kanada dan Inggris, menyerukan pengakhiran perang yang cepat dan langgeng melalui jalur negosiasi. Sementara itu, Paus Leo menyebut momen ini sebagai harapan nyata.

Meski demikian, perbedaan mendasar antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi hambatan utama. Teheran tetap bersikukuh pada isu pengayaan uranium, pencabutan sanksi ekonomi, serta kendali atas Selat Hormuz yakni jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Sebaliknya, AS dan Israel menyatakan bahwa operasi militer mereka bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar global sempat merespons positif. Harga minyak turun hingga 15%, sementara harga gas alam di Eropa merosot sekitar 20% setelah pengumuman gencatan senjata.

Trump menyatakan bahwa Washington telah sudah sangat jauh dalam upaya mencapai kesepakatan jangka panjang, merujuk pada proposal 10 poin dari Iran yang disebutnya dapat dilaksanakan.

Namun, Ghalibaf menyoroti tiga dugaan pelanggaran oleh AS, yakni serangan berkelanjutan di Libanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan terhadap hak pengayaan uranium, yang semakin memperlemah prospek keberlanjutan gencatan senjata.

Di Teheran, suasana kota tampak lebih lengang dari biasanya. Banyak toko tutup setelah malam yang dipenuhi kekhawatiran akan kemungkinan serangan besar.

"Semua orang merasa tenang sekarang," ujar Sakineh Mohammadi, seorang ibu rumah tangga berusia 50 tahun. Ia menambahkan bahwa dirinya merasa bangga terhadap negaranya.

"Kami lebih santai," pungkasnya. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya