Paus Leo XIV Kecam Ancaman Donald Trump Terhadap Iran: Tidak Bisa Diterima

Basuki Eka Purnama
08/4/2026 11:29
Paus Leo XIV Kecam Ancaman Donald Trump Terhadap Iran: Tidak Bisa Diterima
Paus Leo XIV(AFP/Alberto PIZZOLI)

PEMIMPIN tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, melontarkan kritik tajam terhadap eskalasi retorika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan Iran. Paus menegaskan bahwa ancaman tersebut tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga merupakan pelanggaran moral yang serius.

"Hari ini, seperti yang kita semua ketahui, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima!" tegas Paus Leo XIV kepada awak media di luar Roma, Selasa (7/4), sebagaimana dirilis oleh Takhta Suci.

Paus asal AS tersebut menyoroti bahwa konflik yang terus membara di Timur Tengah tidak akan memberikan solusi jangka panjang. Sebaliknya, peperangan hanya akan memicu krisis ekonomi dan energi global yang berdampak luas bagi masyarakat dunia.

Dimensi Moral dan Kemanusiaan

Dalam pernyataannya, Paus Leo XIV menekankan bahwa isu ini melampaui sekadar perdebatan politik. Ia mengingatkan dunia akan nasib warga sipil yang paling rentan jika ancaman militer tersebut benar-benar direalisasikan.

"Tentu ada masalah hukum internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini adalah pertanyaan moral yang menyangkut kebaikan rakyat secara keseluruhan," ujarnya.

Ia secara khusus meminta semua pihak mengingat nasib anak-anak, orang tua, dan orang sakit yang selalu menjadi korban utama dalam setiap peperangan.

Paus juga memperingatkan bahwa serangan yang menargetkan infrastruktur sipil adalah bentuk pelanggaran hukum internasional yang nyata.

"Itu juga merupakan tanda kebencian, perpecahan, dan kehancuran yang mampu dilakukan manusia," tambahnya sembari mendesak para pemimpin dunia untuk kembali ke meja perundingan.

Eskalasi Ketegangan AS-Iran

Ketegangan ini memuncak setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Teheran. Trump mengancam akan menghancurkan "seluruh peradaban" Iran dan mengebom infrastruktur vital seperti pembangkit listrik serta jembatan jika Iran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, bahkan memperingatkan dengan bahasa yang lebih ekstrem, menyatakan bahwa Iran bisa "kembali ke Zaman Batu" jika gagal mencapai kesepakatan sesuai tenggat waktu yang ditentukan.

Berikut adalah ringkasan poin-poin ketegangan dan ultimatum yang terjadi:

Aspek Detail Informasi
Pemicu Awal Serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Tenggat Waktu (Deadline) Selasa, pukul 20.00 EDT atau Rabu, pukul 07.00 WIB.
Ancaman AS Pengeboman pembangkit listrik, jembatan, dan penghancuran peradaban.
Tuntutan AS Pembukaan Selat Hormuz dan kesepakatan baru (perubahan kekuasaan).
Dampak Global Krisis ekonomi, krisis energi, dan ancaman terhadap hukum internasional.

Konflik ini awalnya dipicu oleh klaim AS dan Israel mengenai ancaman program nuklir Iran. Namun, seiring berjalannya waktu, kedua negara tersebut secara terbuka menyatakan bahwa tujuan akhir dari tekanan militer ini adalah untuk mendorong perubahan kekuasaan di Teheran. Hingga saat ini, situasi di Timur Tengah tetap berada dalam status siaga tinggi menunggu respons final dari pihak Iran. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya