Trump Ancam Iran "Satu Malam", Negara Asia Pilih Jalur Diplomasi Amankan Selat Hormuz

Thalatie K Yani
07/4/2026 10:36
Trump Ancam Iran
Ilustrasi(AFP)

ESKALASI ketegangan di Teluk Persia mencapai titik didih baru. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman keras untuk menghancurkan Iran "dalam satu malam" jika Teheran tidak menyepakati perjanjian untuk membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa malam waktu setempat.

Selat Hormuz, jalur air sempit yang menjadi urat nadi bagi seperlima pengiriman energi dunia, kini menjadi titik api global. Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal-kapal di selat tersebut sebagai balasan atas serangan udara AS dan Israel. Akibat gangguan ini, harga minyak dunia melonjak tajam, memicu kekhawatiran krisis energi global.

Diplomasi "Pintu Belakang" Negara Asia

Meski retorika militer AS memanas, sejumlah negara Asia, yang ekonominya sangat bergantung pada energi dari Teluk, justru memilih jalur diplomasi langsung dengan Teheran. Filipina menjadi negara terbaru yang berhasil mengamankan kesepakatan jalur aman bagi kapal-kapal mereka.

Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro, mengonfirmasi pejabat Iran telah menjamin "lintasan yang aman, tanpa hambatan, dan cepat" bagi kapal berbendera Filipina. Kesepakatan ini dicapai setelah percakapan telepon produktif dengan pihak Teheran pekan lalu.

Langkah Filipina ini menarik perhatian para pengamat. Sebagai sekutu dekat AS, keberhasilan Filipina bernegosiasi menunjukkan fleksibilitas Iran dalam memetakan musuh.

"Iran tampaknya mulai membedakan antara aliansi suatu negara dengan partisipasi aktif negara tersebut dalam konflik," ujar Roger Fouquet dari Institut Studi Energi Universitas Nasional Singapura.

Pakistan, India, hingga Tiongkok Amankan Jalur

Filipina bukan satu-satunya. Pakistan telah mengumumkan Iran mengizinkan 20 kapalnya melintas sejak akhir Maret lalu. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyambut baik langkah ini sebagai gestur konstruktif.

"Dialog, diplomasi, dan langkah-langkah pembangunan kepercayaan seperti ini adalah satu-satunya jalan ke depan," tegas Ishaq Dar.

India juga mendapatkan jaminan serupa. Kedutaan Besar Iran di India bahkan mengunggah pesan penenang di media sosial X dengan menyatakan, "Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, jangan khawatir."

Sementara itu, Tiongkok sebagai pembeli minyak terbesar Iran, mengonfirmasi tiga kapalnya telah melintasi selat tersebut setelah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Beijing, bersama Pakistan, kini berupaya menjadi mediator untuk menengahi gencatan senjata antara AS dan Iran.

Tantangan dan Ketidakpastian Kedepan

Meski diplomasi membuahkan hasil, para ahli mengingatkan bahwa kesepakatan ini masih bersifat rapuh. Muncul pertanyaan apakah jaminan ini berlaku untuk seluruh kapal atau hanya kapal tertentu. Selain itu, belum jelas apakah ada "biaya" atau syarat khusus yang harus dibayar negara-negara tersebut kepada Iran untuk mendapatkan izin melintas.

Dimitris Maniatis dari konsultan pelayaran Marisks menyoroti masalah bendera kapal. Banyak tanker saat ini menggunakan bendera Panama atau Kepulauan Marshall, yang hingga kini belum mendapatkan jaminan keamanan dari Iran.

Meskipun kesepakatan ini merupakan terobosan diplomatik, pengamat energi Roc Shi menekankan bahwa ini bukanlah solusi permanen. "Masih belum diketahui seberapa lama jaminan ini akan bertahan dan bagaimana operasi militer di kawasan itu akan memengaruhinya," pungkasnya. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya