Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI ketegangan di Teluk Persia mencapai titik didih baru. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman keras untuk menghancurkan Iran "dalam satu malam" jika Teheran tidak menyepakati perjanjian untuk membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa malam waktu setempat.
Selat Hormuz, jalur air sempit yang menjadi urat nadi bagi seperlima pengiriman energi dunia, kini menjadi titik api global. Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal-kapal di selat tersebut sebagai balasan atas serangan udara AS dan Israel. Akibat gangguan ini, harga minyak dunia melonjak tajam, memicu kekhawatiran krisis energi global.
Meski retorika militer AS memanas, sejumlah negara Asia, yang ekonominya sangat bergantung pada energi dari Teluk, justru memilih jalur diplomasi langsung dengan Teheran. Filipina menjadi negara terbaru yang berhasil mengamankan kesepakatan jalur aman bagi kapal-kapal mereka.
Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro, mengonfirmasi pejabat Iran telah menjamin "lintasan yang aman, tanpa hambatan, dan cepat" bagi kapal berbendera Filipina. Kesepakatan ini dicapai setelah percakapan telepon produktif dengan pihak Teheran pekan lalu.
Langkah Filipina ini menarik perhatian para pengamat. Sebagai sekutu dekat AS, keberhasilan Filipina bernegosiasi menunjukkan fleksibilitas Iran dalam memetakan musuh.
"Iran tampaknya mulai membedakan antara aliansi suatu negara dengan partisipasi aktif negara tersebut dalam konflik," ujar Roger Fouquet dari Institut Studi Energi Universitas Nasional Singapura.
Filipina bukan satu-satunya. Pakistan telah mengumumkan Iran mengizinkan 20 kapalnya melintas sejak akhir Maret lalu. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyambut baik langkah ini sebagai gestur konstruktif.
"Dialog, diplomasi, dan langkah-langkah pembangunan kepercayaan seperti ini adalah satu-satunya jalan ke depan," tegas Ishaq Dar.
India juga mendapatkan jaminan serupa. Kedutaan Besar Iran di India bahkan mengunggah pesan penenang di media sosial X dengan menyatakan, "Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, jangan khawatir."
Sementara itu, Tiongkok sebagai pembeli minyak terbesar Iran, mengonfirmasi tiga kapalnya telah melintasi selat tersebut setelah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Beijing, bersama Pakistan, kini berupaya menjadi mediator untuk menengahi gencatan senjata antara AS dan Iran.
Meski diplomasi membuahkan hasil, para ahli mengingatkan bahwa kesepakatan ini masih bersifat rapuh. Muncul pertanyaan apakah jaminan ini berlaku untuk seluruh kapal atau hanya kapal tertentu. Selain itu, belum jelas apakah ada "biaya" atau syarat khusus yang harus dibayar negara-negara tersebut kepada Iran untuk mendapatkan izin melintas.
Dimitris Maniatis dari konsultan pelayaran Marisks menyoroti masalah bendera kapal. Banyak tanker saat ini menggunakan bendera Panama atau Kepulauan Marshall, yang hingga kini belum mendapatkan jaminan keamanan dari Iran.
Meskipun kesepakatan ini merupakan terobosan diplomatik, pengamat energi Roc Shi menekankan bahwa ini bukanlah solusi permanen. "Masih belum diketahui seberapa lama jaminan ini akan bertahan dan bagaimana operasi militer di kawasan itu akan memengaruhinya," pungkasnya. (BBC/Z-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved